DOA DUA JUARA

   Lima tahun di sekolah dasar,Atin tidak pernah juara satu. Atau,juara dua, tiga, empat,sampai lima. Biasanya ia bertengger manis,sabar,setia di peringkat lima ke bawah. Nilai nilainya tak pernah terlalu istimewa,biasa. Jika dinilai dari gaya KBK sekarang, laporan hasil belajar Atin tak jauh-jauh di garis batas terpenuhinya kompetensi. Andai saja jika bukan karena nilai matematikanya, Atin pasti jadi siswa rata-rata.

  Nilai yang dilaporkan oleh guru matematika saat akhir semester pertama adalah sembilan koma sembilan yang membuktikan kalau Atin adalah siswa yang sangat cerdas di matematika. Bukan hanya kedua orangtuanya,sang guru juga ikut menggelengkan kepalanya dengan kagum karena nilai matematika Atin.

  Guru matematika Atin meminta izin kepada orang tua Atin untuk menyertakan Atin dalam seleksi olimpiade matematika tingkat nasional. Kedua orang tua Atin buru-buru menyetujui.

  Baik guru matematika Atin maupun kedua orangtuanya,yakin kalau Atin bisa menjadi wakil Indonesia ke luar negeri. Bersaing memperebutkan medali emas bersama siswa dari Jepang atau Amerika. Sepulangnya nanti diliput televisi pula, diwawancarai, bahkan difoto untuk masuk koran. Wah,betapa membanggakannya!

  Setelah kedua orang tuanya, yang paling ribut mengomentari adalah tante-tante Atin. Ibu Atin adalah anak yang tertua di keluarganya, adik-adik ibunya ada banyak berderet, perempuan semua pula. Tante-tante Atin banyak yang memberi hadiah atau mentraktir Atin dan adiknya di restoran yang berbeda beda.

  Tante Atin itu ingin mentraktir Atin pergi ke Pizza Hut. Tetapi Atin dan adiknya Uko,tidak mau karena kemarin baru ditraktir oleh tantenya yang lain disana. Ibu Atin menyarankan untuk pergi ke Warung Mpok Mineh. Maka berangkatlah Tante Ina,Atin,dan Uko ke Warung Mpok Mineh di daerah Srengseng sawah. Mereka naik beberapa kali,tersasar sekali,bahkan kehujanan sedikit.  Uko sempat kambuh rewelnya karena tidak sampai-sampai.

  SebenarnyaSebenarnya Warung Mpok Mineh tidak jauh,tetapi Tante Ina agak lupa dengan jalannya karena terakhir diajak makan disitu masih seumuran Atin.

  WarungWarung Mpok Mineh berada tepat di pinggir jalan kecil yang banyak debunya. Seukuran warung Padang,agak lebih panjang sedikit.Ada spanduk besar warna kuning gonjreng menutupi atap warung.”Warung Makan Betawi Asli”.

  Tante Ina melambai santai kepada pelayan warung dan memesan bir pletok tiga. Sang pelayan tergopoh-gopoh mengiyakan dan hilang keruangan di balik tripleks di sebelah Atin. Benar kan di balik dinding tripleks itu dapur.

  SetelahSetelah itu, seorang anak lelaki yang kurus muncul dari balik dinding tripleks. Menenteng panci ukuran sedang ke sebuah baskom besar. Atin yang paling dekat dari tempat penuangan itu melongo. Atin melongo bukan karena uap panas yang semerbak merica mengepul-ngepul dari atas baskom tapi karena anak lelaki yang menyangkut soto tadi itu adalah Rendi.Si Buntut!

  AnakAnak laki-laki yang paling tinggi di kelas lima. Kurus badannya,tapi rambutnya lebat sekali. Poninya sampai hampir menutupi mata.Alisnya juga tebal. Pendiam,hanya banyak bicara kalau ditunjuk guru. Kesannya memang anak yang tidak percaya diri, mungkin karena Rendi siswa peringkat terakhir dari kelas satu. Peringkat paling buntut. Itulah asal dari julukan itu, si Buntut.

  Rendi itu sudah dua kali nggak naik kelas. Selama di kelas lima,belum pernah dia bicara dengan Rendi. Karena bingung mau bicara apa. Apalagi Rendi juga tidak pernah menyapa orang lebih dulu. Cerita Rendi buntut pun terlupakan begitu saja.

