Karena Mentua

“Hari sudah malam, suatu punggung yang tertutup baju daripada kain putih yang telah kumal, kelihatan bergerak dengan perlahan-lahan dan sejurus antaranya tersembullah sebuah kepala diatas dataran hijau di tengah-tengah sebidang sawah yang amat luas.Ketika kepala itu berpaling ketempat suara yang merdu tadi itu, barulah nyata rupa seorang laki-laki yang berdiri lurus sebagai sebuah patung tanah liat. Orang itu tidak terlihat yang dapat dipastikan hanyalah badannya amat tegap dan kukuh.

    “Berhenti dahulu kak”, kata suara itu sekali lagi dengan lebih lembut dan manis jua, “marilah kita pulang. “

      Orang itu tak menjawab, melainkan berjalan lambat arah ke dangau itu. Tiba-tiba ia berhenti, sambil melayangkan pandangan agak lama ke jalan raya yang terbentang di tengah-tengah lautan padi itu. “O,…  ada Oto, katanya “siapa gerangan yang pulang dari rantau? Tentu ada yang… “perkataannya harus diputuskannya, sebab pikiran sudah terhadap pula kepada usahanya. Ia melangkah ke muka, selangkah dan sekali ia pun membungkuk akan memperbaiki dan memperlurus tegak rumpun padi yang tumbuh berbaris di tepi pematang yang dilaluinya. Dekat dangau ia berdiri sebentar serta memandang pula berkeliling.

“Lekas benar hari malam  rasanya,kerja awak sedang terbengkalai”.Dan orang laki-laki serta perempuan  yang bekerja sehari-harian dengan rajin menyiangi rumput disawahnya pun sudah berjalan ke dangaunya masing”masing pula, akan menyimpan kuir dan sabitnya, karena waktu beristirahat telah datang. Kedua laki-istri itu pun pulang.

Marah Adil, telah beristri dengan seorang anak gadis bernama Ramalah. Mereka itu sangat rukun. Hidupnya hanya dari mengerjakan sawah ladangnya. Tetapi mentua Marah Adil yang gila akan kekayaan dan pangkat, tidak senang bermantukan dia. Ada-ada saja usaha untuk menceraikan anaknya dari kekuasaan menantunya itu.

Pada suatu hari Marah Adil pergi merantau ke Lampung untuk mencari penghidupan baru guna memperbaiki keadaan rumah tangganya, lebih-lebih untuk istrinya Ramalah.

Bukan main senang hati Mak Guna, yakni ibu Ramalah, melihat menantunya pergi itu. Ia terpengaruh oleh kekayaan Sutan Melaka yang baru datang dari Bengkulu dengan istrinya yang sarat dengan perhiasan yang melekat pada tubuhnya. Ia menginginkan bermenantukan Sutan Melaka. Keputusan terjadi dengan akan dinikahkannya Ramalah dengan Sutan Melaka.

Ramalah dibujuk-bujuk oleh ibunya dengan jalan memfitnah Marah Adil yakni dikatakannya bahwa Marah Adil merantau itu hanya untuk berpetualang saja. Ramalah tak percaya akan fitnah itu. Karena ia masih cinta kepada suaminya dan karena hari pernikahan paksa itu telah dekat, maka akhirnya Ramalah mengirimkan telegram kepada Marah Adil agar lekas pulang.

Bukan main terkejut Mak Guna setelah akan pergi mengantarkan anaknya ke rumah kadi, tiba-tiba melihat Marah Adil datang. Sebaliknya betapa senang hati Ramalah melihat suaminya datang.

Marah Adil kini telah bermodal sedikit, dan ia bermaksud menjadi saudagar kecil di daerahnya. Walaupun demikian namun dendam Mak Guna kepada menantunya itu masih tetap ada. Ada-ada saja sindiran yang dilemparkan kepadanya.

