Menguak Rumpun Pencak Silat Minangkabau.

1

Menguak Kerumitan Sejarah

Betapapun rumitnya, sejarah pencaksilat Minangkabau mesti kita kuakan. Dari pengantar yang dikemukakan pada bagian terdahulu, kita tidak boleh putusasa. Sebab keputusasaan akan membuat asal muasal pencak silat Minangkabau kian menjadi kabur. Kaburnya sejarahpencak silat Minangkabau karena kita tidak menemukancatatan, artefak-artefak dan simbol-simbol yang bisa menggiring kita ke arah kebenaran sejarah pencak silat yangdimaksud itu. Umumnya penutur lisan tampak bimbang, jika menuturkan sejarah pencak silat yang berasal dari ranah ini. Dasar utamanya adalah ketakutan terhadap kualatnya si pe-nutur pada gurunya yang telah mewariskan padanyailmu bela diri itu.

           Syafri Murad, salah seorang pengurus IPSSumbar,mengatakan, “Dulu kalau kita hendak belajar silat padaseorang guru, kita tidak banyak bertanya. Begitu kitasampai di sasaran, kita terfokus pada pencak silat dangerakan-gerakan yang dicontohkan oleh sang guru. Dan kitatidak pernah bertanya, dari mana asalnya pencak silat, yangmodang kita pelajari.” Murid-murid sungkan bertanya inidan itu. Apalagi sudah kebiasaan di Minangkabau, ucapandilahirkan lewat kiasan. Dan gerak-gerik. Para murid takut,bertanya. Takut dan segan akan menyinggung perasaanguru. Mana mungkin menanyakan dari mana asal usul pencak silat yang dipelajari. Bisa saja yang menurunkan   pencak Silat tersebut adalah ayah, mamak atau kakek darisang guru. Jarang sekali orang Minang menyebutkan siapa nama ayah mereka terang-terangan Kemungkinan besar hal ini merupakan penyebab samarnya sejarah pencak silat tersebut. Tanya jawab dalam belajar silat di masa itu nyaris tidak ada. Tanya tersebut bukan datang dari sang murid tapi dari sang guru.

Besar kemungkinan, sejarah pencak silat Minangkabau dapat ditelusuri lewat perjilanan Maharaja Di Raja bersama pengıkutnya menujuPulau Perca ini.Kadatangan Maharaja DiRaja bersama pengikutnya tersebut, sekitar abad ke-4 SSM, dalam rujukan Tambo. Saat  itu terjadi gelombang pelayaran besar-besaran dari Hindia  Belakang mencari pemukiman baru. Dalam pelayaran dari mengarungi lautan luas, Maharajo Di Rajo didampingi Permaisuri dan seorang cedikiawan serta  empat orang hulu balang. Keempat hulubalang tersebut pastilah sekaliguspendekar-pendekar yang tangguh. Kita dapat merujuk dari nama-nama mereka: Harimau Campo,Kucing Siam, Kambing Hutan, An Jiang Mualim (diduga pendekar yangmemiliki Penciuman tajam bagai srigala). Mid. Jamal dalam bukunya

Bila kita rujuk keempat nama pendekar tersebut, dapat mengingat akan aliran pencak silat di Minang, ada yang disebut langkah empat. Umumnya langkah pembuka dan gerak pencak silat Minang yaitu langkah empat. Dalam penelusuran aliran, kita menemukan Silat Harimau, SilatKUcing Siam, Silat Kambing Hutan, Silat Anjiang Mualim.Silat Harimau adalah silat spesifik Minangkabau, yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Silat ini pada akhir keputusannya, benar-benar diajarkan langsung sang inyiak (harimau). Sedangkan Silat Kucing Siam dikenal dengan jurus Rabah Kucing, merupakan salah satu gerakan andalan yang sering menyesatkan lawan. Di mana lawan seakan-akan pecundangnya jatuh tidak berdaya. Tapi ketika dia didekati,maka tendangannya menghantam bagian titik lemah lawan.Berikutnya, Silat Kambing Hutan dikenal dengan jurusArak Kabau Gadang adalah juga salah satu gerakpencaksilat, yaitu kedua petarung saling berdekatan, mengawasigerak-gerik lawan. Siapa yang lengah akan menjadi pecundang! Sementara itu langkah tigo, gerak pembukaan suatu aliran. Langkah ini begitu sederhana, satu ke depan, lalu kekiri dan ke kanan. Langkah tigo sering terlihat pada aliran di daerah dataran rendah, seperti di Padang Pariaman.

