FRIENDSHIP & RAINBOW

Awan hitam perlahan pergi dari atas kepalaku. Udara dingin, kicauan burung mengiringi kehadidarku di taman ini. Tetesan air hujan terkadang mengenai kepalaku yang tengah duduk dibawah pohon. Suasana yang menyegarkan, membuatku tak ingin bangun dari dudukku. Aku masih terdiam menatap album foto yang berisi masa-masa indah.

Aku terus membuka lembaran demi lembaran ketika melihat foto yang paling bersejarah dalam hidupku. Di dalam foto itu ada aku dan sahabatku yang sedang duduk direrumputan sembari melihat pelangi, aku memeluk boneka ukuran besar.

 Rima itulah nama sahabatku. Dia anak yang periang lucu suka mengalah dan sabar, sifatku sangat bertolak belakang dengan sifatnya. Aku dan rima saling mengisi dan memeperingatkan sehingga persahabanku dengannya masih berjalan walau jarak kami sangan jauh.  

Hari sabtu tepatnya rima menelponku, dia menungguku di taman perumahanku. Rima duduk terdiam menatap langit. Dia melukis pelangi yang sangat indah,  kami menatap pelangi bersama. Ditengah heningnya suasana rima memberikan hadiah boneka pelangi besar dan gantungan huruf R danT. Saat pelangi hilang Rima memberi tahuku bahwa ia akan pindah ke Jerman. Rima mengajakku foto bersama sambal duduk menatap langit dan memeluk bantal pelangi darinya.

Aku terkejut ketika Tiara membangunkanku. Aku baeu sadar bahwa aku mengingat masa laluku sehingga tertidur pulas. Aku segera merapikan cangkir, piring dan album fotoku,kemudian bergegas ke kamar.rasa lelah,kantukku seketika hilang saat melihat dinding yang penuh gambar pelangi. Aku bercerita dengan tiara tentang kerinduannya dengan Rima.

Aku termenung menatap suasana taman sambil mengingat masa lalu. Tiba tiba handphone ku berbunyi ternyata dia masih ingat denganku. Mengabarkan bahwa ia akan pulang ke Indonesia aku sangat senang mendengar berita itu, dan aku langsung memberitahu tiara tentang kedatangan rima. Untuk menyambut kedatangan rima, tiara menyarankan untuk membuat kue pelangi, karena Rima menyukai pelangj .

Pagi yang cerah ini, semangat hari ini sangat berbeda aku bergegas merapikan kamar, memperhatikan gambar gambar pelangi kepada Rima, agar dia senang menginap di rumahku

Pada pukul 12.00 kami berangkat ke bandara, selama di perjalanan tidak ada satu orang pun yang memulai pembicaraan, dan aku hanya asik melamun. Aku tak sadar ternyata kami sudah memasuki bandara. Setelah mama memarkirkan mobil, aku segera keluar dari mobil dengan riang. Aku sudah tak sabar melihat rima.

Aku memberikan minuman dingin untuk Tiara dan Mama. Diperjalanan kembali ke mama, aku melamun memikirkan Rima tak sengaja aku menabrak seseorang, aku meminta maaf sambil membereskan barang bawaan orang yang kutabrak. “Tidak apa-apa, makanya lain kali kalau jalan lihat ke depan jangan menunduk saja” nasehat orang itu lembut. Aku terkejut sepertinya aku mengenal suara itu ternyata ia adalah Rima.

Rima melepas barang-barangnya dan memelukku erat, perasaanku bercampur aduk, sahabat kecilku kini ada di hadapanku. Tawa kecilpun keluar dari mulut kami, tapi air mata bahagia keluar tak sengaja. Inilah yang aku tunggu dari kemarin.

Sembari menghampiri Mama dan Tiara kami terus bercerita. Rima langsung ikut pulang bersamaku. Setibanya di rumah Rima asyik melihat foto-foto keluargaku. Aku langsung mengajaknya pergi ke kamarku, kami langsung berbaring di atas kasur sambil menutup mata dan merasakan dinginnya ruangan ini.