  SampaiSampai hari Sabtu itu, ketika ketika Atin dan Uko diajak Tante Ina makan siang di Warung Mpok Mineh. Rendi Buntut ada disana,di dapurnya,jadi jelas dia bukan pengunjung. Apa mungkin dia pelayan? Pelayan kok , di dapur terus, bagaimana mau melayani pengunjung? Tukang masak, barangkali?Koki cilik,begitu?Masa, sih?

  SaatSaat sedang membicarakan makanan di Warung Mpok Mineh, tiba-tiba si Rendi buntut sudah ada agak jauh di sebelah meja mereka. Rendi buntut bertanya dengan menunduk ragu ragu, apa makanan nya enak?

  AtinAtin segera sadar kalau pertanyaan itu untuknya. Pasti soal kunjungannya ke warung makan Mpok Mineh Sabtu kemarin.Atin pun menjawab agak kaku kalau soto tangkar sama bir pletok nya enak banget. Baru pertama kali ini ia bicara pada Rendi.Una malah tolah toleh bingung.

  Anak laki laki berambut lebat itu segera mengangkat pandangan. Matanya seperti kejatuhan bintang,atau lampu neon,berbinar binar terang dan tersenyum menampakkan sebagian gigi depan yang ada gingsulnya. Rendi mengucapkan terima kasih dengan tulus sekali.

  Saat di rumah,Ibu menjawil punggung Atin ketika  ia sedang asyik main internet. Ibu berkata katanya,waktu di kantor bapak cerita cerita tentang Atin ikut seleksi olimpiade Nasional,ada bapak yang anak tetangganya pernah menang olimpiade matematika. Bapak mau ajak Atin main dan kenalan sama temen bapak itu.Siapa tau Atin bisa belajar sesuatu untuk bisa ke olimpiade tingkat dunia.

  Ibu mau mengajak Atin jalan jalan, Atin bertanya boleh nggak pulangnya kita makan di warung Mpok Mineh?Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam,ketika Atin, Uko,dan ibu sampai di warung Mpok Mineh.Warung Mpok Mineh masih terlihat cukup ramai.

  Dengan alasan mau memesan, Atin menghampiri daerah dapur. Ada seorang pelayan yang ada di dapur,Atin bertanya tanya tentang Rendi pada pelayan itu. Pelayan muda ini sepertinya masih baru bercerita dengan bangga tentang Rendi. Pelayan muda itu bercerita bahwa ternyata Rendi pernah menolak dua tawaran wawancara di televisi.

  Dulu beberapa pengunjung yang pernah datang ke warung Mpok Mineh terkesan sekali atas masakan Rendi. Mereka berusaha mempromosikan Rendi ke majalah atau televisi. Sayang,ayahnya tidak setuju kalau Rendi diliput. Dengar dengar,ia ingin Rendi lebih memperhatikan sekolah daripada urusan warung.

  EsoknyaEsoknya di sekolah , bahkan Una pun kurang percaya kepada cerita Atin tentang Rendi. Mereka berdua ramai sendiri di bangku depan membicarakan penemuan baru Atin di Warung Mpok Mineh kemarin malam. Una lebih terkaget kaget lagi ketika diberitahu bahwa mungkin Mpok Mineh adalah ibu Rendi. Dan , Mpok Mineh sudah hampir tiga tahun meninggal dunia karena sakit.

  Dua hari Rendi tidak terlihat sosoknya di kelas lima tanpa kabar. Yang menyadari ketidakhadirannya hanya Atin, Una, dan Gatra yang biasa mengurusi buku absen kelas untuk guru. Sore ini, rencananya Atin dan bapak akan meluncur ke rumah tetangga kenalan bapak. Anak dari tetangga itu pernah memenangkan olimpiade matematika ketika seumur Atin.Baru beberapa ratus meter dari rumah , HP bapak bernyanyi. Atin yang membacakan layarnya memberi tahu telepon itu dari ibunya. Bapak Atin meminta Atin menjawab karena bapak Atin sedang menyetir. Suara ibu terdengar buru buru berkata bahwa ada temannya Atin yang main kerumah. Ternyata yang aneh main ke rumah adalah Rendi. Setelah telepon ditutup,Atin langsung ribut ribut kepada bapak supaya mobil mereka berputar balik. Segera kembali ke rumah. Bapak tidak mau karena sudah terlanjur membuat janji bertemu,tidak sopan kalau dibatalkan. Atin menggerutu macam macam , tapi mengalah. Atin setengah berteriak begitu pulang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam kurang lima menit. Ia baru turun dari mobil setelah kunjungan ke anak teman bapak.

