Lembah Hijau

Bab 1
Ibu Meninggal Dunia
Diusianya yang masih 12 tahun, Ujang harus hidup sendiri. Ibu dan ayahnya telah meninggal. Ujang hanya punya pekarang, kambingnya ‘Si Putih’, dan dua ayamya ‘Si Bintik-Bintik’. Meski ia yatim piatu, ia tetap bersekolah seperti nasihat ibunya, walaupun Pak Mamat mengejeknya. Selain sekolah, ia juga merumput untuk kambingnya juga kambing Pak Wira untuk mendapatkan uang guna menyambung hidup. Tapi, ia berhenti merumput untuk kambingnya Pak Wira, karena Pak Wira tidak membayar upahnya lagi.

Semakin hari, uang Ujang semakin habis. Lalu, ia melihat buah nangka yang ada dibelakang pondoknya yang hampir masak. Ia berfikir akan menjual buah itu ketika sudah masak. Tapi, ketika sudah matang, buah itu hilang dicuri orang. Kesedihannya belum hilang saat Pak Mamat mengajaknya bekerjasama. Pak Mamat ingin menanami tanah Ujang dengan kacang tanah dan hasilnya dibagi dua. Ujang setuju dan untuk menyambung hidupnya sebelum kacang tanah siap panen, ia menjual ayamnya Si Bintik-bintik. Selain itu, dia juga bekerja di pasar sebagai kuli angkut. Tapi, setiap penghasilannya selalu dibagi dua dengan preman pasar yang selalu mengancamnya.

Kacang tanah sudah siap panen. Ujang sempat bertanya akan harga kacang itu kepada sang pemborong. Ia hitung-hitung uang yang akan diterimanya cukup untuk hidup dan untuk membayar sekolahnya. Tapi, ternyata Pak Mamat melakukan kecurangan dalam membagi hasilnya. Hari berikutnya, kambingnya dicuri oleh orang yang telah membeli kacang tanahnya. Ujang sangat terpukul dan kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang. Ia merasa tidak ada lagi orang yang baik di dunia ini. Akhirnya, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk mencari orang baik. Ia menumpang truk yang akan pergi ke Jakarta dengan membawa bekalnya seadanya. Sesampainya di Jakarta, ia hanya berjalan mengikuti hatinya hingga ia sampai di depan sebuah rumah. Tiba-tiba ada tukang becak yang berhenti dan minum dari guci yang ada di depan rumah itu.

Melihat itu semua, Ujang menganggap bahwa pemilik rumah itu baik, ternyata setelah ia bertemu dengan pemilik rumah prasangkanya salah.
Ujang memutuskan pergi ke kali untuk mandi, tapi karena airnya keruh, ia mengurungkan niatnya. Perlahan, air matanya menetes bersama air hujan yang membasahi tubuhnya. Dari bawah jembatan, ada suara yang memanggilnya untuk berteduh. Ujang menghampiri suara itu. Ia disambut oleh seorang wanita. Ujang mulai nyaman ketika ia tidur bersama wanita itu. Ia merasa mendapat kasih sayang dari seorang ibu. Tapi, lagi-lagi kepercayaan itu hancur. Ketika ia membuka matanya, wanita itu telah hilang beserta bekalnya yang ia bawa dari kampung. Ujang pergi dan sampai di depan sebuah Rumah Yatim Piatu. Ia merasa mendapat apa ynag ia cari selama ini.

Ternyata tidak.

Ia keluar dari Rumah Piatu itu dan bertemu dengan Pak Arif. Seorang guru yang tinggal bersama anaknya, Iwan. Ujang menceritakan semua kisahnya kepada Pak Arif. tentang ketidakpercayaannya lagi pada manusia. Pak Arif memberi nasihat kepada Ujang untuk tidak menghakimi orang hanya dengan satu bukti saja dan Ujang menerima nasihat itu. Selama satu tahun Ujang bersama Pak Arif, hingga ia bertemu dengan Ibu Marni. Wanita yang telah mencuri uangnya saat di kolong jembatan. Ibu Marni memberi penjelasan atas kejadian itu dan mengembalikan semua uang Ujang yang telah berbunga menjadi banyak karena Ibu Marni sangat menyesal atas kejadian itu. Ibu Marni juga mengangkat Ujang menjadi anaknya.
Saat liburan sekolah, Ujang diajak berlibur ke pondoknya oleh Ibu Marni beserta Iwan. Saat itulah semua prasangka Ujang tentang keburukan orang-orang kampungnya hilang. Pak Mamat yang dulu mencuranginya mengaku salah dan mengembalikan uang Ujang. Begitupun Pak Pak Wira mengakui kesalahannya. Sedangkan preman pasar yang telah mengambil setengah dari hasil kerjanya, kini telah di penjara. Ternyata semua nasihat Pak Arif benar. Itulah yang dirasakan Ujang. Kini ia lebih ringan menjalani hari-harinya.