2

Pencak Silat

Di Minangkabau jarang sekali digunakan frasa pencak silat untuk menyebut ilmu bela diri. Diranah ini sebutan pencak diartikan sebagai bunga atau permainan dari silat. Atau dengan bahasa lain,pencak merupakan rangkaian dari gerakan langkah yang terlihat indah. Gerakan langkah yang indah tersebut sebenarnya merupakan awal latihan seorang pesilat pemula untuk memperlincah, dan sekaligus melatih kelenturan tubuh.Kemenangan pesilat Minang bukan terlihat dengan mengalahkan lawannya. Tapi sejauh mana dia mampu memindahkan energi baiknya kepada lawan tandingnya.

Pendapat yang lainnya mengatakan silat itu berasal dari kata Silaturahmi, yang artinya membina hubungan baik persaudaraan antara sesama manusia. Di sini dapat dipahmi, bahwa silat itu dalam penampakan, kita semula melihat gerakan pisik. Tapi pada akhirnya akan bersentuhan dengan akal budi, hubungan antarmanusia. Pesilat yang tangguh tidak perlu menguras tenaga untuk menaklulkan lawan Dengan kehalusan budinya, kemanisan tutur katanya bisa membuat lawan takluk. Kalau anda lihat dalam sosial kehidupan sehari-hari, jarang sekali orang Minang menantang, mengajak seseorang berkelahi. Berkelahi tak tahu ujung pangkalnya.

Di masa dulu, orang mencari ilmu pengetahuan acapkali dengan perenungan. Untuk lebih mengentalkan perenungan tersebut, mereka menyendiri ke gunung, ke rimba belantara dan bertarak (bertapa) dalam gua. Sutan Balun yangkemudian dikenal dengan Datuk Perpatih Nan Sebatang.ketika masih remaja bertarak di puncak Gunung Merapi.dalam sebuah gua. Bermacam-macam godaan datang tapidia mampu mengatasi. Sehingga dia mendapat ilham, pengetahuan sejati. Pengetahuan sejati tersebut tentulah datang dari Yang Esa. Ada persamaan, pencarian diri Sidarta Gautama dengan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Perginya Sutan Balun ke gunung Merapi karena ada perlakuan yang kurang adil terhadap dirinya. Saudara seibunya, Ketumanggungan membanggakan bahwa dirinya adalah anak raja,dan Putra mahkota. Sutan Balun sering dilecehkan dan disakiti, hati dan pisik. Maka Sutan Balun memutuskan untuk pergi bertapa ke Gunung Merapi, merenung, bersatu dengan alam.Persatuan dengan alam tersebut merupakan pandangan suku bangsa Minangkabau. Identifikasi orang Minangkabau.menyatu dengan alam. Alam tersebut itu adalah dirinya sendiri.

Garak,Garik,Pandang kutiko

Pesilat di negeri ini memiliki empat naluri. Empat naluri atau pitunggu tersebut adalah: garak-garik, pandang,kutiko. Garak dan garik (gerak dan gerik) digunakan untuk memantau gerakan lawan. Saat seorang pesilat sedang berhadapan dengan lawan, akan ada gerakan dari lawannya Gerakan tersebut dapat dibaca kalau terlihat secara nyata.yaitu gerakan pisik. Bagi pesilat tangguh, ia bukan saja dapat memantau, membaca gerakan pisik tapi juga pikiran dan batin lawan. Atau dengan kata lain, ketika lawan melangkah ke kanan, ke kiri, ke muka dan ke belakang maka oleh dia telah terbaca maksud dan kehendaknya(dari lawan). Sehingga sang pesilat mampu mengantisipasi gerakan lawan .