  Atin berjalan ke halaman belakang dengan bingung sekaligus cemas. Rendi yang cuma sekali bicara dengannya di kelas tiba-tiba main kerumahnya. Ada apa ya? Mau pinjam catatan pelajaran? Kan, sudah dua hari Rendi bolos? Muka Uko yang terlihat duluan di dekat pintu belakang. Ia mengacungkan potongan kue rangi yang seputih salju di tangannya. Di meja teras belakang, bersebelahan dengan akuarium ikan,ada sepiring penuh ke rangi yang belum dipotong. Kinca gula merah tersiram di atasnya, meleleh-leleh ke pinggir piring. Menggiurkan benar. Atin beralih dari kumpulan kue itu kepada Rendi untuk bertanya kenapa Rendi tiba tiba main ke rumahnya sambil bawa kue kue itu. Rendi pun bercerita kemarin lusa dia dipanggil Bu guru ke kantornya. Kata Bu guru kalau tahun ini dia bisa nggak naik kelas lagi.

   Atin kan pinter, Rendi minta tolong ke Atin untuk jadi gurunya. Buru buru Atin menolak . Seketika berubah mendengar jawaban Atin. Rendi berkata bahwa tidak ada orang yang mau ngajarin dia. Kenapa juga sih, ia terpikir untuk meminta bantuan Atin yang juara matematika di kelasnya? Terbesit penyesalan di dalam hati Rendi setelah Atin menolak untuk jadi gurunya. Rendi teringat saat ia diputuskan untuk tinggal kelas lima satu tahun,lalu satu tahun lagi. Guru guru menganggap nilai Rendi,terutama nilai matematikanya belum layak untuk naik kelas enam. Apalagi di kelas enam akan ada UAN SD. Setiap bapak dipanggil ke sekolah untuk menerima ketidaknaikan Rendi,sorot matanya pasti berubah. Pandangan bapak jadi sama sedihnya seperti saat emak pergi tiga tahun lalu. Rendi akan dilarang sering sering berkunjung ke warung ,atau memasak. Dipaksa bapak untuk belajar dan menghafal lebih banyak. Atin akhirnya bersuara kalau setuju. Jawaban itu membuat Rendi buru buru mendongak dengan kaget. Hanya untuk melihat sisa anggukan pelan Atin. Waktu Atin terpilih oleh Bu guru jadi wakil sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika, rasanya sebenarnya biasa saja. Atin baru merasa bangga sekarang ini. Setelah Rendi dan kue ranginya datang. Dua kali Rendi tinggal kelas ternyata bukan karena dia malas. Rendi sudah pernah dibawa ayahnya untuk mengikuti bimbingan belajar mahal. Tetapi tidak seorang pun yang berhasil. Nilai nilai ulangan Rendi tetap rendah, terutama nilai matematikanya. Akhirnya,semua yang mengajari Rendi angkat tangan lalu menyerah.

   Berdua, Atin dan Rendi duduk bersila di teras samping rumah Atin. Buku buku terbuka lebar di depan mereka. Jadwal sore ini adalah mengerjakan soal matematika yang paling mudah di buku matematika kelas lima. Tetapi,perhatian Rendi dengan mudah lari kemana-mana. Sejam kemudian Rendi garuk gadhk karena pusing mengerjakan soal matematika,ia izin ke ke dapur untuk ambil minum. Setengah jam pun berlalu, Rendi belum juga kembali ke teras samping. Akhirnya Atin pun ikut menyusul ke dapur dengan penasaran. Masa ambil minum saja sampai setengah jam? Jangan jangan…Yang benar saja, ternyata rupanya ia ikut ikutan membuat minum untuk arisan ibu Atin. Pantas saja Rendi lama sekali di dapur. Ia sibuk membuat bir pletok andalannya!

