CINTA YANG BERTABUR DILANGIT MEKKAH.

Osman teman masa kecil yang pernah singgah cinta pertama Rhada,gadis itu bertanggung jawab untuk mengabari keberangkatannya ke tanah suci.beberapa jelang keberangkatannya Rhida berusaha  membebaskan hatinya,ia rela osman menjadi milik gadis lain,kalau memang ditakdirkan tidak berjodoh.

Rhada tersenyum datar,langkah  mulai teggelam dalam barisan jamaah haji yang menaiki tangga pesawat. Didalam batin Rhada berkata”kusambut panggilanmu,ya allah,dan selamat tinggal semua.perjalanan ini ditutup dengan tekad jihad,siap gugur disana kelak..”.

 Telah sekian lama lelah dalam perjalanan duniawinya,Rhida memulai binar kehidupan baru ditemukan ketika ingat semua prestasi yang diraihnya itu tidak lepas ditangan allah.alhamdulillah pimikiran itu ditanamkan orang tuanya sejak Rhida kecil.

   Disana,ditanah suci ia terlambat harapannya untuk meraih impiannya:kehidupan yang diharapannya tak akan lagi dia jalani sendiri,melainkan dengan seorang pasangan jiwa.meskipun kehampaan ini yang dikelilingi banyak teman,dikagumi banyak laki-laki tapi tak memberi makna seindah harapan bertemu pria idaman.

Diakui Rhada,inilah tingkat tertinggi dari kejenuhan dalam urusan dan keingintahuannya lelaki yang tepat buat dirinya.Tentulah dia lelaki yang mencintai khalik sebagaimana yang disyaratkan Rhada dalam jiwanya,hasil pencarian sekian waktu.

Udara Madinah menyambut Rhada dengan ramah,sekilas wajah tampan Osman masih sempat menggoda,hendak masih mengganggu tekad Rhada mengkhusyukkan diri.

“Assalammualaikum siti rahmah.subhanallah kata pria petugas bandara,Rhida tidak mempedulikannya walau sempat kaget karena di Tanah Haram pun masih ada pria yang menggoda,Rhada langsung memakai masker dari dalam tas jinjingnya.

    Rhada sangat mengerti makna sapaan lelaki petugas bandara itu dengan pakaian bak militer indonesia itu,walaupun dulu Rhada sempat memberikan pengecualian pada para lelaki tanah suci umat islam tersebut,tetapi lelaki tetaplah menjadi lelaki.

Hanya Rhada  yang tidak paham maksud penyebutan nama Siti Rahmah ,beberapa pria berkebangsaan negeria yang bertugas memanggul semua barang jamaah haji yang berasal dari indonesia kedalam bus juga menyapa Rhada dengan seperti itu.

Sapaan yang menyebut Rhada sebagai Siti Rahmah masih berisi penghormatan pada perempuan suci tersebut.Rhada menganguk kuat,sementara bibir tipisnya tersenyum senang dibalik maskernya.

Kini bus telah keluar dari gerbang bandara menuju jalan-jalan dikota maddinah. Namun,tak ada satu pun melintas mobil kuno atau keluaran tahun lama yang mesinnya sering batuk-batuk karena sakit dimakan usia.mulut Rhada tak henti berdacak kagum,tak henti pula mensyukuri kesempatan yang diberikan allah padanya hingga dapat melihat kota suci tersebut.

Begitu puas hasil potretnya,menu MMS mulai di akses,senyum bahagia tidak berhenti menggurat.beberapa nomor teman dan saudaranya menjadi sasaran MMS.Begitu kalimat yang terkirim dari Rhada.lalu,batinnya benar-benar diisi penuh gambaran ritual haji.

Sementara itu,haji Qiran berikham untuk umrah dan haji secara sekaligus pada bulan-bulan haji dan tetap dalam keadaan mengenakan ihram,tanpa tahulul atau mencukur rambut,hingga Nahar (tanggal 10 dzulhijjah).Sementara itu,haji ifrad adalah berikhram untuk haji pada bulan-bulan haji di miqot,yaitu tempat mengenakan pakaian ihram dan tetep mengenakan hingga Nahar.

Selain itu berikhram,juga harus menghindari berbagai pantangan,seperti menutup kepala dengan kopiah,memakai pakaian berjahit(khusus pria) dan juga harus membawa hewan Qurban sendi dari Tanah Air.Sebagai ganti hewan Qurban,Rhada dan rombongannya cukup membawa uang yang diistilahkan dengan dam sebagai biaya Qurban.

