Lewat Pintu Samping

      Sudah 2 hari ini Yan dan Dede mempraktikkan teknologi elektronika sederhana.Mereka mengikuti petunjuk dari buku pembimbing yang sengaja dibuat untuk anak anak.Hari ini mereka membuat sirene. Sementara itu Irasedang asyik membaca surat dari pia saudaranya,Pia menceritakan tentang sahabatnya Titin Astrina yang pindah ke kota tempat tinggal Ira karena pekerjaan ayahnya.Pia berpesan agar Ira sekali-sekali mau bertandang ke rumah Titin.Ira mengajak Yan dan Dede untuk ikut ke rumah Titin setelah menceritakan surat dari Pia,namun mereka tidak mau. Sore harinya Ira terpaksa sendirian ke rumah Titin.

   Ditengah jalan Ira terkejut mendengar bunyi bel,cepat-cepat dia menepi 2 buah sepeda melesat menyalipnya.Mereka adalah anak laki-laki sebaya Yan,Aldi dan Darto ceking.Mereka berdua menggoda dan menggangu Ira,tapi Ira memutuskan untuk tidak meladeni mereka dan segera mengayuh sepeda dengan cepat.Akgirnya ia sampai di jln. Bali.Rumah Titin terletak di ujung jalan.Dia mengetuk pintu pagar rumah Titin,namun dia hanya bisa bertemu sebentar dengan Titin karena pembantunya tidak memperbolehkan ia masuk.

      Setibanya di rumah,Ira langsung bercerita tentang Titin dan 2 orang anak yang mengganggu nya tadi kepada Yan,Dede yang mendengar itu ikut kesal.Akhirnya mereka ke rumah Titin lagi pukul setengah empat sore,Yan tidak ikut karena sedang pergi.Namun bukannya bertemu dengan Titin mereka malah bertemu dengan pembantu dan ayahnya Titin,mereka sedikit berdebat karena tidak diperbolehkan menemui Titin akhirnya Ira dan Dede mengalah dan meninggalkan rumah Titin.Disebrang jalan ada Alfi dan Darto ceking yang tertawa melihat kejadian tadi.Karena Dede sedang jengkel karena kejadian dengan pak Suhudi akhirnya mereka pun mau berante, namun datanglah kak Sisil seorang mahasiswa yang ngekos dirumah pak Samingun disamping rumah Titin melerai dan menyuruh Darto dan Aldi pulang.Sedangkan Ira dan Dede mampir ke kos-an kak Sisil sambil bertanya tentang keluarga Titin.Karena menjelang malam akhirnya mereka berpamitan.

        Pagi itu Yan,Ira,dan Dede bersepeda beriringan menuju kantor polisi untuk menemui letnan Dipa komandan kepolisian setempat.Mereka menemui letnan Dipa untuk menyampaikan titipan pak buku dari pak Mintaraga ayah Yan dan Ira.Namun Letnan Dipa tidak ada ditempat,mereka malah menerima info bahwa rumah Titin akhirnya mereka bertiga menuju rumah Titin,sampai disana letnan Dipa menceritakan semuanya kepada Yan dan Dede sedangkan Ira berbincang dengan Titin sambil melihat pintu samping yang dicongkel oleh pencuri tersebut.Setelah dirasa cukup letnan Dipa menyuruh anak anak untuk pulang.Yan,Ira,dan Dede saling bertukar informasi tentang pencurian di rumah Titin.Mereka melihat banyak hal-hal yang janggal baik tentang waktu pencurian,cara pencurian yang sangat rapi,serta pintunya.Mereka menanyai saksi mata yaitu pak Jodin serta mencari informasi lebih.

         Pagi itu pembantu Dede menemukan surat di depan rumah Dede dan langsung diserahkan pada Dede,disana tertulis bahwa Mr.X mengetahui beberapa bukti tentang pencurian di rumah Titin.Yaitu robekan kain baju di kawat berduri,kawat yang putus dan linggis yang ketinggalan, akhirnya Dede langsung memberitahu Yan dan Ira dan langsung memeriksanya.Setelah diperiksa ternyata benar sesuai dengan surat yang Mr.X katakan,namun tiba-tiba datang 2 orang laki-laki yang menuduh mereka, akhirnya mereka pulang dengan perasaan jengkel.Keesokannya Dede baru mengetahui bahwa surat itu ternyata palsu dari Uud pekerja di rumahnya yang merupakan salah satu pemuda kemaren,ternyata surat itu dari Aldi dan Darto ceking yang tidak suka mereka bertindak sebagai detektif.Dede pun membalas surat tersebut sambil menyombongkan kelebihannya.Sedangkan Yan dan Ira pergi kerumah Bu Ignisa karena disuruh ayah mereka.Sesampainya dirumah Yan dan Ira mengatakan semua yang mereka dapat,Dede juga memberi tahu tentang Mr.X mereka pun pergi kerumah letnan Dipa untuk menyampaikan apa yang mereka ketahui.

         Keesokannya Yan,Dede dan Ira pergi kerumah Titin bersama Letnan Dipa beserta beberapa orang.Mereka menceritakan semuanya dari waktu,pintu yang dicongkel,serta surat dari Mr.X dan berargumen bahwa Mas Ikun yang merupakan pekerja pak Samingun yang merupakan tetangga pak Suhudi ayah Titin.Mereka menuduh Mas Ikun karena memiliki argumentasi yang kuat,Mas Ikun pernah menjaga rumah pak Suhudi sebelumnya dan ada kejadian kunci samping hilang yang ternyata hanya keselip,ada bukti juga yaitu bata yang jatuh,pecahan plastik sepatbor kak Resna karena Mas Ikun,dan juga sarung tangan Mas Ikun yang berada di halaman belakang rumah Titin.

         Akhirnya mas Ikun ditemukan dengan salah satu temannya dan memang benar bahwa mas Ikun yang mencuri di rumah Pak Suhudi.Titin juga bercerita mengapa keluarganya aneh dan tertutup,itu karena ibunya Titin pernah mengikut arisan sampai harus menjual rumahnya yang lama dan juga sedang jatuh sakit karena ayah Titin tidak mau ibunya kembali terjerumus ke hal itu lagi akhirnya beliau membatasi diri dari lingkungan sekitar.