   Hasil seminggu belajar bersama di rumah Atin tiap sore hampir tidak ada. Rendi  menunjukkan kertas ulangan matematika yang di datangi bebek. Angka dua besar warna merah. Atin memandangi kertas itu dengan geleng-geleng. Antara bingung dan bingung sekali. Bingung bagaimana harus mengajari Rendi. Setiap sore, Rendi belajar di rumah Atin hampir 3 jam lamanya. Tetapi, 3 jam itu lebih banyak dihabiskan rendy untuk melamun kan bumbu, menebak ikan mas bisa dibuat sajian apa saja, serta memikirkan kue-kue yang bisa diolah dari bahan-bahan di dapur Atin.

  Untungnya ,Tante ina yang usil tante yang usil itu main ke rumah. Kata tante ina Rendi itu sama seperti Atin. Kata tante ina Rendi itu cerdas dalam memasak sedangkan Atin cerdas matematika. Ketika bertemu Rendi keesokan harinya, mereka akan pindah tempat belajar ke warung Mpok Mineh. Mereka berdua membereskan buku-buku, menumpang angkot, lalu menempuh perjalanan yang lumayan panjang ke warung Mpok Mineh. Yang benar saja ternyata Rendi fokus belajar saat di warung Mpok Mineh. Atin justru sebaliknya, Atin malah susah sekali konsentrasi. Sepuluh soal yang diminta Atin untuk dikerjakan diselesaikan Rendi dalam tempo 1 setengah jam.

  Satu setengah bulan lamanya Atin dan Rendi berkutat di dapur warung makan Mpok Mineh. Atin menampakan buku buku matematika dan menunjuk rumus ini itu di tengah teriakan para pelayan. Kadang Atin marah-marah bila Rendi tidak juga mengerti beberapa jenis soal ketika urutannya dibolak-balik. Ulangan matematika Rendi yang terakhir memang naik dari angka dua ke angka lima, setelah belajar keras semalam. Besok akan ada ulangan matematika lagi. Ulangan matematika terakhir sebelum ujian akhir semester tiba. Adin sangat berharap Randi bisa mendapat angka dengan pena hitam,alias nilai enam ke atas.        Meskipun akan sangat sulit tercapai. Bu guru mendapati bahwa nilai matematika atin menjadi tujuh.

   Ini pertama kalinya ibu guru melihat hasil ulangan matematika Atin menjadi tujuh. Semua nilai pelajaran Atin menjadi menurun, jantung arti mendadak berdegup kencang sekali. Dengan mata membelalak dipandang hias kertas-kertas hasil ulangannya. Baru sekarang ia menyadari kalau beberapa bulan ini nilai nilai ulangannya terjun bebas. Kata ibu guru kalau ujian kenaikan kelas seperti ini juga, kamu bisa tinggal kelas. Kamu juga bisa dikeluarkan dari daftar peserta seleksi olimpiade matematika. meskipun misalnya kamu jadi salah satu pemenang. Tidak boleh ada catatan tinggal kelas untuk wakil olimpiade. Sejak teguran dari bu guru Atin berhenti mengajari Rendi. Atin ingin ikut olimpiade matematika supaya bapak sama ibu bangga. Supaya bu guru kembali menjadi sayang kepada Atin, kembali melihatnya dengan pandangan penuh harapan. Sederet harapan, permintaan, dan tuntutan itu Atin hafalkan dalam doanya. Berulang kali tanpa henti. Ia ingin. Ia ingin. Ia ingin…tidak,ia mau doanya terkabul. Harus terkabul.

   Sementara itu, Rendi masih takon belajar setiap hari sampai malam ditelepon warung Mpok Mineh. Bapak hanya tahu kalau Rendi bersama seorang anak di kelas lima di rumah anak itu. Bapak juga tak pernah mencari karena Rendi selalu diantar pulang oleh bang tohir selesai tutup warung. Nilai nilai ulangan Rendi yang naik sedikit sudah membuat bapak sangat senang hingga ia membiarkan Rendi tanpa banyak bertanya. Rendi pun berwudhu sebelum shalat. Seperti biasanya setelah sholat ia mengangkat tangan rendah sambil berdoa dengab doa yang sama setiap harinya. Tetapi sekarang agak berbeda,ia juga mendoakan Atin agar dibantu oleh Allah agar Atin bisa naik kelas,karena Atin sudah mengajari Rendi sampai capek.