Tiara ingin memberikan kejutan untuk Rima. Tiara membisikkan sesuatu kepadaku, Rima penasaran dengan apa yang Tiara bisikkan kepadaku. Tiara memberikan kue pelangi ke tanganku dan aku memperlihatkan kepada Rima. Dia tidak percaya kalau aku yang membuat kue ini. Rima terharu akan kejutan ini, kemudian ia meletakkan kue itu di atas meja dan ia segera memelukku dengan erat, tak terasa kami mengeluarkan air mata karena bahagia. Rima mengucapkan terima kasih kepada Tiara karena tau kesukaannya. Kemudian kami makan kuenya bersama-sama. Kami bercanda, tertawa, saling menyuapi. Kini kebersamaan dan kasih saying sahabat sejatiku dapat kembali kurasakan.

Sembari membuka jendela kamar Rima membangunkanku. Kami duduk-duduk di taman rumah sambil bercerita. Tiba-tiba air hujan jatuh perlahan dan kami kembali ke kamar. Kemudian terdengan suara benda jatuh, sepertnya suara itu berasal dari semak-semak. Karena rasa penasaran semakin memuncak kami pergi ke semak-semak untuk mencari benda itu. Rima menemukan sebuah tongkat yang penuh cahaya dengan panjang kira-kira satu meter dan berwarna pelangi, di ujung tongkat itu terdapat gambar pelangi. Kemudian kami membawa pulang tongkat itu.

Tak lama kemudian muncullah anak perempuan sebayaku dengan gaun penuh warna kesukaan kami. Sepertinya dia terlihat sedih dan matanya mencari sesuatu. Kami saling memperkenalkan diri, ternyata dia adalah Peri Rainbow. Aku mengajak Rani dan Peri Rainbow ngobrol di dalam kamar, ternyata ia mencari tongkat perinya yang hilang. Rima bangun dari duduknya dan mengambil tongkat pelangi yang ia temukan di semak-semak taman. Peri Rainbow tersenyum senang karena tongkat perinya sudah ketemu dan ia bisa kembali ke tempat tinggalnya.

Sebagai rasa terima kasih peri Rainbow menawarkan kepada kami untuk ikut pergi kerumahnya di negri pelangi. Kami sangat senang dan antusias pergi ke negri pelangi. Akan tetapi yang dapat pergi ke negri pelangi hanya satu orang saja. Akhirnya peri Rainbow mengocok, siapa yang Namanya keluar dia yang ikut dengannya, akan ternyata aku yang pergi kenegri pelangi.

Sebenarnya aku tidak tega melihat Rima karena ia sangat ingin pergi kesana. Peri Rainbow menggenggam tanganku erat, dia menatap ku dan menyakinkanku

Peri Rainbow mengetuk tongkatnya ke lantai kamar. Dia menggenggam tanganku semakin erat. Aku memejamkan mata dan memantapkan hati, lalu aku tebang dan hanyut kealam bawah sadar.

Aku terkejud saat menginjakkan kaki di alam yang indah dan berbeda dari tempat tinggalku. Lagi-lagi aku terkejut dan terdiam melihat istana yang sangat menakjubkan, setiap sudut negri penuh dengan pelangi dalam perjalanan menuju istana Peri Rainbow aku melihat sungai pelangi dan bermain sebentar.

Peri Rainbow mengijinkanku mengambil gambar alam Negeri Pelangi tapi dengan satu syarat jangan sampai Ratu Pelangi mengetahuinya. Karena kalau sampai ketahuan Peri Rainbow akan dibuang ke bumi. Disaat asik berbicara ternyata ada peri yang mengikutiku dan Peri Rainbow.

Akhirnya kami sampai di istana Peri Rainbow yang sangat indah, berkilau dan megah. Peri Rainbow mengajakku bermain ke taman isatana yang memiliki air mancur disetiap sudutnya. Senyum Peri Rainbow tiba-tiba sirna saat ibunya datang. Ratu Pelangi membisikkan sesuatu kepada Peri Rainbow. Kemudian Peri Rainbow mengajakku pulang daripada membuat negrinya terancam bahaya.

