Suwung

SUWUNG
Bagian 1 : Irwan Rahardian

I.
Irwan seorang anak laki-laki mempunyai seorang ibu yang sangat membenci laki-laki sehingga membuatnya merasa terkutuk. Semakin lama Irwan merasa bahwa kebencian ibunya pada laki-laki semakin besar hingga puncaknya. Sehingga suatu hari ibunya pernah berkata kasar dan menampar Irwan. Padahal saat itu Irwan hanya melakukan kesalahan sederhana. Tak mengherankan, pikiran Irwan yang ke mana-mana tentang ibunya itulah yang menemaninya hingga bertahun-tahun. Hingga sekarang, saat berumur dua puluh lima tahun dia menikah dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa Nur Islamia. Ketika resepsi baru saja usai dia dan istrinya selesai lebih dulu lalu pamit dan mengajak sang istri untuk berjalan-jalan di sekitar rumah.

Pada beberapa saat Irwan merenung dan memikirkan ketika seorang laki-laki memutuskan menikah maka detik itu pula ada harapan tersimpan di pundaknya, ada pula kekhawatiran dari orang-orang tua mengenai kesiapan mereka berumah tangga, ada kegembiraan, dan mungkin ada juga keraguan akan kesanggupan dirinya. Ketika itu malam begitu panjang dan sekaligus begitu indah. Ketika mereka berpelukan lelaki itu menangis. Dia merasa rindu perasaan ini, perasaan dicintai yang menggebu-gebu, perasaan yang menghapus kesendirian, perasaan yang begitu sempurna yaitu perasaan cinta.

II.
Ketika Irwan masih berumur sepuluh tahun untuk pertama kalinya dia mendengar pertengkaran orang tuanya. Dan untuk pertama kalinya juga dia mendengar ibunya menangis begitu menyayat. Lalu ayahnya pun mulai melangkah meninggalkan ibunya dan pergi dari rumah. Dia tahu ayahnya tidak akan pergi selamanya, tapi dia tetap merasa sedih. Ketika Iwan sudah agak besar dan mengenal cerita wayang, dia menyamakan ibunya dengan Drupadi, sosok perempuan pendamping Yudhistira. Pada setiap malam ibunya akan bercerita sebelum Irwan tidur dan inilah satu dari sekian sedikit cerita yang Irwan ingat…yaitu cerita tentang seseorang yang mempunyai sifat iri hati dan juga pendendam. Terkadang Irwan merasa ibunya terlalu kuat untuk menjadi manusia, terlalu sempurna untuk menjadi seorang ibu.
Berbeda dengan ayahnya. Ayahnya adalah seorang tentara dengan pangkat entah apa, saat itu dia masih terlalu kecil untuk memperhatikan itu. Sebenarnya Irwan mempunyai kakak. Empat semuanya, tapi kakak pertama tak pernah bertemu karena meninggal ketika bayi dan itu adalah satu-satunya kakak perempuan Irwan. Lalu kakak yang keduanya, laki-laki yang dulu fi usir oleh ibunya dari rumah dan membuka usaha kerajinan kulit. Kakak kedua dan ketiga hanya berbeda setahun dan kini kakaknya sedang berada di sebuah sekolah yang mengharuskan siswanya untuk tinggal di asrama. Kini tinggal Irwan dan kakak keempatnya yang adalah tipikal orang yang suka menjawab pertanyaan sependek mungkin. Suatu saat, dia tidak mendapati kakak keempatnya di rumah.
Sejak itu Irwan lebih merasa menjadi anak tunggal daripada bungsu. Sampai akhirnya datang satu masa yang sudah di duganya. Ayah tidak pergi, tapi ibu yang pergi. Saat itu Irwan ikut ibunya meninggalkan rumah menuju ke kota Bandung.

