Hikayat Kera dengan Kura kura

Setelah selesai Baidaba bercerita, bertitahlah Raja Dabsyalim,

“Sudah kita dengar hikayat itu. Sekarang guru ceritakanlah pula

Perumpamaan orang yang bersungguh-sungguh mencari sesuatu, tetapi

Setelah barang itu diperolehnya, maka disia-siakannya saja.”

                 ” Ampun, Tuanku, kata orang pandai-pandai, mengingini sesuatu

Lebih mudah daripada memeliharakannya setelah dapat. Orang yang

telsah memperoleh barang yang dikehendakinya, tetapi tiada memeliharakannya

Sebagaimana patutnya , samalah halnya dengan Kura-kura

Yang bersahabat dengan Kera. Oleh karena kurang bijaksananya, barang

Yang sudah dalam tangannya dilepaskan pula.”

           “Bagaimanakah hikayatnya?”

Seekor Kera duduk menjadi raja dalam suatu hutan. Setelah lamanya memerintah,

Raja itu pun tualah, lalu bangun seekor Kera muda daripada keturunannya juga, mengalahkannya. Kera tua itu pun larilah mengasingkan diri ke pinggir laut, dan di situ

Ia diam pada sebatang pohon Ara yang tumbuh di tepi pantai. Pada suatu hari ia duduk

memakan buah Ara, tiba tiba terlepas sebiji dari tangannya, jatuh ke dalam air. Amat

merdu terdengar bunyi buah jatuh itu, lalu dipetiknya beberapa buah, dijatuh-jatuhkannya

Dengan sengaja.

                 Di bawah pohon itu ada seekor kura-kura. Tiap-tiap ada buah jatuh, diambilnya

dan dimakannya. Oleh karena tiap hari demikian, timbullah sangka dalam hatinya, barangkali

karena hendak berbuat kebaikan juga maka kera dengan sengaja menjatuhkan buah kayu

itu. Sebab itu terbitlah keinginannya hendak bersahabat dengan berseru-serulah ia mengajak

Kera berkenalan. Ajakannya diterima baik oleh kera, mulai hari itu kedua makhluk itu pun bersahabatlah, berkasih-kasihan.

           Karena telah lama ia tiada pulang-pulang susahlah hati istrinya dan mengadulah ia

kepada tetangganya. ” Kuatir aku,” katanya, “kalau-kalau ada sesuatu mata bahaya menimpa

suamiku maka tiada dia pulang.”

         “Kata orang, suamimu selamat saja,” jawab tetangganya. “Dia diam di tepi pantai, bersahabat dengan seekor Kera. Itulah sebabnya maka dia lupa kepadamu. Rasa hatiku

tiadalah engkau akan dipedulikannya lagi, melainkan kalau dapat kera itu dibinasakan olehmu.”

           ” Bagaimana akalku akan membinasakan kera itu?”

” Apabila suamimu pulang nanti, berbuatlah pura pura sakit. Kalau ditanyakan hal mu, katakan bahwa menurut kata tabib, penyakitmu tiada akan sembuh, melainkan kalau dapat hati kera

akan obatnya.”

             Pada suatu hari teringatlah kura-kura akan istrinya,lalu pulanglah ia. Dilihatnya istrinya sakit, sedihlah hatinya dan bertanya, “Apakah sebabnya maka engkau kelihatan berdukacita saja?”

           ” Istrimu sakit,” jawab tetangganya. ” Sakitnya amat berbahaya, dan kata tabib tiada suatu

Obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya itu, selain dari hati kera.”

“Darimana akan kita peroleh barang itu,” katanya, “kita ini hidup di air, dan kera di daratan.”

                   Tiba-tiba teringat olehnya akan raja kera sahabatnya. Ketika itu juga timbullah niatnya hendak menipu sahabatnya supaya dapat dibunuhnya dan diambil hatinya. Setelah niatnya kembalilah ia ke tepi pantai menemui raja kera.

          ” Hai, sahabatku,” seru kera, ketika melihat kura-kura datang, “apakah sebabnya beberapa hari ini engkau tidak kelihatan-kelihatan lagi?”