Kutiko atau ketika, maksudnya dalam pertarungan seorang pesilat harus memiliki perhitungan. Perhitungan kapan dia harus diam, tidak menyerang, hanya mengawasi gerak-gerik lawan. Dengan pandang dan kutiko, pesilat tersebut bisa membaca ke mana arah langkah, gerak tubuh, dan serangan lawannya. Jika kepala menunduk dan menggeleng ke kiri atau menggeleng ke kanan, pastilah lawan akan menendang.

Dari segi pertahanan, seorang pesilat harus bisa membentengi dirinya. Mungkin kita melihat pesilat melindungi dirinya dengan balabek (memalangkan lengan melindungi dada) dan kelincahan gerak Secara pisik itu kenyataan. Namun pertarungan dimenangkan bukan sekadar bertumpu pada kekuatan fisik. Akan tetapi dia harus juga dibarengi dengan mental dan spritual yang mantap. Maka setiap langkah yang diangkat, digeserkan harus mempunyai tujuan dan maksud Pesilat Minang yang piawai ketika menjejakkankakinya di tanah, dapat menghadirkan bayangan Sahabat nan Barampek dalam dirinya.

3

Pandeka

Pandeka atau pendekar, seorang pesilat dalam  cerita tempo dulu digambarkan memiliki kesaktian karena ia bertahun-tahun bertapa dan berlatih diatas puncak gunung. Ia dilatih oleh seorang guru setengah dewa, sehingga muridnya itu, sang pendekar pun mewarisi kesaktian guru yang memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingan. Sebelum turun gunung, sebelumnya ia telah diuji lahirbatin. Oleh sang guru, muridnya tersebut benar-benar telah dianggap mampu, tangguh dan memang pantas dilepas kedunia kang ouw (ke dunia persilatan) untuk membela kebenarandan keadilan. Di Minangkabau jika seseorang diberigelarpandeka (pendekar), dia sebelumnya telah bisa mengajarkan ilmu yang diterimanya dari gurunya kepada murid lainnya.Selain itu pendekar tersebut telah diberi lisensi oleh gurunya untuk membuka sasaran baru. Namun dalam perjalanan kehidupan sebagai pendekar, dia harus memahami lika-liku dalam percaturan persilatan yang sebenarnya.

“Tahu di duri nan ka mancucuak, tahu dionak nan ka manyangkuik. Alun bakilek lah bakalam. Takilek ikandalam lauk lah tahu jantan batinonyo” Bila dia belum paham maksud dari mamangan tersebut, maka dia belum bisa disebut pendekar. Sebab perjalanan hidup seorangpendekar, tidak cukup hanya memiliki ilmu fisik belaka.Kependekarannya akan teruji saat berhadapan dengan lawan. Lawan nyata dan musuh yang tidak terlihat. Bila lalai ia menerjemahkan serta menjalankan mamangan yang dipetuahkan itu, ia akan mudah dibuluihkan lawan nyata apalagi lawan yang tersembunyi. Hal tersebut banyak terjadipada pendekar yang kurang waspada dan tidak matang Maka ia terpaksa kembali ke sasarannya, mengulang mengaji dari Alif (dari awal

Filsafat Pencak Silat

Filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan, tidak lain dan pada mencari usaha sebab yang sedalam-dalamnya. Hal yang demikian itu sesuai dengan kecendrungan manusia ingin tahu. Maka filsafat dalam difinisinya adalah: Ilmu tentang segala sesuatu yang menyelidiki keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya. Pencak silat adalah bagian pengetahuandan hidup mempunyai tujuan salah mempertahankan diri. Implementasi dari pertahanan diri tersebut, ia melindungi diri dari serangan musuh atau lawan.