III.
Pada suatu siang dia sudah menjalani sebuah akad nikkah sederhana yang hanya disaksikan oleh ibunda. Sejenak Irwan sempat bertanya pada istrinya adakah penyesalan dalam diri sang istri karena menikahinya yang tidak jelas keberadaan ayah dan kakak-kakaknya, namun istrinya menjawab bahwa dia menerima Irwan dengan apa adanya. Mendengar jawaban sang istri Irwan pun tersenyum, memeluk istrinya, dan menciumnya sekali lagi. Di malam pertama yang panjang itu mereka hanya saling bertukar cerita tentang masa lalu. Irwan juga bercerita bahwa dia pernah sekali ke kota kelahirannya yaitu Bogor untuk menangani suatu proyek. Namun, sebenarnya Irwan juga ingin mencari tahu keberadaan ayah dan saudara-saudaranya yang lain. Kemudian Irwan menutup ceritanya dengan ciuman di kening istrinya.

IV.
Lalu mereka berdua mencari tempat tinggal dan menemukannya di pinggir kota. Harga sewa sudah disepakati dan sesuai dengan anggarannya. Mereka berdua bersiap memulai hidup baru, dan Irwan merasakan sebuah tanggung jawab yang besar seiring dijejaknya rumah itu. Lalu pada hari pertama, Irwan bertemu dengan ibu separuh baya dan bertanya Siapakah Abah Anom itu?, lalu ibu itu bercerita tentang Abah Anom. Saat mendengar ibu itu bercerita, Irwan melirik ke arah istrinya, dan seolah mengerti mereka sepakat dalam telapati, hari ini juga harus menemui orang itu. Lalu Irwan menemukan sebuah rumah yang berdiri di sebuah dataran meninggi. Irwan pun menghampiri rumah itu dia mengetuk pintu, Irwan tahu istrinya sangat gelisah. Seseorang keluar dari samping, laki-laki bertubuh kecil. Irwan bertanya mengenai keberadaan Abah Anom, orang itu mengangguk dan mengajak mereka berjalan ke samping. Mereka mengikuti laki-laki kecil itu dan berjalan ke sebuah sudut. Istrinya memberi isyarat, sebuah pertanyaan kegelisahan kembali, entah kenapa rasa ini bisa ada. Seorang bapak berperut buncit, berkumis tipis, dan berkulit hitam, dengan baju batik halus dan celana komprang muncul di hadapan Irwan dan istrinya. Rupanya dia orang yang sangat berkuasa sekaligus percaya bahwa dia itu berkuasa. Lalu tuan rumah mempersilahkan Irwan dan istrinya untuk duduk. Dirumah itu Irwan dan bapak itu saling mengajukan pertanyaan dan juga jawaban. Ketika itu dari ruang dalam muncul seorang perempuan yang mungkin berusia sekitar akhir 20. Kemudian bapak itu memperkenalkan itu kepada Irwan dan istrinya. Kemudian bapak itu dan Irwan melanjutkan cerita mereka. Lalu bapak itu mulai mengatakan bahwa Irwan dan istrinya tidak cocok tinggal di rumah barunya. Beberapa saat kemudian Irwan mengira ini sudah saatnya dia pulang, tuan rumah mengizinkan dan mengantar hingga gerbang depan.

V.
Sudah berminggu-minggu dia dan istrinya tinggal di sana. Sampai pada suatu hari ketika dia mendengar berita lewat suara ibu-ibu yang bicara terlalu keras menembus jendela kamarnya bahwa babi-babi itu mulai didatangkan. Lalu istri Irwan masuk kamar dan mengeluh sakit saat buang air kecil. Setelah diperiksakan ke dokter ternyata hasilnya adalah istrinya sedang hamil. Pada suatu malam Irwan mengungkapkan kegelisahannya. Kabarnya, peternakan babi didesa itu akan menjadi cukup besar dan tak jelas ke mana saja dagingnya dipasarkan. Suatu saat Irwan mengunjungi peternakan babi itu dan di sana Irwan bertemu seorang laki-laki yang mengaku sebagai manajer tempat itu. Sosok laki-laki ini memang menyenangkan dan kelakarnya tidak kering. Dia adalah tipikal orang yang cocok untuk menjadi pengusaha atau minimal menjadi marketing. Lalu mereka berkeliling, dan Irwan mengikuti juga memandangi kandang-kandang kosong itu. Sambil berjalan laki-laki itu terus bercerita tentang peternakan yang dia usahakan menjadi tempat yang profesional. Saat dia sampai dirumah untuk pertama kalinya dia menyesal telah datang ke kandang babi itu dan mungkin ini adalah penyesalan pertamanya….

