Takhta Nirwana

     Sannaha terbangun dengan tulang belulang terasa remuk dan sisa tenaga yang tidak berguna. Disebuah gua dipinggir hutan misterius, dan ditunggui raja perampok yaitu Purandara yang mempunyai julukan Elang Merah. Purandara lah yang menyelamatkan nyawanya dari keganasan Yaksapurusa, musuh kerajaan nomor satu dan sekaligus pembunuh guru Sannaha yaitu Candrabhaga. Setelah terbangun, dia pergi dari gua dengan sisa tenaga yang dimilikinya sekarang. Ditengah perjalanan Sannaha ditangkap oleh beberapa lelaki Thabhug karena ketahuan telah  mengintip upacara massal menjelang petang yang dilakukan kaum Thabhug.

     Setelah beberapa bulan terjebak di Thabhug Sannaha akhirnya bisa lolos dari kaum Thabhug dengan bantuan Purandara lagi. Mereka mencari jalan  keluar dari hutan-hutan itu. Tetapi ditengah perjalanan mereka terpencar. Purandara tak tahu kemana arah jalan yang di lewati Sannaha, tetapi dia tahu kemana tujuan Sannaha, yaitu ke istana Surawisesa,Kawali.

    Purandara akhirnya menemukan suatu daerah yaitu Kandang Wesi. Dia di izinkan tinggal dirumah sepasang kakek nenek yang bernama Ki Janmayaksa dan Nay Gandhari. Dia bekerja membantu Ki Janmayaksa membuat senjata. Ki Janmayaksa bercerita bahwa belakangan ini para senopati kerajaan menyebar keberbagai daerah termasuk Kandang Wesi untuk mencari calon prajurit andal. Disitulah muncul ide cerdik di kepala Purandara. Dia ingin jadi prajurit tetapi itu hanya caranya saja supaya bisa bertemu dengan Dyah Pitaloka atau dengan nama samarannya Sannaha.

    Setelah mangikuti uji keprajuritan akhirnya Purandara berhasil menjadi prajurit pasukan khusus untuk melindungi Dyah Pitaloka dan Niskalaswatu adiknya. Dan dia menjadi pemimpin pasukan khusus tersebut.

    Sannaha telah kembali ke istana dan ingin menghadap sang raja, bahwa dia akan mengirim seribu pasukan untuk menyerang Yaksapurusa karena ingin balas dendam atas kematian gurunya. Tetapi raja menolak,karena raja tidak suka dengan ajaran Candrabhaga dan tidak suka jika anaknya terus membela gurunya itu. Tetapi Sannaha tetap bersikukuh dengan keputusannya, dia akan membuat rencana yang begitu mencengangkan seluruh kerajaan.

     Masa lalu. Ajaran mulia yang dibawa Candrabhaga dari Pase dibenci oleh sebagian kalangan kerajaan,karena ajaran ini meyakinkan penganutnya bahwa Tuhan adalah tunggal dan tak berbagi dengan tuhan-tuhan yang lain. Ajaran ini juga menghapus kasta,sebab derajat semua manusia sama.

    Setelah beribadah Candrabhaga didatangi oleh tiga sosok berpakaian serba hitam dan bercadar,mereka adalah murid Yaksapurusa. Lantas mereka bertarung habis-habisan. Candrabhaga lawan tiga orang sekaligus. Nasib baik tak berpihak kepadanya, Candrabhaga terkena beberapa tusukan pedang lawan hingga menembus punggungnya dan memaku tubuh sang Guru di dinding kayu.

     Ketika suatu hari, tiba-tiba Purandara ketahuan jika ia anak kandung Yaksapurusa, akhirnya dia ditangkap, dihukum dan dikurung di penjara bawah tanah dikerajaan tersebut. Suatu malam Purandara dibawa kabur oleh  seseorang yang memakai jubah hitam dan cadar,dia adalah Sannaha. Mereka keluar istana menggunakan kuda. Kemudian berhenti di tepi sungai. Mereka berbincang sebagai tanda perpisahan. Perbincangan yang membuat hati sakit bukan main. Setelah itu Sannaha pulang ke istana, dan seolah-olah bukan dia yang membawa kabur Purandara.

    Suatu hari raja berbicara kepada Sannaha mengenai Rajasanagara,Raja muda Wilwatikta tengah mencari permaisuri. Raja ingin Sannaha menjadi permaisuri Rajasanagara. Sannaha pun meng iya kan permintaan raja. Sebenarnya Sannaha tidak ingin itu terjadi tetapi dia telah menyusun rencana.

    Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang. Utusan Wilwatikta menyampaikan kabar bahwa Rajasanagara menginginkan Sannaha menjadi permaisurinya. Sannaha pun mulai beraksi,dia mengatakan kepada raja bahwa setengah dari waktu enam bulan sebelum berangkat ke Wilwatikta digunakan untuk pergi ke barat. Raja marah besar,dia telah dikalahkan oleh anaknya sendiri. Tetapi Sannaha tetap melakukannya. Dia dan rombongan besar prajurit benar-benar telah meninggalkan batas Kota Kawali. Mereka terus berjalan menuju barat untuk perang besar tersebut.