Rombongan Rhada sampai di maktab yang bernama hotel Asharaf di madinah hingga senja turun,rasa lelah pun mulai menyergap Rhada dan ia juga mengapit tangan ibunya sambil mengajak para wanita untuk menuju ke kamar.Kamar yang ditempatinya cukup luas dan setelah itu Rhada melenaka tubuh diatas spring bed.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk serampangan,Rhada langsung memutar gerendel kamar ternyata pak Bahar ayahnya Rhada sendiri dan pak bahar menyebut nama Mutia gadis yang seumuran dengan dia,Rhada pun heran mengapa ayahnya mencari Mutia dan bukan mencari anaknya sendiri.

Ternyata ayah Rhada memanggil anaknya pak Samsu yang bernama mutia karena beliau mendadak menggigil kedinginan,padahal suhunya cukup panas.dan menanyakan obatan yang dibawa yang ada diindonesia.Raut wajah Mutia cemas melihat kondisi yang dialami Pak Syamsu.Rhada meletakkan tangannya dipundak Mutia untuk sedikit mengurangi rasa kecemasannya lalu Rhada mengajak Mutia kekamar ayahnya.

Setelah tiba di kamar ayahnya Mutia,pak Syamsu merapatkan selimut tebal diseluruh tubuhnya Mutia langsung menghabur ketubuh ayahnya.Mutia bertanggung jawab untuk slalu menjaga dan memperhatikan kondisi ayahnya yang sudah renta,Mutia memang berangkat ke tanah suci untuk mendampingi pak Syamsu yang ingin melihat tanah para nabi itu sehingga siap tidak siap Mutia harus mengurus segala sesuatu untuk berangkat ke Arab Saudi.

Kini melihat kondisi ayahnnya,Mutia tak henti menanyakan sebab ayahnya mendadak mengalami seperti itu,padahal ditanah suci ayahnya sangat fit.begitu sampai di kamar ibu-ibu yang lain menanyakan keadaan ayahnya Mutia.pandangan dan getar dalam suara menandakan bahwa mereka semua pada cemas.Rhada berusaha tenang dan menjelaskan apa adanya,yaitu pak Syamsu tidak apa-apa mungkin dia hanya kelelahan karena penerbangan.ibu-ibu yang lain mengangguk-angguk tampak setuju dan tampaknya,perkataan Rhada bisa memberikan sedikit ketentraman.

Lalu Rhada membawakan obat gosok kekamar ayahnya Mutia untuk mencegah kalau masih ada mengajukan pertanyaan dan Rhada masuk kekamar mandi,mengisi teko listrik dengan air secukupnya.Begitu sampai kekamar pak Syamsu,Rhada mencolokkan teko listrik dan meyerahkan obat gosok pada Mutia.Setelah Mutia menerima obat gosok ,Mata mutia berkaca-kaca menahan segala rasa yang saat ini berkecamuk dalam hatinya.

Pak Bakar mengamati ketelatenan anaknya,bertindak dengan tenang demi keselamatan pak Syamsu,sangat terharu dan bangga memiliki gadis yang dibesarkan dan didik menjadi pribadi yang peduli dan tahu menempatkan diri dalam posisi yang dibutuhkan.

Rhada membawa kedua gelas minuman ke sisi tempat tidur pak Syamsu dan Rhida sambari Muthia segelas teh untuk ayahnya.pak Bakar mengangkat tubuh pak Syamsu,sedangkan Muthia mengatur posisi bantal disandaran tempat tidur.secara perlahan-lahan mulut Pak Syamsu menyeruput segelas teh yang telah ditiup muthia agar tidak terlalu panas.Beberapa menit kemudian,alhamdulillah wajah pak Syamsu mulai agak memerah,menandakan tubuhnya sudah tidak dingin lagi.

“Ayah sudah merasa baikan?tidak dingin lagi?” Kata mutia binar kecemasannya masih tampak jelas diwajahnya.lalu pak Syamsu mengucapkan terima kasih pada anaknya,Rhada ,dan pak Bakar.mutia berkata”ini jelas teguran dari allah karena ayah mengomel orang yang bertugas membawa banyak tas dan pasti juga tidak ringan seharusnya ayah sabar dan memaklumi tidak perlu banyak menuntut.”sudah pak Syamsu istifar! Kata pak Bahar.ya..ya astagfirullah..astagfirullah!ucapan pak Syamsu dengan cepat.setelah itu semua kembali kekamarnya masing-masing.

