Pahlawan Covid-19

Di suatu kampung yang terletak tak jauh dari kota. Kampung tersebut adalah kampung yang sangat bersih dan sehat. Tapi, masyarakat kampung tidak semuanya sadar diri betapa pentingnya menjaga lingkungan. Ada beberapa warga yang sering membuang sampah sembarangan tanpa peduli apa akibat jika membuang sampah sembarangan.

Orang-orang yang seperti itu perlu disadarkan agar tidak dapat merusak lingkungan kampung itu. Maka dari itu, aku dan Doni temanku berusaha untuk mengingatkan warga yang suka membuang sampah sembarangan atau merusak lingkungan. Aku memakai berbagai cara agar warga kampung yang tidak taat bisa segera sadar betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Setiap detik, menit, jam dan hari kini kian berlalu. Sekarang ini datanglah virus berbahaya yang bisa merenggut nyawa bagi orang yang tidak patuh pada protokol kesehatan, virus itu adalah Covid-19. “Aku akan datang ke tubuh orang dan merenggut nyawa kalian, hahaha. Kalian semua tidak akan pernah bisa melawan aku” kata Covid-19 dengan kejamnya. Aku pun menjawab “Tidak! Kami pasti akan bersatu untuk melawan kamu!” Jawabku dengan tegas.

“Kalian!? Ingin melawanku? Tentu saja tidak bisa! Bagaimana cara kalian bersatu untuk melawan aku jika salah satu diantara kalian sama sekali tidak peduli akan lingkungan” Covid-19 berkata sambil tertawa.

“Tidak ada salahnya jika kami berusaha, sebuah usaha pasti akan bisa membuahkan hasil yang memuaskan dan kami pasti bisa memusnahkanmu!” tegasku.

Covid-19 pun pergi meninggalkanku dengan wajah memerah dan dengan tatapan tajamnya. Aku pun memberikan pengumuman kepada seluruh warga untuk memakai masker ketika keluar rumah, hindari keramaian, rajin mencuci tangan, banyak minum air putih dan makan-makanan yang bergizi agar tidak terjangkit virus Covid-19. Setelah aku memberi pengumuman tersebut tak banyak warga yang percaya, diantara mereka ada yang menyepelekan hal ini.

Pagi yang cerah, Surya mulai menampakkan dirinya namun tertutup oleh sekelompok kapas bewarna abu-abu yang menutupi sang Surya, iya suasana pada pagi ini mendung. Seperti biasa, aku akan memantau warga sekitar apakah mereka sudah patuh terhadap protokol kesehatan.

“Hai! Apa kau belum menyerah? Apa kau masih mau berusaha? Sudah jelas-jelas kau akan kalah jika berhadapan dengan aku!” ucap Covid-19 dengan bangganya.

“Tidak! Aku tidak akan menyerah sebelum mencapai tujuanku!’ Sahutku dengan tegas.

“Benarkah? Apa kau yakin dengan perkataanmu? Lihat lah orang disana! Sudah ada 3 korban yang meninggal karena aku, hahahaha” Covid-19 besar kepala.

“Tidak! Apapun yang terjadi aku tidak akan menyerah!” tegasku.

Aku pun mengajak Doni untuk membantuku, dan syukurlah Doni mau membantuku. Aku pun bergegas ke pusat kampung untuk memberikan pengumuman lagi.

“Hei! Apa kalian lihat? Orang yang meninggal akibat terkena Covid-19? Apa kalian mau mengalaminya?” Tegasku.

“Tidakk!!Tentu saja kamu tidak mau!” teriak warga.

“Jika kalian tidak ingin terkena virus tersebut kalian harus sadar diri! Jaga jarak! Hindari kerumunan! Pakai masker! Rajin mencuci tangan! Makan makanan yang bergizi! Jaga kebersihan lingkungan! Lingkungan yang lembab dan kotor adalah tembak berkembang biaknya virus, jadi apakah kalian mau menuruti saya?”

“Ya!! Kami mau!!” akhirnya para warga kompak dan melaksanakan protokol kesehatan.

“Orang itu gak menyerah-menyerah buat lawan aku, awas saja kalian semua pasti mati ditangan ku, hahahaha!” covid-19 melihat dari jauh dan mendengarkan semua pembicaraan para warga.

Setiap hari aku keliling kampung untuk melihat warga, apakah mereka sudah melaksanakan protokol kesehatan. Dan ternyata mereka semua sudah sadar diri, mereka melaksanakan protokol kesehatan dengan baik, tak ada satupun dari mereka yang tidak melaksanakan.

“Aku bersyukur akan hal ini, semoga virus itu akan segera punah agar tidak merenggut korban jiwa” ucapku di dalam hati.

“Hei! Apa yang kau lakukan terhadap mereka! Mengapa mereka jadi seperti ini” teriak Covid-19 dengan wajah yang memerah.

“Hei! Apakah kau tidak menyerah saja!? Sebentar lagi kau akan punah dan pergi dari kampung ini.” Ucapku kepada Covid-19 dengan muka masamnya

Terlihat Covid-19 begitu geram, mukanya masam wajahnya memerah, “Aku tidak mungkin bisa bertahan lagi, lebih baik aku pergi.” Gumam Covid-19 dengan ekspresi wajah yang merah membara.

Tak lama kemudian Covid-19 pun pergi dan tak ada yang perlu ditakutkan lagi. Meskipun seperti itu, ini tidak meruntuhkan rasa warga untuk tetap rajin membersihkan lingkungan, mencuci tangan dan sebagainya. Kini kampung ini sudah terbebas dari Covid-19, para warga senang dan mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya dulu.

Amanat :

Tidak akan ada hasil tanpa adanya suatu usaha, setiap usaha pasti akan berhasil jika dilakukan dengan niat dan bersungguh-sungguh.

Janganlah membuat lingkungan kotor! Karena itu dapat menjadi sarang penyakit. Oleh karena itu, kita harus membersihkan lingkungan agar senantiasa tetap bersih.

KELAS IX-1