Bab 2
Mencari Sesuap Nasi
Setelah 10 hari habislah persediaan beras. Sekarang Ujang harus membeli beras setengah liter perhari. Ia memakan nasi dengan sayuran rebus. Almarhumah ibunya rajin memasak sayur sayuran di halaman pondok mereka. Ujang saban hari memetik cabe rawit karena ia suka makan pedas. Selain dari tanaman sayur sayuran Ujang juga menanam beberapa pohon bunga mawar dekat pintu pondok mereka. Kadang kadang jika angin bertiup, sampailah bau wangi itu ke dalam pondok.

Uang Ujang lekas susut. Ia mencari cari apa yang bisa mdijual. Dibelakang pondok ada sebuah nangka yang berbuah. Tiap hari ia memeriksa apakah nangka itu sudah matang. Beberapa hari kemudian masaklah buah nangka itu. Besok adalah hari minggu dan Ujang tidak bersekolah. Maka pagi pagi benar Ujang membawa pisau hendak memetik nangka itu. Betapa terkejutnya ia melihat nangka yang sudah matang tersebut tidak ada pada pohonnya. Dan disekililing pohon nangka itu terdapat jejak kaki orang.

Air mata Ujang berlinang linang. Ia amat sedih. Hillanglah kesempatan untuk memperoleh uang untuk membeli beras dan membayar uang sekolah. Ujang kembali sadar, waktu iian dengar ayamnya berkokok dan kambingnya mengembik. Ujang pergi menyabit rumput. Waktu ia sedang mengarit, dia teringat dulu ia pernah menyabit rumput untuk tetangganya Pak Wira namanya. Dengan gembira ia menyabit rumput banyak banyak setengahnya untuk kambingnya dan setengahnya lagi untuk Pak Wira. Pak Wira menerima rumput sabitan Ujang dengan gembira. Tetapi waktu Ujang meminta upahnya Pak Wira hanya memberinya sepuluh rupiah.

Ujang terpaksa menerima uang itu, biarpun jumlahnya sedikit tapi ia sangat butuh uang. Demikianlah beberapa hari Ujang menyabitkan untuk Pak Wira. Namun Ujang tidak mendapatkan upahnya begitu juga esoknya. Ujang tak tahan lagi, ia menuntut upahnya,
“Ah cerewet kau! Kan aku sudah bilang tak ada uang kecil” , bentak Pak Wira.
“Lain akali tak usah sabitkan rumput untuk kambingku membuang buang uang saja cucuku juga sudah besar. Dia juga bisa menyabi rumput lalu Pak Wira masuk kerumahnya.
Ujang meninggalkan orang tua itu dengan dada tang berat. Airmatanya berderai ketanag dengan hati kecewa ujang balik ke pondoknya.

Bab 3
Ujang Menjual Ayam Bintik Bintiknya

Ujang makin hari makin kurus karena persediaan berasnya tinggal sedikit. Bahkan saat di sekolah ia sampai ditegur oleh gurunya karena perutnya terus berbunyi saat jam pelajaran. Ujang hanya tertwa malu mereka tak tahu bahwa Ujang bukan lapar lagi tapi kelaparan. Akhirnya habislah persediaan berasnya. Uang pun ia juga tak ada sepeserpun. Jasmani dan rohaninya lemah karena kkekurangan makan.
Pada suatu hari Ujang menceritakan nasibnya kepada Pak Memet. Tapi Pak Memet justru menyerang Ujang dengan kata kata. Ujang menawarkan diri untuk bekerja sebagai kacung atau gembala pada Pak Memet.
“Begini saja jang, halaman pondokmu kan luas bagaimana kalau kita tanami dengan kacang tanah. Nanti hasilnya kita jual dan kita bagi dua.” Kta Pak Memet
“ Setuju pak, nanti untungnya kita bagi dua.”
“Tapi jang hasilnya itu bebrappa bulan kemudian baru bisa dapat dipugut sementara bagaimana nanti kau hidup?.”
“Teruskan saja rencana bapak. Mulailah selekas mungkin untuk mengolah tanah menjadi perkebunan kacang itu. Jangankhawatirkan saya, saya sudah ada jalan untuk memecahkan soal makanku.”