Terima kasih pak Bakar, dan terima kasih banyak Rhada.akhirnya mutia melepaskan tangan ayahnya dan mengatup tangannya ke depan mulut sembari menunduk.Rhada gembira sinar cemas mutia sudah sirna.ia tersenyum,Muthia hendak mengucapkan sesuatu kepada Rhada,tapi Rhada tersenyum,menganguk,dan mengucapkan “assalammualaikum”.sepasang anak itu lalu kembali kekamarnya masing-masing.

Ayah Rhada memang tidak satu rombongan dengan Pak Syamsu.Dalam rombongan haji yang berasal dari Sumatra Barat,hanya sembilan orang dari padang.6 orang perempuan dalam rombongan Rhada,pak bakar,pak syamsu dan seorang lagi istrinya ikut rombongan Rhada,pak Joon.mereka bergabung pada rombongan besar kabupaten pesisir selatan,Sumatra Barat.penggabungan itu terjadi karena adanya bangku kosong dipesawat dan maktab yang harus diisi penuh dari rombongan haji yang berasal dari Sumatra Barat-Indonesia.

BAB 2

Angin lembut mengurangai satu per satu anak rambut dikening Yusuf,begitu melenakan.Untuk sesaat lelaki muda itu terpukau dalam hening tanpa suara.Inikah anugerah surga dunia yang ditunggu lama.

Pak Hamzah dan Yusuf pergi ke Raudhah,perjuangan ke Raudhah ternyata cukup berat bagi kedua mereka.Disini berbaur seluruh umat didunia.Beberapa kali Yusuf tergencet jamaah dari Afrika dan Saudi Arabia.Namun setelah berzikir yusuf akhirnya sampai juga didepan Nabi Muhammad.disinilah air mata pemuda itu menetes,pipinya yang berwarna putih tanpa bercak apa pun mengalirkan air mata.

Kilatan putih dinding masjid Nabawi ataupun sila keemasan  tiang-tiangnya terkalahkan oleh kemilau hati Yusuf yang terayun senandung padang pasir,mengisahkan tentang kerinduan akan idola jiwa sepanjang masa itu.Impian yang telah dibina yusuf baru baligh terwujud.

Perkenalan mereka bermula disebuah jalan kumuh dan sepi didaerah pasir abang,itulah awalnya tumbuh menjadi pengusahal kecil-kecilan sikap kreatif dan jiwa mudanya berbuah usaha dibidang yang lain.Sayang,kesuksesannya tidak dapat disaksikan sang bunda karena ia telah pergi menghadap ilahi.Ayahnya,yang semula ingin diajak,tak pula menyertainya karena didera penyakit paru-paru kronis.Oleh karena itu keputusan Yusuf disertai harapan agar doa untuk kesembuhan sang Ayah dikabulkan oleh Allah.

Rhada sangat senang ketika tahu rombongan haji dipandu oleh ketua kloter ketempat yang bersejarah dalam perkembangan islam,antara lain ke Jabal Rahmah dan Jabal Uhud.perjalanan dari maktab ke Jabal Rahmah hanya 10 menit.begitu sudah sampai Rhada melangkahkan kaki turun dari bus,Rhada dan rombongan sudah disambut sejumlah pedagang mutiara dari bangsa Arab dan Nigeria.

Rhada dan ibu membeli 2 buah kalung mutiara.satu berwarna merah dan satunya berwarna krem,Usai tersita perhatian pada kalung mutiara kini Rhada mulai mendekati Jabal Rahmah,Batu batu besar bagaikan ditumpok menjadi bukit  kini terpampang didepan mata mereka.Ada coret-coret terlukis ditubuh bebatuan itu seperti coret-coret ditembok jalanan kota-kota di Indonesia.

Hati Rhada sedikit miris,kenapa kealamiah ciptaan tuhan itu diusik bercak tinta yang bertuliskan nama dan permintaan berbagai bahasa,bahkan bahasa arab.Yah,katanya bila menulis sesuatu bisa terwujud,bahkan bisa kembali lagi ketempat itu bersama permintaan yang dikabulkan.sebab hal itu yang sering dipanjatkan di Jabal Rahmah.