VI.
Ini semua seperti potongan puzzle yang harus disusun dengan logika berkaitan. Ketika itu sudah hampir sebulan babi-babi itu menepati peternakan, rupanya laki-laki yang tidak lain adalah manajer tempat itu punya cara meredam suara warga. Pada suatu hari tiga anak terserang diare dan hanya seorang yang selamat. Ketika diadakannya perkumpulan warga desa mereka menyimpulkan bahwa kandang babi itu yang menjadi penyebab dua anak yang terserang diare tidak selamat. Ketika Irwan memutuskan pada akhirnya kandang babi itu akan menganggunya dan keluarga, maka tidak ada alasan lagi untuk diam. Ketika Irwan mengeluhkan kasus rentenir kepada kelompok barunya, kelompoknya menyarankan agar Irwan menghubungi ketua Dewan Pimpinan Ranting Cilodong. Ketika Irwan akhirnya menghubungi pengurus Dewan Pimpinan Ranting Cilodong pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh pengurus Dewan Pimpinan Ranting tersebut.
Betapa bahagianya seorang istri yang mampu mengubah suaminya menuju kebaikan karena baginya pahala seluas langit dan artinya pernikahan yang dia jalani tidaklah sia-sia. Lelaki itu mengalami penyesalan kedua, dia menyesal, mengapa sampai datang lagi menemui barisannya hingga dia harus pergi dengan kesakitan yang lebih mengiris.
VII.
Ketika kandungan istrinya masuk bulan ketiga, ternyata peternakan itu sudah meluas menjadi tempat pemotongan babi.Suatu saat mereka mengundang penyuluh yang juga seorang dokter dari sebuah rumah sakit swasta untuk bicara tentang daging babi, mereka mengorganisir penyemprotan disenfektan, mereka menyelenggarakan pemeriksaan cacing pita pada anak-anak, mereka bicara dari orang ke orang tentang kewaspadaan pada daging babi yang menyusup menjadi daging sapi. Sampai pasukan polisi datang dan juru bicaranya bernegosiasi dengan penduduk. Manager kadang babi itu dibawa dengan perlindungan ketat dan penduduk desa berangsur angsur pulang. Desa terbelah, masing-masing kubu seolah menyiapkan barikade dan senjata, mereka mungkin belum sampai kata membunuh, tapi kini kata-kata itu terasa dekat. Ketika itu kandungan istrinya sudah memasuki bulan ke empat, saat itu dalam badanya tidak hanya ada segumpal darah tapi nafas serupa roh telah ditiupkan, kehidupan dimulai dengan menghisap sari pati makanan dan janin itu mulai bisa merasakan sakit, juga kematian. Ketika itu Irwan menerima panggilan ibunya untuk datang, ternyata pada hari yang sama istrinya merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tinggal. Ada perasaan tak enak ketika Irwan memacu motonya di tengah gerimis, namun dia berusaha melupakan perasaan itu. Pagi hari, ketika matahari seharusnya baru terbit, mungkin dia akan urung terbit karena mendung mengayut di timur, dari rumah Ibunya Irwan bermotor ke arah timur, mendatangi mendung. Sesampainya di rumah, dia mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Dia membuka pintu dan mendapati suwung membungkus ruang tamu, begitu pun ruang lain lainnya. Saat itu dia menyadari bahwa istrinya pergi tapi tidak membawa dompet ataupun telepon genggam.