   Pada dini hari weker Atin berbunyi pada pukul tiga pagi. Atin bangun dan ke kamar mandi untuk berwudhu. Selesai shalat dua rakaat,Atin berdoa. Doa yang diajarkan Tante Ina dalam bahasa Arab. Doa belajar. Tiba tiba pintu kamarnya diketuk. Kenop pintu berputar membuka dan sosok ibu muncul. Sambil tersenyum kepada Atin yang masih memainkan mukena dan duduk di atas sajadah, ibu masuk ke kamar. Di tangannya ada sebuah mangkuk yang mengepul panas. Ternyata ibu membawakan mi godok campur sayur untuk Atin karena Atin lupa belum makan malam. Setelah ibu keluar dari kamar,Atin mengamati mangkuk mi godok itu sambil duduk bersila. Ia mendadak ingat. Ada seorang anak di kelas lima yang tidak akan pernah lagi dibuatkan mi godok campur oleh ibunya.

  Si Rendi.

   Adin memejamkan matanya. Ia ragu sebentar, tetapi kemudian meneruskan niatnya. Berdoa. Doa yang paling berbeda dari doa doa sehabis shalat. Atin berdoa dan memohon agar Allah membantu untuk mengajari Rendi karena dia sudah gak bisa ngajarin Rendi lagi. Pada hari terakhir minggu tenang sebelum ujian, seluruh siswa SD diliburkan, Atin bersepeda pagi-pagi ke daerah sekolahnya. Iseng-iseng atin mengayuh sepeda ke dekat sekolahnya. Padahal hampir setiap hari ia pulang melewati jalan itu. Yang Atin perhatikan hanya deretan tukang jajanan yang biasa memenuhi di depan gedung itu. Di sana ada beberapa mobil box sedang diparkir. Gedung itu terlihat kusam karena catnya sudah agak memudar. Tetapi taman di depannya asri sekali dan terawat sehingga rimbun dan rapi. Ternyata di sana diadakan “seminar sehat untuk otak badan-badan kuat”

   KeesokanKeesokan harinya begitu adzan subuh berkumandang,Atin bangun dengan sigap. Belum apa apa wajahnya sudah terlihat panik dan tegang. Hari ini adalah hari ujian akhir untuk dua mata pelajaran. Bahasa Indonesia dan matematika. Kata orang tua Atin, Atin sudah belajar dengan baik sekali. Sekarang saatnya berdoa dan percaya. Atin mendengarkan nasihat orang tuanya itu. Ia terus mengingat dua kata itu,berdoa dan percaya. Tetapi sesaat setelah atin masuk melewati gerbang sekolahnya, kakinya langsung berhenti melangkah. Ada bau tercium di selokan di ruang guru. Bau itu seperti bau kaldu sapi,ada amis jeroan,juga campur kuah gulai, wangi nasi uduk,sama nasi ulam. Akhirnya muncul sebuah ide di dalam otak Atin. Atin meminta Bu guru agar membiarkan Rendi untuk mengerjakan ujian di ruang guru. Atin beralasan bahwa Rendi tidak fokus dan banyak anak anak di barisan belakang yang menyontek,padahal Rendi tidak sukamenyontekk. Akhirnya Rendi pun mengerjakan soal ujian di ruang guru. Bau sedap itu samar menghilang menjelang usainya ujian kemudian menghilang menjelang tengah hari. Pak gun menyerah, hanya geleng-geleng setiap diminta menghilangkan bau sedap yang misterius itu.

   Hanya Atin yang bertopang dagu di jendela kelasnya tanpa heran. Ia memandang ke arah ruang guru yang agak jauh dari kelas lima. Tempat Rendi ujian. Hati kecilnya bersenandung.

   Ya Allah,terima kasih. Allah baik sekali sama Rendi.

Sekolah Atin tidak seperti SD lainnya ketika mau membuka naik atau tidaknya seorang siswa. Beberapa hari sebelum libur akhir semester berakhir, siswa yang diputuskan tinggal sekolah akan ditelepon di  rumah oleh gurunya.