Pulang dari rumah Pak Memet ia pergi ke makam ibunya untuk mengatakan bahwa ia harus menjual ayam bitik bintiknya. Pusara ibunya hanya diam saja. Esoknya ia menangkap ayam ayamnya. Ia mengikat kaki ayam tersebut dan berangkat ke pasar Cipanas. Pasar Cipanas tak begitu jauh dari Cimacan. Sampai dipasar Cipanas Ujang mencari tempat untuk menjual ayamnya. Tapi ia heran karena pembeli selalu menawar dengan harga yang lebih rendah daripada ayyam yang lain. Apakah karena ia seorang anak kecil. Kalau benar demikian maka alangkah jeleknya mereka. Pasar mulai sepi Ujang pun mulai cemas. Akhirnya karen atak ada pembeli ia menjual pada pedagang ayam dengan harga yang murah yaitu hanya empat ratus ribu rupiah.

Akhirnya Ujang dapat membeli beras merah sepuluh liter yang berharga dua ratus ribu rupiah dan ikan asin yang berharga limabelas rupiah. Ia juga harus membayar sekolahnya sebesar liimapuluh ribu rupiah. Ia pulang ke Cimacan dengan hati dan kaki yang berat. Alangkah capeknya Ujang, sampai di pondok ia langsung memasak nasi dan iikan asinnya. Lalu dengan sangat lahap Ujang memakan makanannya. Selepasnya ia pun terkapar sambil mengorok.

Bab 4
Bekerja di Pasar Cipanas
Pagi itu Ujang bersiul kecil karena hari cerah dan perutnya kenyang. Nanti ia akan membayar uang sekolah dan har ini Pak Memet akan mulai menggarap pekarangannya. pulang dari sekolah, didapatinya Pak Memet sudah mencangkuli pekarangannya. Setelah dibereskannya tanah itu dibuatnya barisan tanah yang ditinggikan. Demikianlah Ujang setiap hari menolong Pak Memet setiap pulang sekolah. Dalam seminggu siap lah tanah untuk ditanami. Pak memet membeli benih sebanya 4 kg dan disebarnya di tanag yang siap ditanami serta menutupnya kembali dengan tanah.

Pada suatu pagi Ujang membuka pintu pondok. Ia tersenyum melihat tunas tunas hujau muda muncul dari tanah coklat dipekarangannya. Namun hasilnya masih lama ia butuh uang untuk tetap bertahan hidup. Maka ia berpikir akkan menjual kambingnya Si Putih. Namun ia mengurungkan niatnya itu. Akhirnya ia mendapat akal lagi. Ia pernah melihat anak anak seusianya membawakan belanjaan ibu ibu di pasar Cipanas.

Besoknya pada hari munggu ia berangkat ke pasar Cipanas dan menawarkan diri kepada nyonya nynya untuk dibawakan belanjaannya. Segala tindak tanduk anak disana ditiru oleh Ujang dan ia beruntung karena ia yang paling rapi dan bersih dan juga sopan. Waktu sudah sore dan pasar mulai lengang ia mendapat hasil dua ratus ribu rupiah. Lalu ujang membeli 5 liter beras dan ikan asin dua puluh ribu rupiah. Sebelum pulang ia membeli lontong sepiring karena ia sudah lapar.Sampai dipondoknya Ujang segera merebahkan badannya perasaan bahagia sedang menyelimutinya ia telah berhasil hari ini.