VIII.
Irwan, entah berapa lama dia mencari, mungkin sehari, mungkin dua hari. Sudah dihubunginya orang-orang yang dia kenal dan istrinya termasuk mertua dan orang tuanya, tapi istrinya seperti menguap ditelan langit. Sampai satu pagi, pintu rumah diketuk dan serombongan orang kampung berdiri di sana, mengucapkan salam, tidak bertanya nama, tapi menyampaikan sebuah kalimat pendek bahwa istrinya telah ditemukan. Irwan merasa tidak ada yang baik-baik saja dalam sorot mata itu. Ketika itu muncul sesepuh desa, Abah Anom, yang tanpa bicara apa-apa menembus rombongan orang itu dan merangkul bahu Irwan sambil mengajaknya dia berjalan. Mereka menembus jalan yang tak biasa, seperti hendak pergi ke peternakan babi tapi lewat jalan belakang. Mereka menuju sebuah arena berlumpur yang dikelilingi pagar kayu, hampir mirip lapangan kuda tapi lebih kecil setengahnya. Rupanya mengapa mereka tidak melewati gerbang depan mungkin sesepuh itu tidak mau Irwan melihat beberapa mobil polisi dan ambulans. Sebuah wajah kematian, terlukis jelas pada sebuah wajah bidadari. Istrinya tanpa busana, namun dengan jilbab putih yang memerah, lelaki itu yakin warna jilbab itu putih, tapi sesuatu dari belakang kepala membuat warna merah sebentar lagi menjadi warna dominan, kapilaritas memberi andil perubahan warna, kapilaritas darah. Dari sudutnya berdiri Irwan bisa melihat apdomen yang terbuka seperti kembang mekar. Lelaki itu tak pernah tahu kalau sebuah perut yang terbuka akan menampakkan cabikan kelima arah, berujung pada garis darah yang bercampur lumpur. Lalu dia mendapatkan pita suaranya kaku, matanya justru yang meleleh, dari tadi dia berusaha membukan, tapi justru tidak bisa lagi. Kesunyian yang temaram sempurna rupanya sudah mengendap, mencuri bidadarinya dalam lingkaran takdir yang tak bisa diputar balik. Namun kini, tak ada yang lebih sakit saat merasakan orang yang kau pilih tiba-tiba pergi dan begitulah saat penyesalan ketiga datang.

IX.
Tiga hari setelah kematian istrinya, ada kekosongan yang menyebak setiap kali dia di rumah. Untuk berbagi kesunyiannya itu Irwan menghubungi temannya yang dia kenal lewat media sosial. Mereka saling bertemu di sebuah tempat dan berbincang-bincang tentang banyak hal. Di tengah pembicaraan mereka Irwan memperhatikan sebuah televisi di kafe yang menyiarkan berita, tapi entah mengapa dia merasa enggan mendengar berita. Ketika Irwan menyadari bahwa tehnya sudah habis, begitu pun dengan kata-katanya dan hari juga sudah mulai sore Irwan berpamitan pulang kepada temannya. Di saat perjalanan pulang dia seperti merasakan firasat buruk, seperti hari ketika dia kehilangan istrinya.

Interlude…
Irwan berbaring menatap malam lewat genting kaca di atasnya. Jam menunjukkan lewat sedikit dari tengah malam. Ketika itu antara sadar dan tidak, di sampingnya terasa ada sosok perempuan, dia mendengar ada yang memanggil namanya satu kali. Suara istrinya. Mendadak ada sesuatu entah apa mengejutkannya, membuatnya terduduk waspada. Lalu telinganya mendengar suara lain yang bukan suara gerimis. Dia melompat turun, membuka pintu kamar dan melihat api yang sudah menjilat setinggi langit-langit, dapur dan bagian belakang rumah sudah hangus dan kini api menjalar ke depan. Dia menyambar laptop di atas meja dengan siku tangannya dan ikut juga beberapa benda yang ikut teraup. Saat Irwan mencoba untuk keluar tiba-tiba pintu rumahnya macet, asap sudah mulai memenuhi ruangan. Irwan masih bisa bernapas, tapi asap membuat badannya lemah sehingga dia tidak dapat memecahkan kaca jendela. Tapi tiba-tiba dari luar ada yang memecahkan jendela dari luar. Dia mulai terbatuk-batuk, ketika itu dia merasa ada tangan-tangan yang merenggutnya, menarik bahu dan tangan kirinya, menjauhi asap dan ruangan api. Sebelum buramnya melebihi batas, dia sempat melirik tangan kanannya yang sedang memeluk sesuatu. Ternyata hanya dua barang yang berhasil dia bawa, yaitu sebuah laptop dan kitab suci. Selebihnya dia tidak ingat apa-apa.