SeburukSeburuk apapun nilai pelajaran lain, nilai matematika Atin yang luar biasa bagus selalu memastikan ia naik kelas. Baru sekali ini saja, Atin cemas tidak naik kelas 6. Nilai matematikanya hanya 7 pada ulangan terakhir. Bila sampai ia tidak naik kelas tahun ini, Atin akan punya dua masalah sekaligus. Rasa malu harus tinggal kelas,dan hasil seleksi olimpiade matematika nya akan hangus, dan dianggap tidak mengikuti. Bahkan, sampai datangnya hari pengambilan raport, atin tetap setia menjagai telepon. Takut kalau-kalau ada guru membawa kabar buruk di menit menit terakhir. Atin akhirnya berangkat juga. Sekolah selalu ramai bila hari pembagian hasil belajar semester . Hanya rupanya tahun ini agak berbeda. Di teras dalam sekolah ada meja meja panjang yang dijejer berdempetan. Gelas gelas plastik bekas air minum mineral berisi cairan kuning kecoklatan. Wangi jahe dingin dan kayu manis dari minuman itu langsung dikenali Atin.  

 Una menyongsong kedatangan Atin sambil meng acung kan gelasnya. Atin berlari mendekati kerumunan anak kelasnya mencari sosok…

    Di baris kursi pertama ruang kan kelas 5, atin menemukan Rendi sedang duduk bersama seseorang. Laki-laki tua berkulit agak gelap, memakai peci hitam, rambutnya sudah lebih banyak warna putih daripada hitam. Rendi sontak bangkit berdiri ketika melihat Atin. Di luar kelas anak-anak kelas 5 memanggil manggil nama Atin. Atin ternyata disuruh menyusul datang ke ruang guru dengan cepat. Rasa khawatir di dada arti menyerang lagi. Buru-buru ia putar balik menuju ruang guru. Tepat pada saat ibu guru wali kelas 5 mengeluarkan lembaran hasil belajar Atin untuk diperlihatkan kepada bapak Atin. Nilai rapot matematika turun dari angka 9 di semester sebelumnya ke angka 7 semester ini karena nilai ulangan matematika Atin akhir-akhir ini tidak sebagus biasanya. Semua anak kelas 5 naik. Bahkan si Rendi juga, dengan nilai-nilai yang cukup baik. Tapi ibu guru bilang kalau ini hasil rapot terburuk Atin selama sekolah. Laporan hasil belajar yang paling buruk selama bersekolah. Betapa tidak enaknya menerima kata-kata itu.

    RasaRasa semangat atin karena naik kelas mendadak hilang entah ke mana. Bapak mengucapkan terima kasih setelah laporan hasil belajar Atin diserahkan. Mereka keluar dari ruang guru, tetapi anehnya bu guru tetap mengikuti mereka sampai teras dalam sekolah. Tambah lagi ya memanggil atin sekali lagi dengan suara keras. Bu guru menarik nafas panjang, kemudian tiba-tiba mengumumkan dengan nada keras dan berkata pada anak anak untuk berkumpul dan memberi selamat pada Atin karena Atin akan pergi ke luar negeri sebagai wakil olimpiade Indonesia. Nilai Atin masuk peringkat tiga besar seleksi nasional olimpiade.

   Rasanya jantung Atin berhenti sebentar karena terlalu kaget. Dia terpilih ikut olimpiade dunia??? Anak anak menyerbu dan menyelamati Atin. Keluar negeri? Benarkah??

  Badan kurus Atin terdorong ke sana sini ketika lengan lengan terulur saling menyerobot untuk menjabat tangannya. Anak anak perempuan memekik mekik riang,seakan mereka akan menyertai Atin ke olimpiade dunia.

  Ketika hampir semuanya selesai menyelamati Atin,sebuah gelas dijulurkan ke depannya. Segelas bir pletok yang dingin berembun. Rendi berdiri dengan garis senyum paling lebar,barisan giginya terpamer  semua. Dan sekali lagi mata Rendi seperti bintang yang berbinar binar binar.

  Samar-samar,ada wangi yang muncul di teras dalam sekolah. Entah darimana asalnya. Wangi sedap rebusan kaldu dan renyah rempah rempah, bercampur bau manis kelapa muda. Seakan akan turut merayakan bisikan bisikan yang terkabulkan. Seakan ikut menyelamati dua pasang tangan kecil yang sudah membuka dan meminta.

  Allah mahakuasa. Maha pemberi segalanya.

   Tak perlu lagi masak atau matematika. Doa yang baik selalu juara……

Kelas VII 2