Bab 5
Panen Kacang Tanah
Setelah kira kira tiga bulan umur kacang tanah tersebut Pak Memet selalu memeriksaapakah suda tiba waktunya panen. Akhirnya tibalah hari yang ditunggu, yakni waktu panen. Ujang dengan semangat membantu Pak Memet. Setelah berhasil menjual hasil panennya Ujang tidak pernah diberi tahu berapa hasil dari penjualan kkacang tersebut. Ujang merasa curiga ia berpikir ada yang tidak beres atau mungkin ada kecurangan. Ujang mencari akal bagaimana agar bisa tahu harga satu kaleng kacang.

Umtumglah pada waktu istirahat ditengah hari Ujang melihat ada pembrong yang berdiri didekat kandang kambingnya. Ternyata setiap kaleng dihargaindua ratus lima puluh rupiah. Dari tadi pagi ada 11 kaleng yang masukjika dijumlah maka akan mendapatkan hasil sebesar 11.000 uang yang cukup banyak betapa senangnya hati Ujang.Maka setelah pemborong itu pergi pada malam hari Pak Memet menerima juangnya sambil menjauhi ujang dan Ujang dengan rasa curiga hanya bisa menuggu. Setelahnya Ujang hanya diberi bagian dua ribu rupiah padahal Ujang tahu betul bahwa Pak Memet mendapat hasil sebelas ribu rupiah. Ujnag pun protes kepada pak memet. “Dari mana kau tau aku mendapat uang sebelas ribu?” kata pak memet. “Aku ini bukan anak kecil lagi pak aku juga bersekolah jadi aku bisa menghitung” Maka terlibatlah cekcook antara Pak memet dan Ujang karena ia bersikeras untuk mendapat separo bagiannya namun dengan licik pak memet berdalih ia tidak pernah mengatakan bahwa hasilnya akan dibagi dua melainkan hanya bagi bagi. Demikian Pak Memet terus membenta Ujang untuk menutupi kugugupannya “Tapi itu kan sewajarnya pak! Tanah ini tanahku, aku yang memelihara kebun ini. Bapak hanya menanam dan memanennya.” “ Biarpun tanah ini tanahmu namun tidak berarti apa apa jika aku tak menanaminya untug aku menanaminya jadi kau dapat menikmati sedikit dari hasilnya.
Ujang berdiri mematung melihat penipu itu pergi tak disangkanya sesorang yang dikiranya baik ternyata malah sebaliknya.

Bab 6
Si Putih Dicuri Orang
Ujang lesu. Bkan badan saja yang lesu, semangatnya juga kendor. Sejak ia bangun tadi pagi, ia duduk terkuli saja bersandar di pintu gubuknya. Biasanya Ujang seorang yang periang. Begitu ia bangun begitu pula ia tersenyum menyambut pagi hari baru dan matanya bersinar sinar bersama sinar matahari terbit. Dan biasanya semua tingkah lakunya gesit dan bersemangat.

Pagi ini air untuk minum belum juga di terangkannya dan ia tak kunjung pergi mandi. Pergi sekolahnpun ia malas. Matahari sudah semakin tinggi namun Ujang tak beranjak dari tempat duduknya. Hari itu ia juga tak bersekolah. Ujang tak makan apa apa juga hari itu. Ia juga tak nafsu makan. Hanya air minum yang masuk ke perutmya. Lalu ia tenggelam dalam mimpi.

Entah karena mimpi buruk atau lapar tiba tiba ia terbangun ditengah malam. Ia mendengar Si Putih mengembek. Ujang ingin melihat Si putih ke luar, tapi ia takut. Kambingnya seperti tercekik. Ia tak peduli dengan angin dan gelap itu ia segera lari menuju kandang kambingnya.

Sampai disana dilihatnya sosok tubuh yang berdiri dan berbaju serba hitam menyeret si putih keluar dari kandangnya. Ujang meneriaki orang tersebut agar melepaskan si putih namun dengan mudah dilemparnya ujang jauh jauh. Ujang jatuh terkapar kepalanya terbentur oleh batu daan ia pingsan. Waktu ia sadar kembali, hari sudah pagi. Kiranya kepalanya benjol sebesar telur. Di bagian itulah kepalanya terbentur batu semalam.