          ” Aku malu kepadamu, hai sahabatku,” jawab kura kura. ” Budimu kepadaku tiada akan terbalas olehku selama-lamanya. Oleh sebab itu kuharap Susilah engkau menyempurnakan kebaikanmu kepadaku dengan mengunjungi rumah tanggaku, bertemu dengan anak istriku.”

         ” Sangat sukacita hati kera, mendengarkan kata sahabatnya demikian, dan maulah ia mengikut. Ia naik ke punggung kura-kura, dibawalah ia oleh sahabatnya itu berenang. Di tengah jalan timbullah dalam hati kura kura perasaan yang kurang enak memikirkan niatnya yang jahat itu.

   Maka heranlah kera melihat kelakuannya itu, seraya bertanya, ” Hai sahabatku, apakah sebabnya maka engkau kulihat seperti orang dalam kesusahan lakumu?”

       ” Sebenarnya lah seperti katamu itu,” jawab kura kura, ” Istriku sakit dirumah. Sebab itu susah hatiku memikirkan kalau kalau tak dapat aku menyambut kedatanganmu dengan sepertinya.”

           ” Kesetianmu dan ketulusan hatimu,” jawab kera. “Sudah lebih daripada sambutan yang sebagaimana pun juga rupanya. Karena itu tak usahlah engkau bersusah hati juga.”

Kura kura pun berenang lah pula. Sesaat kemudian berhenti pula ia. Maka terbitlah syak dalam hati kera.

        ” Perbuatan kura kura seperti ini,tak dapat tidak tentu ada sesuatu sebabnya,” katanya dalam hati. ” Boleh jadi juga hatinya,sudah berubah padaku, dan dia bermaksud mencelakakanku. Hati mudah berubah-ubah. Orang tua berkata, janganlah seorang lalai daripada memperhatikan kelakuan dan perbuatan kaum keluarga, anak istri dan handai tolannya,karena tiap kelakuan itu memperlihatkan apa yang tersembunyi dalam hati.

            Sudah itu berkatalah ia kepada kura kura, ” Apa jugakah sebabnya sahabat bersusah hati?”

          “Susah hatiku,hai sahabatku, karena engkau tak dapat kujamu sebagaimana layaknya. Maklumlah istriku sedang sakit.”.    ” Jangan hati dipersusah juga ,” jawab kera. “Susah tiada pernah meringankan beban yang harus kita pikul melainkan menambah berat yang ada. Lebih baik dicari obat penyakit itu.”

        ” Itulah maka hatiku susah,”  jawab kura kura. ” Kata dukun istriku itu tiada akan sembuh penyakitnya, kalau tiada makan hati kera untuk obatnya.”

  Berdebar-debar jantung kera dan sangat terkejut ia mendengarkan kata kura kura itu. “Celakalah aku sekali ini,” katanya. ” Telah tua umurku, masih juga terpedaya oleh nafsu loba, hingga terjerumus ke dalam bahaya. Benar kata orang, orang suci daripada loba, sejahtera hidupnya, dan barangsiapa yang rakus dan tamak, tak dapat tidak selama hidupnya dalam kesusahan dan kesukaran. Sekarang wajib atasku mempergunakan akal mencari jalan lepas daripada bahaya.” Lalu katanya kepada kura kura. 

” Di manakah hatimu itu sekarang?” Tanya kura kura

” Kutinggalkan di pohon Ara, dan jika kamu benar-benar perlu marilah kita kembali supaya ku ambil.”

Tiada terperikan besar hati kura kura mendengar kata sahabatnya itu. “Untung” katanya, ” dengan jalan yang mudah juga kuperoleh obat itu tiada perlu aku berbuat kejahatan.” Lalu berenang lah ia kembali. Setelah dekat ke tepi pantai, melompatlah kera kedaratan, lalu naik ke pohon Ara. Beberapa lamanya menunggu tiada ia turun, berseru-serulah kura kura, “hai sahabatku, manakah janjimu akan mengambil hatimu? Ambillah lekas, dan turunlah,sudah lama benar aku menunggu.” ” Aku akan turun?” Jawab kera dari atas pohon kayu. “Janganlah engkau sangka aku ini sama dengan keledai yang dikatakan serigala tiada berhati dan bertelinga itu. Belumkah engkau mendengar ceritanya?”

“Ceritakanlah kepadaku!”