Peri Rainbow menghentakkan tongkatnya ke tanah, aku memejamkan mata dan menenangkan hati lalu aku terbang ke alam bawah sadar. Setibanya di kamarku Peri Rainbow langsung kembeli ke negerinya. Sebelum kembali ia memberikan cincin berwarna pelangi yang di atasnya terdapat tombol kecil.

Setibanya di rumah sikap Rima sangat jauh berbeda, ia sama sekali tak menunjukkan keceriaannya. Di saat aku asyik membersihkan diri, Rima membuka handphoneku dan melihat album foto, lalu ia meninggalkan kamarku. Kemudian Rima kembali ke kamarku dengan wajah yang berubahb1800, membuat rasa bersalahpun semakin melekat di benakku. Setiap aku tanya dia tidak menjawab. “Kamu dipanggil Om Trio” katanya tiba-tiba.

Ternyata handphoneku ada pada ayah. Dan ayah akan mengembalikan handphoneku kalau akum au menjelaskan tentang Negeri Pelangi. Aku takut, bingung memilih antara amanah dan kebahagiaan keluargaku. Akhirnya aku menjelaskan dari awal bertemu dengan Peri Rainbow, bermain di Negeri Pelangi hingga pulang lagi diantar Peri Rainbow. Aku kaget dan merasa lebih bersalah karena ayah merekam semua ceritaku.

Aku langsung pergi ke kamar, aku mendapati Rima tengah berdiri memandang alam lewat jendela kamarku.saat aku memanggilnya ia terkejut kemudian ia berbalik pelan dan tertunduk lesu sampil merapikan pakaian dan barang-barang ke kopernya. Aku semakin bingung dengan perilakunya.

Rima menutup kopernya lalu ia menangis dan menyandarkan kepalanya ke dalam pelukanku. Rima melepaskan pelukanku dan meminta maaf karena ia yang memberi tahu ayahku tentang foto di handphoneku. Aku terdiam, terkejut dan masih tak percaya dengan kata-kata Rima. Ya Rim aku memaafkanmu, lagi pula untuk apa marah dengan sahabat karena hal kecil. Aku tahu  pasti kamu iri karena aku yang berangkat ke Negeri Pelangi padahal itu adalah impianmu. Lalu Rima tersenyum riang dan menatapku dengan wajah cerianya.

Aku segera mengambil cincin pemberian Peri Rainbow dan menekan tombol tengahnya, maka datanglah Peri Rainbow dan aku menceritakan bahwa ayahku mengetahui foto-fotoku selama di negerimu. Kami berfikir bagaimana caranya agar wartawan tidak masuk ke Negeri Rainbow. Peri Rainbow menemukan cara untuk mengatasi masalah itu yaitu dengan memasang alat anti manusia. Peri tersenyum dan mengetukkan tongkatnya ke lantai, lalu menghilang dalam sekejap mata. Akhirnya Negeri Rainbow akan selamat dan akan tetap tenteram, dan taka da manusia yang dapat pergi ke sana.

Saat bangun tidur, aku terkejut melihat banyak mobil parkir di halaman rumah. Para wartawan meminta pertanggungjawaban Ayah untuk membuktikan berita Negeri Pelangi. Ayah memintaku untuk mengajak para wartawan pergi ke Negeri Rainbow. Aku memberanikan diri untuk menjelaskan kepada wartawan bahwa rakyat di Negeri Pelangi telah memasang alat anti manusia, jadi tidak ada manusia satu pun yang dapat pergi ke sana. Semua kecewa, lalu keluar dari kamarku dengan wajah kesal.

Ayah memang tak seharusnya memaksaku untuk menceritakan hal ini. Ayah memang salah, tak seharusnya dia bertindak egois. Dengan keegoisannya, semua akan celaka khususnya peri-peri yang tinggal di sana. Aku berharap Ayah selalu dilindungi dari serbuan wartawan. Aku memang harus bertindak seperti ini sebagai peringatan untuknya agar tak mendahulukan keegoisannya. Kerena hal kecil itu akan berakibat besar untuk orang lain, juga untuk dirinya sendiri.

Kelas VII 1