Penyakit Tak Dapat Menghalangiku Untuk Belajar

Di rumah sakit khusus pasien covid-19, terdapat seorang gadis yang tengah belajar di ruang rawat inapnya. Ia terlihat sangat serius dan semangat untuk belajar. Shifa, seorang gadis yang divonis mengidap penyakit akibat virus covid-19 ini tengah menghadap komputer yang menayangkan pembelajaran daring. Walaupun ia adalah salah satu penderita penyakit yang amat mematikan, ia tetap bersemangat menjalani hari harinya. Tak sesekali ia merenung dan menyesali telah mengabaikan perkataan ibunya dan berkeliaran di luar rumah ditengah maraknya virus covid-19, yang terlintas dalam pikirannya selalu “Andai saja saat itu aku mendengar perkataan ibu, mungkin sekarang aku tidak terbaring di brankar ini”. Namun nasi sudah menjadi bubur, ia juga menyadari bahwa ini bukanlah cerita fantasi yang dapat mengulang waktu dengan memutar jarum jam. Sekarang yang menjadi tujuan hidupnya adalah belajar, berdoa, dan berusaha.

Shifa : “Ayah, ibu, aku rindu… Aku ingin kita berkumpul seperti dulu lagi”

Shifa : “Aku akan berjuang melawan penyakit ini! Aku harus bisa sembuh!”

Hari demi hari telah dijalani oleh Shifa. Ia tetap menjadi Shifa yang semangat hingga suatu hari ia mulai merasa lelah berjuang, ia merasa semua yang telah ia lakukan akan sia-sia.

Shifa : “Aku lelah, aku ingin mengakhiri perjuangan ini. Sembuh itu terlalu mustahil, bahkan sampai sekarang pemerintah belum mendapatkan penawar dari penyakit ini.”

Tanpa sengaja dokter mendengar apa yang dikatakan Shifa, ia pun berniat memberi semangat pada pasiennya yang telah lama menginap disini.

Dokter : “Hai Shifa, selamat pagi”

Shifa : “Pagi dok, apa sudah ditemukan obat penawarnya?”

Sang dokter terlihat tengah menarik nafas dengan kasar.

Dokter : “Belum”

Terlihat raut wajah kecewa Shifa, tak dapat dipungkiri bahwa Shifa kini benar-benar ingin menyerah. Bukan karena dia tidak percaya takdir, tapi karena dia benar-benar lelah untuk berjuang.

Dokter : “Shifa nggak boleh menyerah, Shifa harus semangat biar bisa sembuh..”

Shifa : “Bukannya sembuh itu mustahil ya dok? Obat penawarnya saja belum ditemukan..” ucap Shifa lesu.

Dokter : “Dokter yakin semua penderita penyakit ini bisa sembuh, jika memiliki semangat untuk sembuh yang tinggi.”

Tak ada reaksi dari Shifa, dokter yang menyadari bahwa gadis ini benar-benar tak ada semangat lagi pun mencoba meyakinkan Shifa sekali lagi.

Dokter : “Bukankah Shifa ingin kembali berkumpul dengan keluarga Shifa?”

Shifa : “Iya dok, Shifa kangen kumpul bareng.. Tapi Shifa gak bisa, nanti keluarga Shifa ketularan.”

Dokter : “Kalau begitu berarti Shifa harus sembuh dulu, biar cepat sembuh Shifa harus semangat!”

Shifa : “Mau sampai kapan semangatnya dok? Toh nanti Shifa bakalan pergi juga..”

Dokter : “Shifa enggak boleh nyerah, masih banyak orang yang ingin lihat kamu sembuh. Contohya orang tua kamu, teman kamu, saudara kamu, tetangga kamu, dan masih banyak lagi termasuk dokter.”

Shifa yang mendengar perkataan dokter pun tersadar bahwa didunia ini masih banyak yang menginginkan adanya dirinya. Shifa tersenyum.

Shifa : “Dokter benar, Shifa harus sembuh. Banyak orang yang ingin lihat Shifa sehat, trimakasih ya dok sudah menyadarkan Shifa.”

Mulai saat itu juga Shifa kembali semangat. Ia semakin giat belajar, semakin sering berdoa, dan semakin bersungguh-sungguh berjuang melawan penyakit yang dideritanya.

Tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan, ujian kenaikan kelas sudah didepan mata. Hal itu bukanlah masalah besar bagi Shifa karena dia sudah menyiapkan diri dari berbulan bulan yang lalu. Dengan mudahnya Shifa mengerjakan soal demi soal, dan akhirnya bagian yang paling tunggu-tunggu Shifa terjadi, total nilai. Dan benar saja Shifa mendapat total nilai tertinggi diantara teman-temannya. Terukir jelas senyum diwajah Shifa, Shifa tersenyum sembari melompat-lompat kecil didalam ruang inapnya. Dokter dan suster yang melihatnya pun ikut tersenyum.

Sekarang genap tiga bulan Shifa menginap di rumah sakit. Kondisinya semakin membaik, dan dia diperbolehkan pulang karena telah dinyatakan sembuh dari penyakit akibat virus covid-19. Tak dapat dipungkiri bahwa Shifa beserta keluarga sangat senang. Shifa berterimakasih banyak kepada dokter dan suster yang telah merawatnya. Tak lupa ia memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Shifa : “Trimakasih ya dok, sus, telah merawat saya..”

Ibu : “Trimakasih banyak telah membantu anak saya sembuh dari penyakit ini”

Dokter : “Iya bu, sama-sama. Itu juga tugas saya sebagai dokter.”

Shifa percaya bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil. Ia juga percaya bahwa tidak ada hal yang sia-sia. Shifa mengambil pelajaran besar dari peristiwa yang menimpanya.

Oleh : Widya Ayu Putri Anjeli
Kelas : 7-6
No. Absen : 31