     Hari mulai terasa mengigat ketika matahari menumpahkan sinar penuh.Sebelum siang benar-benar tarik,ketua kloter meminta jamaah kembali ke bus untuk berangkat ketempat berikutnya,Jabal Uhud.Rombongan singgah ke Masjid Quba dalam perjalanan menuju Jabal Uhud  menunaikan shalat dzuhur,setelah itu melanjutkan perjalanan di Jabal Uhud .Di Jabal Uhud memang terdapat makam para syuhada korban perang besar,para jamaah bisa memanjatkan doa untuk kebaikan perwira islam.

     Setelah itu rombongan Rhada  menuju pasar kurma,wajah Rhada peluh bercucuran membasahi wajah Rhada siang ini,pakaian dan jilbabnya penuh keringat.Dia baru saja belanja,kemudian langsung berangkat kemasjid nabawi.Gadis itu belanja untuk makan malam Seorang pria berkebangsaan arab membantunya itulah awal perkenalan mereka yusuf namanya,ternyata dia memiliki tujuan yang sama ,maktab Ahraf.setelah itu keduanya berpisah dipintu lift Rhada berada dilantai genap dan yusuf dilantai ganjil.

Setelah itu rhada dan ibunya terdampar dimasjid nabawi,ia kalah berebut lokasi tiba tiba ibunda Rhada sakit perut,ada gadis muda yang menyodorkan sesuatu ditangannya yaitu sebuah botol kecil untuk kesembuhan ibu.setelah beberapa menit wajah ibu mulai merona lalu senyum kelegaab tersungging dibibir tua itu.wajah Rhada pun tak kalah benderang.

Isai salat dzuhur di Madjid Nabawi , Rhada dan kedua orangtuanya berencana mampir ke Raudhah,baru saja kaki Rhada melangkah ke salah satu pintu terhalang oleh perempuan penjaga masjid nabawi.gerakan mereka cekatan memeriksa setipa ceruk lipatan tasnya,Rhada tidak lepas dari tangan ibunya berharap ibunya tak usah khawatir.”no..no..camera”ungkap sang perempuan penjaga masjid nabawi.siapa pun manusia dimuka bumi yang hadi disana pasti berharap dapat memahat kenangan keberadaan mereka disana lewat bidikan kamera.

Dengan bersusah payah,akhirnya sampai juga mereka didepan dinding Raudhah yang seperti kemarin.Tak terasa ritual kecintaan itu dilakoni Rhada setelah itu mereka kembali ketempat barang yang mereka letakkan.Rhada melanjutkan ritualnya untuk segera wudhu dan bersiap-siap sholat ashar.

Bab 3

         Karena hari ini merupakan hari terakhir Rhada berada di Madinah.sang bunda mengajakny mampir melihat-melihat perhiasan yang dipajang di etalase toko si lelaki arab, Rhada menarik tangan kanan sang ibu dan mengajaknya meninggalkan toko tersebut. Lagi pula sang ibu hanya bolak balik dietalase tanpa tujuan.lelaki arab berkumis melintang itu tampak tahu Rhada bermaksud menghindar.yusuf sedari tadi memperhatikan si pemilik toko,dia berusaha mencari petunjuk agar Rhada bisa pergi secepatnya dari tempat itu.

     Setelah meninggalkan tempat itu Rhada Sudah berjalan  lebih tenang dijalan madinah sekitarnya,napasnya pun tidak kembali terengah-rengah ia merasa agak takut.dia tak yakin tahu jalan peristiwa tadi secara lengkap.namun,Rhada bertekad dilain waktu untuk mengucapkan terima kasih kepada yusuf.sementara wajah bu amiyah terlihat senang .memang sudah sejak setahun lalu sang bunda rajin mengompori Rhada agar segera menikah dengan beberapa anak kenalannya.sayangnya Rhada tidak sreg dengan mereka karena hatinya masih terkunci dengan osman.

Kemudian Rhada bertemu Rudi teman Rhada waktu bangku SMA.mereka tidak pernah sekelas tetapi ada kisah yang membuat mengenal Rudi ,dan seuumur hidupnya,takkan pernah melupakan lelaki tersebut.Deg!jantung Rhada seolah berhenti.Tiba-tiba seluruh panas dalam tubuhnya menguap dan meninggalkan rasa dingin yang membekukan tubuh.Rudi masih menyimpan perasaan itu hingga kini.setelah itu Rudi kembali ke maktab.