Filsafat Hellenisme

Dari kumpulan sejarah bahwa suku bangsa Minangkabau berdarah Yunani India. Salah satu fragmen data sejarah yang menguntkan mitos persaudaraan raja raja Minangkabau dengan keturunan Iskandar Zulkarnain Arti kata Zul adalah orang yang bertanduk dua (Qarnaini).Karena hubungan itu, tidaklah tabu bila kita perlu mengkaji filsafat Hellenisme yang berkaitan dengan pencak silat Minangkabau. Mid, Jamal dalam bukunya Filsafat dan Silsilah Aliran-aliran Silat Minangkabau menyatakan bahwa pembentukan langkah-langkah silat Minangkabau berdasarkan filsafat Hellenisme tersebut. Ia merujuknya dengan kajian Pitagoras (532 SM), yang ahli dalam bidang ilmu pasti dan musik. Filosof ini berpendapat bahwa segala sesuatunya ialah bilangan, sehingga orang yang tahu dan mengerti bilangan maka ia akan tahu juga segala sesuatu.

Filsafat Kong Fu Chu (551-479 SM)

        Filsofof ini mengajarkan supaya orang tahu dengan prinsip yang empat, yaitu Tao, Te, Li dan I. Taoialah kekuatan yang mengatur segala-galanya, dalam alam semesta, yang menciptakan keharmonian alam. Alam dengan manusia atau masyarakat. Ditamsilkan kepada bintang-bintang yang beredar, dan begitu pula dengan manusia. Kaisar adalah pusat masyarakat. Masyarakat terdiri dari keluarga – keluarga. Dan pusat dari keluarga adalah bapak.

       Kemudian ia menjelaskan tentang Te, yaitu kemampuan berbuat baik, sebagaimana halnya Tao. Untuk mendapatkan Te, manusia perlu menggabungkan diri dengan Tao.Sedangkan Li, berarti tingkah laku atau tindakan yang sesuai dengan kondisi dan situasi tempat berada (adat dan istiadat). Mengembangkan Te, yakni dengan melaksanakan upacara adat istiadat atau Li. Berikutnya I, yaitu setiap orang harus mengetahui tempatnya, dan tahu membawa diri. Setiap orang sudah ditetapkan ketika ia dilahirkan Apakah ia anak seorang ayah, hamba sahaya dari rajanya.adik dari kakaknya, demikian juga teman-temannya. Bila ia sudah tahu tempatnya, ia sudah tetap. Maka harus pula mengetahui terjadinya masyarakat dibentuk.Uraian filsafat Khong Fu Chu tersebut, yang dimulai dari prinsip yang empat mengingatkan kita pada kecendrungan orang Minangkabau kepada nan ampek. Bila dikaitkan dengan pencak silat, maka banyak sekali pelajaran yang dapat kita timba dari filsafat Khong Pu Chu.

Filsafat Buddhisme (Mahayana)

Buddha mengajarkan tiga prinsip yang disebut. Triratna(tiga permata), yaitu: Buddha, Dharma dan Sangha. Sepertikita ketahui, agama Budha berkembang pesat di Tiongkok sana. Di negeri tersebut berdiri sebuah kuil megah diprovinsi Honan, tempat para pengikut Buddha tinggal(Shaolin). Dengan ajaran agama dan filasafat yang merekayakini, mereka melakukan ritual agamanya dalam kuiltersebut. Konon karena terlalu banyak melantunkan syair-syair memuja sang Buddha maka para biksu jadi lesu, tidak bersemangat. Maka Tatmo Cauwsu menciptakan gerakan silat. Yang se-mula hanya merupakan gerakan lambat dan lamban, dengan metode pengaturan nafas.