Pada suatu ketika Mak Guna bertemu dengan Mak Amin, teman sepermainannya dulu. Mak Guna tercengang melihat rumah Mak Amin yang besar dan sarat dengan perhiasan yang mahal-mahal itu. Mak Amin mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Ramli. Ia menjadi komis pos dan telah menikah dengan gadis dari Bandung bernama Suriati.

Timbul dalam hati Mak Guna akan mengambil Ramli menjadi menantunya. Kunjungan balasan Mak Amin ke rumah Mak Guna menyebabkan Mak Amin terpikat hatinya kepada Ramalah yang cantik itu. Mak Amin mulai benci kepada menantunya.

Akhirnya Mak Guna dan Mak Amin bersepakat akan menikahkan anaknya. Walaupun Ramalah masih cinta kepada Marah Adil, demikian pula Ramli dengan Suriati, namun mereka itu tak kuasa menolak paksaan ibu mereka masing-masing.

Daya upaya Mak Guna berhasil. Dengan jalan bertengkar lebih dahulu dengan menantunya, berhasillah Mak Guna melepaskan anaknya dari kekuasaan Marah Adil. Karena malu terpaksalah Marah Adil menceraikan istrinya, walaupun hal itu sangat berat baginya.

Pada suatu hari Ramalah akan dinikahkan dengan Ramli. Ramai benar rumah famili Mak Guna tempat Ramalah akan dinikahkan itu. Sebelum mempelai laki-laki datang, tiba-tiba muncullah Marah Adil dengan pakaian hitam dari belakang dan terus masuk ke dapur. Dengan sebilah pisau ia hendak menghajar Mak Guna untuk membalas dendamnya. Tatkala hendak menikam Mak Guna, tiba-tiba Ramalah melompat ke hadapan Marah Adil dengan berkata “wahai kanda akulah bunuh!! Aku yang salah aku…. tak betah menanggung azab semacam ini” untuk menggantikan ibunya yang hendak dibunuh itu. Marah adil tercengang sejenak,pisau yang berlumuran darah telah mengenanai bukan sasaran yang di maksud. Sementara itu jerit dan keluh yang menghancurkan luluhan jiwa raganya kedengarannya:”ampun kanda, sekarang barulah senang hati ibuku. La ilahailallah.

Ramalah kena tikaman pisau dan seketika itu juga meninggal. Melihat hal itu, seketika itu juga Marah Adil mencabut pisau dari dada Ramalah dan menancapkannya didadanya.Dan ia pun rebag di sisi bekas istrinya.Banyak orang berbondong bondong menolong mereka.

      Lepas dari pemeriksaan polisi dan kedua mayat di angkut ke rumah saikit barulah ramli pulang dengan cepat kerumah.Sampaj dirumah ia melihat Suriti yang berbaring di tempat ia pingsan.tidur.tiada bangun.Pertolongan dokter tiada berbekas.Dokter memberi nasihat agar suruti dibawa kekota yang berhawa dingin. Nasihatnya di turuti ramli,dua hari sesudah itu ia dan istrinya berangkat ke bukittinggi dengan otot sedan.

Dari situ  Ramli kemudian menokok kawat ke tanah jawa,ke kantor pusat jawatan pos dan kawat.ia minta pindah keluar sumatra.benar setelah kira-kira sebulan lebih keduanya beristirahat di Bukittinggi yang beriklim sehat itu,Ramli menerima surat ketetapan,bahwa ia pindah di kantor pos Malang.Ketika suriti sudah sehat.Akan tetapi luka hatinya masih terbayang tutur katanya dan gerak-geriknya, lebih-lebihnya mak Amin.

Ramli dan istri yang setia berlayar ke Jawa kembali .Sedih  hati kedua suami istri itu karena beberapa bulan kemudian mendapat kabar bunda almarhum Romalah telah meninggal sesudah kena penyakit jantung.

Monica Nova Wijaya

kelas 9-2