Bagian 2 : Indra Pratama
X. Hh
Indra Pratama, seorang lelaki biasa, yang akhir-akhir ini pertanyaan itu selalu mengganggunya di saat yang tak tepat, seperti saat ini. Saat dia sedang berada di sebuah Cafe dia bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Airin bersama dengan seorang teman perempuannya. Menurut Airin, sebuah curhat adalah sampah. Mereka sempat berkenalan, hingga beberapa saat setelah mereka kenal mereka pun berjalan bersama, berlawanan arah dengan orang-orang yang juga tergesa di bawah gerimis. Indra mempercepat langkahnya, menjajari Airin. Mereka terus melangkah melewati sebuah halte bus.

XI. Hhhh
Jam tiga pagi Indra terpejam di kamarnya, tapi tidak tidur. Pada saat-saat begini, di hatinya sering muncul rasa sepi, rasa ingin dimengerti yang sangat dalam meski tak jelas kepada siapa. Lama-lama penat rasanya menantikan kantuk yang tak juga ada. Lalu dia membuka pekerjaannya yang sudah lima hari terbengkalai, menatap barisan huruf yang berderet. Orang tua yang bijak selalu bilang di dunia ini ada banyak pertanyaan, tapi hanya sedikit jawaban.

XII. Hhh
Indra memicingkan mata, menatap panggung kecil di sebuah cafe. Indra menoleh dan mendapati raut wajah itu, raut wajah yang akhir-akhir ini jadi mengeras. Temannya akhir-akhir ini dia jadi lebih pendiam. Beberapa hari yang lalu istrinya meninggal, dibunuh orang. Lalu mayatnya dikubur dalam tumpukan makanan babi. Tanpa sengaja Indra melihat seorang lelaki yang tadi sempat tampil bersama kuartet biola. Indra mendengarkan dengan saksama, memandang wajah lelaki itu, dia berpikir bahwa si penyanyi kini lebih meresapi lagunya di banding tampil tadi.

XIII. Hhh
Akhir-akhir ini dia bisa tidur lebih cepat, tapi sering kali dia terbangun mendadak di tengah malam dengan keringat membanjir, padahal dia tidak mimpi apa-apa, tidak mimpi seram. Hingga pada suatu saat di malam hari ketika Indra tertidur, Indra memimpikan hal yang aneh. Dia bermimpi bertemu dengan seorang perempuan dengan jilbab yang berwarna merah. Dengan juga tetes-tetes darah mengalir dari jilbabnya, membasahi wajahnya. Indra melihat perempuan itu masih mencoba tersenyum. Lalu detik itu juga fia terbangun dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya.

XIV. Hhh
Indra kembali membayangkan wajah kaku berlumuran darah. Mendadak Indra sangat ingin menelepon seseorang. Kadang di tengah kesendirian seperti ini dia merasa terdesak butuh teman. Beberapa saat dia memutuskan untuk berhenti di sebuah kursi taman, duduk di sebelah kursi berkarat, merenung, memandangi jalanan lengang. Tapi saat dia membuka mata, ternyata dia ada di sebuah peternakan yang bermandi cahaya bulan keperakan. Indra berdiri memandangi sebuah gundukan lumpur. Gundukan itu seperti terbelah, seperti ada tangan yang mengurainya hingga tampak apa yang ada di dalamnya. Indra tercekat saat dia melihat dengan jelas darah yang mengalir dari jilbab itu, menuju jalan, selokan, menuju lubang di tanah, dihisap oleh akar-akar pohon. Dalam sekejap Indra seperti dikungkung oleh air mata merah, air mata darah, dia tercekik, dia tenggelam. Dia tersentak bangun dengan keringat membasah.