Filsafat Alam Takambang Jadi Guru

Alam takambang jadi guru adalah filsafat alamMinangkabau. Filasafat itu bagi seorang pendekar sangat perlu dipahami benar. Nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat alam tersebut, hendak dijadikan pedoman oleh seorang pendekar, dipertongkat pada siang hari, dipersuluhpada malam hari. Seorang pendekar bila datang ke suatu tempat atau ke suatu nagari, haruslah dapat membaur dan tingkah lakunya terjaga dengan menyesuaikan diri. Dalam pepatah disebutkan:” Di mano bumi di pijak, di sinan langik di junjung. Kampung ditinggakan, kampung ditapati. Jikok dunsanak ditinggakan, dunsanak dicari.”(Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Kampung ditinggalkan,kampung pun ditepati. Jika sanak saudara ditinggalkan,carilah saudara di tempat baru itu)

Harga Diri Pendeka

Luhurnya budi pendekar melahirkan harga diri. Memang seorang pendekar yang ditempa sedemikian rupa,keseimbangan dan keselarasan emosi selalu terjaga dan terpelihara. Harga diri seorang pendekar melekat utuh pada nilai-nilai filsafat yang diajarkan padanya. Keluhuran budi yang melahirkan harga diri membuat pendekar tangguh. dalam menghadapi badai kehidupan. Dia berpantang terhina di de-pan khalayak ramai, dipermalukan begitu saja. Terlebih dipermalukan karena menyangkut suatu dosa yang tidak langsung berhubungan dengan diri pribadinya.”Musuh tidak dicari. Basuo bapantang dulakan. Tabujua lalu, tabulintang patah.” Pameo tersebut akan dipakai oleh seorang pandeka bila harga dirinya dijatuhkan orang.

4

Sasaran

Cina dan Jepang. murid-murid belajar pada D ncbunh gedung tertentu atau di kuil-kuil. Zamandulu di Minangkabau perguruan bela diri tidak dilaksanakan di tempat tertentu. Sepengetahuan saya belum pernah nda perguruan silat di ranah ini yang mendirikan gedung untuk tempat belajar pencak silat. Biasanya murid – murid belajar di la pangan terbuka, baik di pondok halaman atau di halman surau. Lapangan terbuka tersebut disebutsasaran. Di sasaran tersebut guru menerima dan meatih murid muridnya.Di sasaran murid-murid belajar pada malam hari,sekitar pukul delapan malam atau sudah shalat Isya. Pada awalnya murid-murid dilatih secara berpasangan. Metode konvensional tersebut sampai sekarang masih digunakan oleh guru guru silat tradisional. Dilakukanya metodeberpasangan itu, membuat jangka waktu belajar jadi panjang. Sampai tengah malam, hanya tiga sampai empat yang bina dilatih.

Sebenarnya saaran, pun dapat diterjemahkan sebagi sebuah perguruan. Di sana nda guru, ada murid, ada kegiatan latihan. Beda sanaran dengan perguruan yaitu sasaran tidak membuat nama perguruan. Bila seorang belajar silat, ia tidak pernah menyebut datang ke perguruan anu atau perguruan, Mereka hanya bilang akan datang ke sasaran guru Polan atau datang ke guru Polin. Pun mereka tidak pernah menyebut nama aliran. Aliran Silat Kumango, Silat Pauh,Silat Lintau, Sitalalak dan sebagainya. Nama guru lebih dominan disebut sebagai simbol sasaran Memang di sasaran diajarkan aliran silat. Setiap sasaran dan airan memiliki ciri khas yang berbeda.

5

Perguruan

pengertian perguruan pencak silat cenderung disalah tafsirkan oleh orang. yang bercampur baur dengan aliran Padahal perguruan pencak silat berarti tempatorang belajar menimba ilmu pencak silat pada seorang guru. Di mana perguruan tersebut mempunyai ketentuan – ketentuan yang harus dijalankan dan dipatuhi oleh murid

atau anggota perguruan Sementara itu yang disebut aliran adalah ciri khas yang dimiliki oleh sebuah perguruan pencak silat, atau di Minangkabau disebut suatu ciri khas dari gerakan yang dimiliki oleh silat tertentu. Misalnya, antara gerakan dan langkah silat Siterak, tidak akan sama dengan gerakan langkah silat Kumango maupun gerakan langkah silat Pauh