Sementara disisi jalan-jalan pasar kota Mekkah,kedua orang tua menebak apa yang telah berlangsung dihati Rudi.Demikian pula dalam benak mereka,Usia anaknya tak lagi muda dan sudah saatnya dipinang lelaki.kedua orangtuanya mengharapkan reaksi mereka.sekarang orang tuanya tertawa,seandainya mereka bukan beribadah,tak akan berhenti menggoda Rhada sepanjang hari.

Kontan Rhada mendelik.ibunya pun memukul lengan suaminya memperingatkan agar tidak menggoda anaknya.mendapatkan tatapan mematikan dari kedua perempuan terindah dalam hidupnya,Pak Bakar pun berhenti.Bu Amiyah beralih sibuk menyibukkan diri membantu Rhada memilih sayur-mayur dari pedagang Arab.

Bab 4

          Sebait kalimat ditorehkan Rhada dengan tinta merah diatas lembaran notes hanya beberapa saat lembaran itu berada ditempat karena didetik kesepuluh,kertas itu telah diremuk dalam genggaman dan dilemparkan dikeranjang sampah.Tak lain Osman cuma lelaki itu yang bisa mengisi kalbu Rhada selama ini,Teramat sulit menepis cinta yang mengakar dari SMP.

   Pagi yang cerah.Matahari mekah memancarkan sinar ditemani arakan awan menghiasi langit.kemudian siap-siap ke Masjidil Haram baru saja langkah kaki melepas ada seorang ibu yang menangis disisi jalan karena terpisah dari rombongannya yang berasal dari Sulawesi Selatan.Rhada dan yusuf membantu menyelesaikan masalah ini kekantor perwakilan untuk jamaah yang mendapat musibah atau kesulitan.Rhada tersenyum tipis kedua orang tuanya mengucapkan terima kasih kepada yusuf,walau yang ditolong bukan mereka,tetapi perhatian dan kesantunan lelaki itu menawan hati.

     Oleh karena itu,salah satu nama pria yang mengikat hatinya kini dilafalkan,walaupun dia yakin tanpa mengucapkan apa pun allah teramat tahu apa yang disimpan dibalik batinnya.kalimat dia layangkan dengan mengikuti nama Osman,entah kenapa wajah lain bermunculan ada Rudi dan Yusuf.

     Yallah,pilihkan salah satu dari mereka untukku.Engkau tahu,aku hanya menetapkam satu persyaratan bagi mereka,yaitu cintanya pada-MU.Jangan pertemukan hatiku dengan lelaki yang bukan jodohku.

Dengan kalimat itu,ditutuplah kelah-kesahnya pada Sang Maha Pemberi.Rhada tak ingin terbenanam lama dalam bayangan wajah-wajah lelaki bukan mahramnya itu lebih lama lagi.

Bab 5

      Dada Rhada berdebar kencang.dering telepon genggam menarik pandangannya kesebuah nama ponsel.walaupun telah berkali-kali bercakap dengan si penelpon ,hati Rhada tidak bisa menutupi rasa senang setiap kali menerima panggilannya.Osman menelepon Rhida menanyakan kabar tentang dia dan keluarganya,memberikan kabar bahwa Osman sekarang lagi dimekah.insyallah besuk menuju Mina setelah mampir ke Arafafah dan Musdzalifah.Rhada menatap nanar layang ponselnya menghembuskan napas panjang,dan memejamkan mata.hatinya senang Osman menelpon dan menanyakan kabarnya,tapi diam-diam menelusup rasa kecewa rasa yang tak pernah dimengerti.

     Pak Bakar ingin tahu siapa yang menelpon anaknya tetapi Rhada agak ragu-ragu menjawabnya,pak bakar mengarahkan percakapan arah perjodohan.untunglah percakapan osman itu tak berlangsung lama karena dering telepon kembali menggema dari ponsel berharap itu Osman lagi,ternyata teman sekantor dan kini bekerja disebuah LSM karena merasa tidak cocok dengan bos Rhada.namanya Hendar.