XV. Hhh
Sayup-sayup dari dapur Indra mendengar suara Airin merutuk di ruang tamu. Indra menceritakan kedua mimpi anehnya kepada Airin seingatnya. Saat Airin mendengarkan Indra yang sedang bercerita tentang mimpinya, Airin mengajukan beberapa pertanyaan, Indra pun juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Airin. Tapi ada beberapa juga yang tidak bisa dia jawab. Di luar Indra seperti melihat bayang-bayang kupu-kupu menyambangi langit yang masih terik membara.

XVI. Hhh
Jam dua malam, di luar hujan lagi. Sejenak Indra merasa hidup benar-benar hanya datang dan pergi, walau dia harus mengakui hidup tidak sesederhana itu juga. Suatu malam dia kembali memimpikan seorang perempuan dengan jilbab yang berdarah itu, bedanya kini dia bertemu dengan perempuan itu di sebuah rumah sakit. Setelah beberapa menit Indra terbangun dengan keringat membasah.

XVII. Hhh
Besok malamnya, Indra kembali bermimpi tentang perempuan itu, lalu dia terbangun lagi dengan keringat membasah, tremor di seluruh sendi dan pucat pasi. Perasaan itu begitu hebat hingga dia memutuskan untuk menuliskannya. Selesai menulis, Indra berbaring lagi. Dia memilih untuk tidak menelepon Airin tentang mimpi yang di tuliskan. Beberapa saat Sulisati menuntun Indra ke laci bernomor kuningan. Sulisati juga sempat berka5a bahwa perempuan berjilbab itu membutuhkan bantuan Indra. Indra tak pernah kuat memandang darah yang mengalir. Lalu detik itu juga, dia bangun dengan keringat membasah.

XVIII. Hhhh
Indra memandang langit, matahari bersinar cerah pada hari pemakan istri temannya. Dari titik berdirinya dia bisa melihat orang-orang yang mengelilingi lubang makan, termasuk temannya yang menampilkan wajah tenang. Pemakaman itu dilakukan di desa tempat tinggal temannya ini dan aneh Indra merasa pernah melihat desa ini. Satu atau dua jam kemudian, Indra mendapati dirinya sudah ada di mobil, dia menoleh, temannya sedang menyetir. Ternyata mereka akan pergi ke kantor polisi untuk menanyakan hasil otopsi istri temannya. Tanpa Indra sadari Indra pun tertidur. Indra membuka matanya perlahan, di masih di mobil. Saat Indra terbangun dari tidurnya dia merasa heran karena dari tadi masih dalam perjalanan dan belum sampai di kantor polisi, tapi temannya bilang mereka sudah sempat ke kantor polisi dan bertanya jawab dan lebih anehnya Indra juga ikut dalam tanya jawab itu. Indra pun kini lebih penasaran, tapi dia berusaha untuk bersikap bahwa semuanya baik-baik saja. Tiba-tiba di tengah perjalanan ban mobil temannya meletus, lalu mereka memutuskan untuk menepi. Tiba-tiba sebuah kayu melayang ke wajah temannya. Indra tak mampu melangkahkan kakinya. Indra dan temannya sudah kepayahan, tidak lama kemudian Irwan pun tidak sadarkan diri. Ketika Irwan membuka matanya dia menyadari bahwa dia sedang berada di sebuah genangan air seperti sungai, danau atau pun rawa”. Setelah itu Irwan berusaha untuk sesegera mungkin pergi ke permukaan, sekuat yang dia mampu dia juga berusaha untuk menyelamatkan temannya. Akhirnya dia berhasil menyelamat kan dirinya dan juga temannya menuju daratan. Setelah itu semuanya gelap…