6

Aliran Silat

lat di Minangkabau mempunyai berbagai aliran. Aliran tersebut mencerminkan ein khas dari silat itu sendiri. Silat tuo diperenya oleh masyarakat pesilat Minangkabau sebagai cikal bakal dan aliran yang ada sekarang Berbagai pendapat tentang aliran silat tuo mengenai asal usulnya, ada yang mengatakan silat tuo itu dibawa dan diajarkan oleh Syekh Burhanuddin, ulama yang menuntut ilmu agama Islam di Aceh, lalu mengembangkan dan menyiarkan di daerah ini. Syekh Burhanuddin dalam menyiarkan Islam pun mengajarkan pencak silat kepada murid dan jamaahnya. Dalam pada itu, ada pendapat lain yang mengatakan silat tuo berasal dari Parangan. Sebab di Parangan tersebut kebudayaan masyarakat telah tinggal pada abad awal Masehi.

Empat Aliran Pertama

(1) Silat Kucing Siam. Sebuah aliran yang keras dengan prinsip; dengan tenaga yang sedikit dapat merobohkan lawan dalam waktu yang singkat. Gerakan silat Kucing Siam menggunakan pukulan tangan, siku, sapuan kaki dan lutut serta tendangan dalam berbagai bentuk (lurus, menyamping, melingkar dan ke belakang). Sementara itu tangan dapat digunakan untuk mengacaukan pandangan posisi lawan.Saat lawannya kehilangan keseimbangan maka masuklah serangannya.

(2) Silat Harimau Campo. Aliran ini berkembang di

Luhak Agam. Sesuai dengan namanya Harimau Campo.maka gerakan silat ini keras, siap menghabisi lawan, selalu menyerang tanpa memberi kesempatan pada mangsanya.Kalau Silat Kucing Siam yang tidak langsung membunuh lawan. Tapi Silat Harimau Campo, ia belum puas bila tidak mencederai bahkan membunuh lawan saat itu juga. Maka harimau disebut sebagai pembunuh berdarah panas. Pada dasarnya, aliran yang beradaptasi dengan silat Rimau (SilatHarimau), gerakannya cendrung keras. Langkahnya lebih banyak maju.

(3) Silat Kambing Hutan.

 Aliran ini berasal dari Kamboja, yang berkembang di Luhak 50 Kota dan Payakumbuh.Gerakannya penuh tipuan – tipuan, kadang-kadang menyeruduk, menghantam dada lawan. Pesilat aliran ini bukan saja menggunakan tangan dan kepala untuk menyerang lawan.Ia juga menggunakan jepitan sepasang kaki, meremukkan pinggang lawan. Lawan sengaja digiring ke suatu sudut,seraya membuang langkah.

(4) Aliran Silat An Jiang Mualim berkembang ke daerah pesisir, bukanlah hal yang aneh. Suku Cina, suku yang suka

merantau dan berkelana. Kalau An Jiang Mualim berlayar menuju pesisir dan menetap di sana dengan rombongan(yang dimaksud kabupaten Pesisir Selatan), adalah hal yang wajar-wajar saja. Aliran Silat An Jiang Mualim menganut gerakan langkah tigo dan langkah ampek.

7

Permainan Rakyat

Permainan rakyat di Minangkabau, sebuah kesenian tradisional yang terbuka, untuk umum. Artinya dari rakyat untuk rakyat. Sesuai dengan sistem masyarakatnya yang egaliter dan demokratis, kesetaraan dan kebersamaan antarmanusia. Jadi tidak heran bila permainan rakyat sebagai milik masyarakat. Akibat persentuhandengan kebudayaan luar, maka permainan rakyat tersebut kadangkala mudah berubah. Keniscayaan seperti itu bahkan dapat memperkaya, memperbanyak dan makin membuatkesenian tradisional rakyat Minangkabau Persentuhan dan pengaruh kebudayaan dari luar, sebagian dapat menyatu atau mengubah permainan rakyat dimaksud.

Namun tetapada yang terpisah dalam melaksanakannya. Ibarat air dengan minyak dalam sebunh baskom. Pengaruh kebudayaan Islam dengan mistik, pengaruh kebudayaan barat, lewat Portugisdan Belanda dengan kebudayaan Minangkabau hidup bersamaan dengan eksistensinya masing-masing. Dalam kesempatan bab ini penulis mengetengahkan permainan rakyat yang mempunyai hubungan dengan pencak silat.antara lain: ulu ambek, randai, silek dan tart galombang.tari sciah, mancak padang, debus, dan sebagainya.