     Rhada tidak ada perasaan sama sekali kepada Hendar,pembicaraan Hendar yang mengarahkan ke isi hatinya dialihkan Rhada ke masalah kantor baru yang ditempati Hendar yang kini.oleh,karena itu Rhada juga tidak tertarik menjelaskan keayahnya siapa yang kini giliran menelpon dirinya.untuk melepaskan kenangan yang tidak begitu penting tentang Hendar,Rhada memutuskan melihat isi pasar mekah,Semula dia bermaksud mengajak Mutia,tetapi dia sibuk mendampingi ayah yang kini cukup sering sakit-sakitan.Akhirnya Rhada pergi sendiri tanpa mengajak orang tuanya sebab tenaga mereka masih harus dihemat untuk perjuangan panjang Arafah,Muzdalifah,dan Mina.

Bab 6

        Rhada dan rombongannya menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf 9 zulhijah dalam hitungan bulan arab yang jatuh dibulan januari pada masa pemberangkatan haji tahun ini.para rombongan sibuk memasang tikar didalam tenda,tak ada suara riuh bagaikan segerombolan orang yang sedang berkemping,meski suasana jamaah haji ke Arafah mirip wisata berkemah di Tanah Air.Usai semua aktifitas membenahi isi tenda,Rhada dan anggota timnya bertelekan diatas tas yang berisi pakaian.

Rhada sengaja melarang ayah yang tertarik ikut,alasannya yaitu demi menghemat tenaga ayah.ketika berjalan medekati tempat yang di cari bertemu dengan Rudi,Rhada menyapanya.setelah itu mereka barengan perjalanan melintasi tenda-tenda putih panjang berukuran 6 meter mereka masih diam,dia teringat kembali kenangan SMA dulu.

Rudi bertanya kepada Rhada apakah sudah mempunyai calon,atau sudah menikah?Deg! Kembali jantung Rhada bertalu terkenang Osman kembali menerpanya.entah kenapa dia merasa seperti demikian pula,sekarang dia yakin nuansanya tetap berbeda.Dia mengagumi keislaman lelaki serta menyingkirkan semua kesibukan diduniawi.

Usai terpukur lama dalam hening mengevaluasi diri dari Arafah,senja pun tiba dan adzan maghrib  semua jamaah bergerak kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.setelah itu melanjutkan perjalanan kembali ke Muzdalifah Akhirnya waktu isya pun masuk.salat jamaah kembali digelar setelah itu Sang ayah membawa tas nya sendiri juga membantu membawakaan tas ibu-ibu yang tidak didampingi suaminya.perasaan Rhada haru menjalari dada Rhada melihat kebaikan ayahnya.Rhada berdoa meminta pertolongan untuk membantu ayahnya.Tiba-tiba yusuf membantu pak Bakar membawakakan barang-barang Rhada tak percaya seorang yang menawarkan jasanya itu tak lain yusuf.

Tak berapa lama,bus yang menjemput mereka tiba di Muzdalifah dan Arafah,Yusuf ikut membawakan barang-barang para ibu jamaah dan membantu mereka menaiki bus.Namun,mata Rhada tak henti mengamati kesibukan Yusuf,hingga mobil akhirnya bergerak menuju Mina ditengah malam yang dingin

Bab 7

      Cuaca di Mina tiada beda dengan Mekkah,begitu cerah dengan angin yang menyejukan.tenda-tenda putih jemaah haji berjejer diantara bukit batu dan padang yang sangat luas,begitu sampai rombongan Rhada menikmati istirahat ditenda dengan santapan makanan ala Mina.ketua kloter,pak Husni mengabarkan bahwa pelemparan jumrah pertama kali akan dilakukan nanti malam.Itu artinya esok hari adalah lebaran idul adha.

     Rhada mendapatkan telpon dari Desi Sahabat kental yang dulu sama-sama satu kantor karena tidak cocok dengan bos Rhada gadis itu pindah ke kantor Hendar.Desi menyampaikan kalau Hendar bicara panjang lebar tentang perasaanya kepadamu dan ingin meminangmu begitu pulang dari ibadah haji.wajahnya pun terlihat memelas,suaranya melemah seperti mau menangis.