Dalam beberapa hari pulihlah kesehatan Ujang mulai pulih. Ia mulai sadar bahwa putih sudah di curi. Sekarang ujang yang masih muda itu lagi lagi harusmemikikirkan hidupnya selanjutnya. Untuk bergantung pada orang desanya juga tak memungkinkan karena tidak ada yang bersikap baik pada Ujang. Ia berpikir untuk pergi merantau. Esoknya pagi pagi sekali ia memandang pondoknya dan mengambil beberapa bungkusan. Dengan mata yang bgerkaca kaca makai berderailah airmatanya membasahi bunga mawar itu. Sekarang ia berada di pusara ibunya menceritakan semua pada ibunya dibiarkannya air matanya berderai.

Bab 7
Hari Pertama di Jakarta
Ujang berjalan kaki ke pasar Cipanas. Ia berniat ingin menumpang truk truk yang ada di pasar tersebut. Hanya ada satu yang bersedia membawa dia.
“Berapa kau bisa bayar, Jang?” tanya supir truk itu
“uang kecilku ada sembilan puluh ribu rupiah, cukup ini pak?”
Ujang di suruh duduk di belakang di atas susunan bermacam macam sayur yang tinggi . Angin pagi dingin benar, sampai terasa ke tulang tulangnya. Sebab itu ia menyelubungkan kain sarungnya ke seluruh badannya supaya terhambat sedikit angin yang menyayat itu. Sampai di Bogor udara tak begitu dingin lagi, karena matahari sudah tinggi.

Hari sudah panas benar ketika memasuki kota Jakarta Ujang melihat kanan dan kiri Maklumlah ia anak desa yang baru datang ke kota. Hawa Jakarta sangat panas oa terus berjalan dan memilih yang ditanami pohon pinggirnya. Di depan pagar sebuah rumah yang indah beberapa batu tersusun dan ada sebuah guci besar yang tertutup.

Tiba tiba ada sebuah becak yang berhenti ternyya guci itu berisi air. Tukang becak itu meminum sepuasnya dan gayung diletakan diatasnya. Setelah tau bahwa air itu boleh diminum maka ujang lekas mengambil gayung itu dan mengambilnya dan diminum. Ujang merasa lega. Namun saat hendak menemui tuan rumah itu ia malah dibentak bentak oleh pemilik rumah tersebut.

Rasa lega tadi hilanglah dan batu berat itu kembali menghimpit dadanya. Rupanya tak ada pula orang yang baik. Matahari sudah condong dan langit mulai mendung. Sekarang ia duduk sendiri di tepi sungai keruh dan hujan perlahan turun.

Tiba tiba Ujang mendengar ada yang memanggilmanggil lalu ia menghampiri seorang wanita yang memanggilnya dibawah jembatan. Ujang memandang sekitarnya. Beberapa orang lain duduk nongkrong tak jauh dari mereka. Lalu perempuan tersebut membagi makanan serta minumannya. Setelahnya ia menyuruh ujang agar tidur.ujang menghela nafas panjang ternyata oeang minta minta tersebut orang baik. Ujang tidur dengan perasaan tenang.

Bab 8
Ujang Masuk Rumah Piatu
Ujang terbangun karena derum derum dan hiruk pikuk di atas kepalanya yang makin lama makin keras. Lalu ia iangat perempuan minta minta tadi. Ia mengira perempuan itu menunggunya diatas jembatan. Namun tak ada siapapun. Ujang terduduk lemas setelah menyadari seluruh barangnya dibawa kabur. Sungguh pait Ujang tak percaya pada siapapun lagi. Ujang berdiri didepan rumah yang besar. Lama kelamaan tubuhnya lemas dan ia tak sadarkan diri.
Ia berada d ruang asing dengan seorang perawat ternyata ia pingsan dan ditolong oleh ibu pemilik panti asuhan. Ujang segera disuruh istirahat oleh perawat iu. Setelah beberapa hari ia mulai sembuh Ujang juga banyak diceritakan tentang pendiri panti itu. Setelah benar benar pulih ia mencoba menemui bu Widya dan menceritakan masalah nya lalu ibu widya menawarkan supaya ia tinggal di panti tersebut.
Semua yang tinggal di panti harus patuh aturan dansekolah. Setelah tamat sekolah anak anak tersebut dicarikan pekerjaan. Bagaimanapun hidup ujang di rumah piatu itu teratur makan cukup, makan teratur, kesehatan dan pendidikan diperhatikan.ujang sangat bahagia ia mendengar ibu widya membentak anak anak dan menghukumnya. Dengan kepala tertunduk Ujang meninggalkan Ibu Widya. Ruoanya benar benar tidak ada orang baik`