8

Pasang Surut Pencak Silat di Sumatra Barat

Pada Sarasehan Pencak Silat di Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 1977, diperoleh kesimpulan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga daerah sebagai sumber utama pencak silat di Indonesia, yaitu SumatraBarat, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan Dari ketiga daerah sumber itu, maka yang tertua dan dianggap paling kaya akan aliran yang berwibawa adalah Sumatra Barat yang secarakultur disebut Minangkabau.

 Kesimpulan ini merupakan pengukuhan formal dari perjalanan sejarah pencak silat di Nusantara ini.Pencak silat Minangkabau dikenal sejak beberapa abad yang lalu wilayah penyebarannya mulai dari rentang Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Irian sampai ke Malaysia. Bagi kalangan pendekar di wilayah tersebut, aliran silat Kumango,Lintau, Silat Tuo, Pangian, Silat Harimau, Siterlak, Sungai Patai, Sunua dan Silat Pasie merupakan nama silat yangtidak asing lagi. Sampai abad ke 20. pencak silat merupakan bagian tidak terpisahkan dari suku bangsa Minangkabau beranjak dewasa, di mana dia harus mengaji di atas surau dan belajar silat di halaman surau.

Mereka berlatih ketika itu dengan penerangan seadanya, batang bersuluh bambu yang dipancangkan di sudut sasaran. Akan tetapi ada juga tanpa penerangan, yaitu mengandalkan cahaya rembulan Anak-anak muda Minangkabau berlatih silat kadang sampai dini hari. Maka tidaklah heran bila bermunculan

9

Filsafat dan Mistisme dalam Pencak Silat

Pencak silat Minangkabau, tidaklah berdiri dengansendirinya. Ia diletakkan di atas dasar filsafat dan mistisme (agama). Tanpa filsafat dan mistisme maka pencak silat bagai raga tanpa jiwa Budaya ash Minangkabau yang berbaur dengan budaya yang datang dari luar, ikut mempengaruhi filsafat dan pandangannya, khususnya dalam ilmu bela din. Sebagai sebuah wilayah kebudayaan, Minangkabau menganut berbagai agama, yaitu agama Hindu,Buddha dan Islam, sebelum itu menganut animisme.

Filsafat

Pada umumnya setiap bangsa di dunia ini, apakah mereka telah mempunyai peradaban yang maju, maupun bangsa yang masih tergolong sederhana/primitif, pada dasarnya mereka mempunyai mitos dan dongeng, takhyul. Mitos dan dongeng serta takhyul tersebut mempengaruhi kehidupandan perkembangan alam pikiran mereka. Kadangkala mitos dan dongeng itu diceritakan dari mulut ke mulut (kaba), dari orang tua kepada anak-anaknya dengan berbagai cara. Di dalamnya kadang-kadang diceritakan keajaiban alam, kekuatan sesuatu benda alam atau dewa-dewa yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga tidak jarang hal tersebut membuat pendengarnya merasa takut dan kagum. Dari rasa takut dan kagum tersebut lama kelamaan menimbulkan berbagai fantasi, membawa orang ke alam bebas.

Mistisme

Adapun yang dimaksud dengan paham mistik di sini,yakni silat Minangkabau tersebut bukan saja menyangkut ilmu bela diri secara pisik tapi juga mengisi dada pesilat dengan kebatinan.

Assalamualaikum wr. wb. Saya mewakili kelas 94, untuk mengikuti lomba cerpen di sekolah kami dalam rangka HUT SMPN 1 prambon, semoga semakin sukses kedepan nya dan menjadi kan generasi muda lebih baik kedepan nya. Aamiin yarobbalalamin.

Nama : Juliana ayu lestari

Kelas : 94

Sekian dari kami,Waalaikumsalam wr. wb.