        Rhada dan kedua orang tuanya pun mulai mendekat ke jumrah,satu tangan Rhada sibukmemegang kantung batu sedangkan tangan yang lainnya melempari batu kecil kedalam sumur jumrah satu per satu.Untuk kali pertamanya Rhada merasakan ada kehangatan yang terpantik oleh rasa cinta dalam bentuk yang lain kepada makhluknya itu lewat cinta allah yang dibesarkan mereka.Segaris senyum menggiring tatap gadis itu ke arah sang ibu ke punggungnya begitu mereka usai melempar jumrah,seolah-olah dalam melodrama yang terlihat begitu mengharu-biru.

Bab 8

       Sebait puisi itu melintas begitu saja di batin Rhada,langkah kaki yang semula bersemangat melewati terowongan mina mulai melemah.Rhada dan rombongannya melewati jumrah hari kedua.lantunan puisi timbul begitu saja,mungkin karena gadis itu terdiam sendirian sementara ayahnya sedang asyik mengobrol bersama pimpinan kloter mengenenai rencana lusa yaitu tentang kapan dan dengan apa rombongan kembali akan kemekah.

 Akhirnya,Rhada memutuskan untuk berkeluh kesah pada allah,tiba-tiba Rudi sudah berdiri didepan kemah.Dengan cemas pembicaraan ketiga lelaki didalam kemah.Akhirnya,Rudi berpamitan keluar,mengajak Rhada untuk menemaninya berjalan berkeliling bentar.mereka berjalan bersisian berjarak satu meter keheningan diantara mereka diusik oleh suara angin dan riuh rendah suasana perkemahan.

Dia berharap rasa itu bisa pupus selamanya.Bagaimana pun alasan agama lebih kuat mendukung keberadaan Yusuf untuk menggeser Osman daripada sebalikny.gadis itu membuka lembaran baru dihatinya dan berdoa didepan kakbah.Sementara itu anggota rombongan masih terlihat sibuk berdialog dengan lain seperti hujan dimekah menyebabkan air hujan masuk menggenangi Masjidil Haram.kejadian itu merupakan pengalaman langka,bahkan hampir tidak pernah terjadi ditanah suci.

      Rhada pun membelokan percakapan tentang kondisi.Madjidil Haram,jauh dibalik dadanya dia berharap semoga masjid tercinta itu tak kotor dan tetap terpelihara bagi setiap jamaah yang ingin menjatuhkan keningnya disitu,bersujud ke hadapan allah.para ibu-ibu pun ikut teralih,melupakan kisah Rhada dan Yusuf.

Bab 9

          Siang mulai menentang Rhada dan rombongannya kembali menuju bus yang akan membawa mereka kembali ke mekkah untuk melaksanakan ritual tawaf ifadhah dan sa’i akan diikuti dengan tahalul atau mencukur rambut bagi lelaki atau memotong sebagian rambut bagi perempuan bagian persyaratan kesempunaan haji.

         Tinggal 2 hari lagi Rhada dan rombongannya menikmati hawa mekah.kini ketiganya sudah memasuki  toko souvenir yang berdampingan dengan toko busana muslim.ditengah mencari kesibukannya mata Rhada tertumbuk pada sepasang cincin bermata merah terang bertuliskan”allah”.pikirannya menerawang pada impiannya itu.

Tiba-tiba pak Husni datang mengabarkan gembira  bahwa pak syamsu besuk akan mengangkat menantu untuk anak gadisnya yaitu mutia.Rhada berlari riang memeluk mutia,semua ikut merayakan kebahagian yang dialami Mutia dan pak syamsu.Rhudi dan Mutia akan mengucapkan ijab kabul nanti malam.Rhada tak menyangka hati Mutia berlabuh pada Rudi padahal sebelumnya dia berpikir gadis itu tertarik lebih pada Yusuf.Ada perasaan senang,haru dan sedikit melingkup batin Rhada saat itu.

Setelah kesepakatan menikah di Mekkah tercapa,Dari mata Mutia bergugurkan air mata sukacita.pemandangan yang sama melihat sang ayah Rhada memeluk pak syamsu mungkin karena hatinya gembira dengan adanya rencana pernikahan Mutia dan Rudi,Fisiknya tidak mersakan lelah.Usai melepaskan pelukan hangat itu,Rhada dan pak Bakar pun menyingkir digantikan ucapan selamat.Hati beliau ingin sekali Rhada mengalami saat yang indah itu.Bila terwujud,pelukan untuk anaknya sendiri tentu akan lebih erat dan mendalam.