XIX. Hhh
Indra terbangun dan mendapati dirinya berbaring di sebuah seprai putih, Indra sempat berpikir bahwa itu adalah mimpi. Tapi setelah beberapa detik dia sadar bahwa itu nyata dan bukan mimpi. Alih-alih diperiksa seorang dokter senior, ternyata yang datang seorang dokter perempuan yang masih muda. Beberapa saat Indra mencoba untuk tidur, tali ketika itu dia melihat pintu terbuka, ternyata Airin yang datang, wajahnya kelihatan lelah. Mereka sempat berbincang-bincang mengenai kecelakaan yang di alami Indra dan temannya, tapi ada beberapa hal aneh terjadi pada saat Indra tak sadarkan diri. Indra menatap langit-langit ruangannya. Dia merasa bosan di ruangan ini. Indra benci saat harus mengumpulkan kepingan-kepingan waktu yang terserak. Indra mendengar suara pintu terbuka, pandangannya beralih pada sosok yang tadi membuka pintu, dan ternyata adalah Airin dengan wajah yang mendung. Kemudian Airin bercerita mengenai kondisi Irwan, tetapi di tengah pembicaraan Indra tak sadarkan diri.

Interlude…
Indra dan Airin kini menghadapi sebuah gundukan tanah merah. Indra memandang berkeliling, ratusan nisan-nisan ada di sana. Lalu Indra memandang tanggal-tanggal. Begitu banyak yang mati setiap hari. Sementara Airin masih terpekur, berlutut di dekat nisan. Lalu dia melihat seorang perempuan berpayung merah berjalan menyusuri deretan makam dan berhenti lama di sebuah nisan. Perlahan Indra ikut berjongkok di samping Airin. Entah mengapa Indra merasa romantis, dan bukannya kehilangan. Pikirannya berdebat tentang fakta bahwa perempuan itu menyambangi Indra dalam mimpi, seperti meminta pertolongan. Suatu perasaan yang membuat gelisah menampar-nampar. Airin sempat berkata bahwa Indra memiliki hubungan dengan kematian sahabatnya itu. Indra bercerita kepada Airin bahwa dia merasa kalau dia yang membunuh sahabat Airin tadi. Indra bercerita bahwa di tanggal yang sama Indra merasa dia melakukan sesuatu yang tidak dia sadari. Mendengar cerita Indra, Airin merasa tidak menduga hal itu. Airin melihat Indra tidak berada dalam kapasitas mampu bercerita lagi, wajahnya pucat, bahunya menggigil, keringat dingin memenuhi wajah, Airin segera mmengajak Indra untuk pulang.

Kartu Pos Bertuliskan Cinta
Aku berada di sebuah tempat serupa pantai yang landai. Kini aku memandangi pantai, merasakan jejak kaki turis yang bagiku sangat asing. Aku juga membawa ingatan tentang beberapa orang yang kehilangan sahabat-sahabatnya, sahabat yang bertahun-tahun tidak bertemu sampai akhirnya mayatnya yang harus bicara. Tadi pagi aku membeli tiga lembar kartu pos. Kini kupandangi banda itu satu-satu, betapa gambar pada ketiganya bercerita sesuatu.
Pada kartu pos pertama aku menuliskan nama Irwan Rahardian dengan sesempurna mungkin. Dia saudara sekaligus sahabat yang kutemukan pada sebuah petualangan yang berwarna. Dia mengenal aku saat kita berdua sedang susah, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kita sudah berbagi banyak cerita.
Kartu pos kedua aku menuliskan nama Afrina Zakiah dengan sesempurna mungkin. Dia adalah sosok yang sulit di lupakan, dia juga adalah perempuan yang sekali hadir akan ada selamanya. Kini rasanya dia sudah gembira dengan perjalanannya, dan aku harus ikut gembira.
Kartu pos ketiga aku menuliskan nama Sulisati dengan sesempurna mungkin. Dia cerminan diriku dalam sosok perempuan, mungkin memang benar kata Shakuntala bahwa manusia tidak terdiri dari satu, kita hanya harus berputar-putar dan sosok-sosok itu akan berlepasan