Bab 9
Ujang Bertemu Dengan Pak Arif
Ujang mengerjakan hukumannya dengan rasa lesu. Ia merasa lesu,bukanlah kaena pekerjaan membersihkan 5 buah kakus dan 5 buah kamar mandi, tapi ia lesu, karena kecewa. tiba tiba, Ujang meletakkan sapunya dan Ujang pun ikut ikut pula dengan arus manusia itu. Ke mana aliran itu menjurus Ujang tak peduli. Ujang di kejutkan oleh lonceng berbunyi. Ada yang berlari lari, ada yang berteriak teriak dan ada pula yang bergurau tertawa tawa. Iri hati Ujang melihat mereka itu. Rupanya rumah Pak Guru itu tak jauh letaknya dari sekolah. Setelah sampai ia dirumahnya pintu p;agar di bukanya, lalu ia hendak menutupnya kembali. Barulah ia melihat Ujang yang berhenti pula di depan pintu pagarnya. Pak Arif terdiam sebentar sambil mengerutkan keningnya. , lalu setelahnya pak arif mengajak Ujang untuk makan setelah makan Ujang turut membantu iwan membersihkan meja dan mencuci perabotan yang kotor. Lalu Ujang menceritakan kehidupannya setelah ibunya meninggal.

Bab 10
Pertemuan yang Tak Disangka sangka
Ujang kira kira telah setahun tinggal bersama Pak Arif dan iwan. Selain rajin belajar ia juga sering mengerjkan pekerjaan rumah. Setelahnya Ujang berniat meminjam buku cerita mulik udin saat berjalan pulang Ujang berhenti karena ada seorang perempuan yang memanggilnya. Ia teringat perempuan tersebut adalah perempuan minta mita yang dulu mengambil uangnya dan membawa kabur pakaiannya. Ia berniat meminta maaf kepada Ujang. Ujang dengan keras hati memaafkan perempuan tersebut.
Rumah perempuan itu di pakai di bagian depan untuk kedainasi selain itu juga dapat membel kopi beserta pisang atau ubi goreng. Setelah bercerita Ujang terharu melihat perempuan itu.. ia memegang tangan bu marni lalu tiba tiba bu marni lari ke kamarnya membawa sebuah bungkusan setelah di buka Ujang ternyata itu adalah bajunya yang di ambil bu marni.

Bab 11
Ujang menjadi anak bu marni
Waktu mereka masih berada di tengah jalan baanyak pertanyaan pertanyaan yang di ajukan bu marni pada Ujang salah satunya yaitu dengan menawarkaan ujang untuk menjadi anak angkatnya. Ujang yang sangat memerlukan kasih sayang seorang ibu tertarik dengan usul bu marni. Sungguhpun demikian ia memandang Pak arif meminta pada pak guru yang baik itu.
Pak arif menepuk nepuk bahu ujang sambil berkata bahwa ujang adalah anak yang baik rajin dan cerdas. Gampang baginya untuk membimbing seorang anak yang demikian.bu marni menerima ujang dengan tangan dan hati terbuka dia amat bahagia mempunyai anak yang dikasihinya dan ujang bahagia pula mendapat ibu yang mengasihinya.

Bab 12
Lembah hijau di tumbuhi bunga
Sudah setahun ujang tinggal bersama bu marni. Mereka berdua hidup kasih mengasihi seperti seorang ibu dengan anaknya.

Waktu ujang mengetahui ibu marni buta huruf, ia segera mengajarkan membaca dan menulis. Ujang sabar mengajar dan bu marni tekun belajar. Sekarang, bu marni sudah pandai membaca buku bacaan yang di baca anak kelas dua SD. Ujang juga sering bertemu pada oak arif dan iwan. Kadang kadang bu marni ikut pulang. Pak arif sering pula ikut dengan iwan dan bila perlu pak arif memberi nasihat pada ujang. Demikianlah hubungan keluarga itu selalu erat.

Nama : Claudia Dwi Citra Sari
Kelas : 7-3
No absen :03