Bab 10

       Malam bertabur bintang dan purnama bersinar penuh dilangit mekkah.lampu-lampu kota ikut menerangi suasana.kesyahduan mekkah kali ini serasa begitu melengkapi kebahagiaan yang tersemanyam dihati Mutia dan Rudi.Rhada pun ikut merasakannya.

Sungguh diluar dugaan,Yusuf juga menyimpan harapan penyatuan mereka dan memberikan ending manis untuk tatapan penuh arti yang beberapa hari lalu pernah  saling mereka pancarkan.Jadilah langit Mekkah kian bertabur cinta.sang ibu mulai sibuk bercerita tentang yusuf bagaimana akhirnya Yusuf berani melamar Rhada pada jamaah ibu-ibu.Dimekkah pak Hamzah orang pertama mengucapkan selamat atas tekad Yusuf meminang Rhada.

Hendar telepon Rhada menanyakan kapan dia akan pulang,untuk itu Rhada tak ingin memberi harapan lebih jauh pada Hendar,Rhada memberikan gambar gembira bahwa dia dilamar seorang pria disini.insyallah pernikahannya digelar secepatnya.gadis itu pun tahu rasanya bagaimana patah hati.dia tetap tak tega melukai sesama manusia.

Bu Amiyah memanjatkan syukur dalam doa-doa mereka sangat erat.Rasa dekat dengan sang Khalik ini memang tetap ada begitu di Tanah air,tapi kedekatan itu seolah terbatasi dengan tuntunan dunia,seperti karier yang ditekuni Rhada atau pekerjaan rumah tangga yang dijalani bu Amiyah.setiap orang yang baik akan ditunjukkan allah kasih Sayang-Nya,sedangkan bagi yang berbuat jahat pun akan dibalas allah seketika.Namun,itu tak lebih sebagai perwujudan rasa cinta-Nya yang tak ingin sang umat menjadi sesat.

Bab 11

 Jeddah yang indah takkan terperikan perasaan yang muncul dibatin Rhada saat menyaksikan paranoma jeddah yang menyilaukan mata,mengagumkan hati serta menggemakan beragam rasa.anggota rombongan haji lainnya tak sabar.Begitu sampai di maktab jeddah.para jamaah langsung meminta wisata rohani diadakan secepatnya saja demi menyaksikan pemandangan jeddah secara lengkap.

Rhada juga menyaksikan warna-warni bunga yang menyemarakan taman kota jeddah yang asri .Negeri Arab terkenal sebagai negri tanah gersang,tapi dengan rimbunan bunga-bungaan itu sepertinya masyarakat jeddah ingin menunjukkan bahwa sebuah negeri impian telah mereka ciptaan.menurut pemandu, di arab saudi ini dissuling dari air laut tempatnya masih dikota jeddah.Rhada dan rombongan pun sampai di obyek wisata laut merah.Dada gadis itu teringat cerita nabi musa.

Rhada mendapat panggilan tak terjawab,panggilan osman terukir jelas di layar hp dipencet nomor yang sama Osman.lalu Rhada mengangkat teleponnya Osman melamar Rhada tetapi dia menolaknya karena ia mau meliwati proses lamaran yusuf.aku sudah yakin untuk menerimanya sepenuh hatiku.Taburan cinta jemaah haji dan gemintang langit menjadi saksi.tak  didengarkan jawaban dari seberang mulut Osman seolah-olah terkunci rapat.

Osman mengucapkan terima kasih atas keyakinanmu.selamat menempuh perjalanan ke tanah air,semoga sampai pulang selamat.pembicaraan ditutup Osman,seiring itu kelapangan hati yang dirasakan Rhada walau masih terselip iba untuk Osman.Rasa itu Rhada khawatirkan bisa mengganggu tekadnya berdampingan hidup dengan yusuf.perjalanan hati kini benar-benar terkunci untuk yusuf.

Wajah Rhada tak kalah berbinarnya setiap kali mata yusuf teduh menatapnya.seperti tambah mengenal yusuf,tambah dekat kebatinnya dan disana ridha allah yang sekian lama lelah dicarinya akan ditemukan.kali ini,tak akan mungkin di sia-siakan untuk alasan apa pun,begitu tekadnya menutup perjalanan ditanah arab dan menyongsong permainya ke kampung halaman yang telah terbayang dipelupuk mata indahnya.