” Dalam suatu hutan diam seekor singa dengan seekor serigala.

Suatu ketika sakitlah singa, penuh harap sekujur tubuhnya, dan lemahlah badannya hingga tiada kuat menangkap mangsanya lagi. “Apakah sebabnya maka Tuan hamba jadi sengsara seperti ini benar?”

” Aku jadi begini,” jawab singa, ” tiada lain melainkan karena penyakit ini jua. Obatnya sukar diperoleh. Kata tabib, penyakit ini tiada akan sembuh kalau tiada diobati dengan telinga dan hati keledai.”

“Kalau hanya itu obatnya,” jawab serigala, “alangkah mudah mencarinya! Hamba tahu di kampung itu ada seekor keledai kepunyaan tukang cuci. Baiklah hamba coba membawanya kemari.” Serigala pun berjalanlah membawa keledai kepada suatu tempat. Disitu disuruhnya keledai itu menunggu, dan serigala pergi kepada singa, menunjukkan di mana tempat keledai itu, dan setelah dekat melompatlah ia hendak menerkam. Karena lemah badannya tiadalah keledai itu tertangkap olehnya, dan binatang itu pun larilah.

        ” Sudah begitu lemahlah tuan hamba?” Kata serigala kepada singa, demi melihat keledai itu lepas. ” Sekali kali tiada hamba sangka tuan akan selemah itu.”

” Kalau enggkau dapat sekali lagi bawa kemari, aku berjanji tiada akan membiarkannya terlepas lagi.” Serigala pun pergilah pula mendapatkan keledai. Bertanyalah ia, mengapa maka lari saja terburu buru padahal yang datang itu hanyalah seekor keledai yang hendak berkenalan. Kalau dia tiada lari, tentulah dia akan diajak keledai itu bersahabat, dan dibawanya ke tempat kawan kawannya diam.

   Serta Sampai ke tempat tadi, pergi pulalah serta memberi tahu singa. ” Kalau sekali ini lepas pula keledai itu,” kata serigala kepada singa, ” maka janganlah tuan hamba mengharap ia akan datang lagi bersama sama hamba.”

Hati singa panas mendengar kata serigala itu, dan bersiaplah ia. Serta sampai ke tempat keledai itu, melompatlah ia dan diterkamnya binatang itu dihisapnya darahnya. Setelah matilah keledai itu, berkatalah ia kepada serigala, ” kata pandai obat, sebelum memakan obat, haruslah aku mandi dahulu.

Sepeninggalan singa, dimakan serigala hati dan telinga keledai itu. Ketika singa kembali, terkejutlah ia melihat hati dan telinga binatang itu.

Sudah tiada. ” Kemanakah hati dan telinga keledai itu?” Katanya kepada serigala.

” Tak tahukah tuan hamba,” jawab serigala, ” bahwa keledai itu tiada berhati dan bertelinga? Kalau ada dia bertelinga dan berhati, masakan dia mau pula kembali setelah terlepas dari bahaya?”

 Kuceritakan hikayat itu, supaya aku jangan engkau samakan dengan keledai itu.aku tahu, engkau berdusta kepadaku,dan hendak menipu daku. Karena itu tak ada jalan bagiku lagi, melainkan dengan menipu engkau Puli. Kata orang tua, orang yang terjerumus ke dalam bahaya karena hatinya yang penyantun, akalnya sendirilah juga akan melepaskannya.”

“Benar katamu,” jawab kura kura dengan dukacitanya. “Sungguhpun demikian orang baik tiada malu mengaku kesalahannya. Dan jika bebrbuat dosa olehnya, tiada dia bantahan kalau diberi ingat, karena kata dan perbuatannya benar. Dan jika ia terjatuh ke dalam bahaya, mudah baginya melepaskan diri dengan seorang yang terjatuh ke tanah, mudah dia bangun kembali dengan berpegang kepada sesuatu yang dapat dipegangnya.”

 ” Demikian tuanku,” sembah Baidaba kepada raja Dabysalim,” Perumpamaan orang yang melepaskan pula sesuatu yang sudah digenggamnya dalam tangan.”

#HUT 42 SMPN 1 prambon

# PRANESA selalu di hati

Lomba meringkas isi cerita

Yang di wakilkan oleh Anik Masturin

Kelas 85