Cemberut

         Siang panas. Anak-anak kelas 5 SD Muhammadiyah Kauman berebut keluar kelas. Mereka ingin segera pulang ke rumah masing-masing. Kalau puasa di samping lapar, terlalu lama di sekolah biasanya membuat anak-anak sering mengantuk. Oleh karena itu, selama Ramadan anak-anak selesai pukul 11.00.

          Aku keluar bersama teman-tamanku, yaitu Amanda, Fikri, Sara, dan Intan. Sambil bercanda, kami segera pergi ke tempat teduh di halaman masjid, di dalam lingkungan sekolah.

         “Wah, aku sudah dijemput. Pulang dulu ya teman-taman…” kata Amanda dan Fikri. Yang menjemput mereka adalah ayah Fikri. Amanda pulang bersama mereka karena rumahnya berdekatan.

         “Semalam sahur nggak, Fan?” tanya Sara kepadaku.

         “Ya. Tapi kok sudah merasa haus ya jam segini?” candaku.

         “Ah, kamu bisa saja! Kalau panas begini, tentu saja semua orang merasa haus. Memang puasa tidak boleh haus?” jawab Sara sekenanya.

         “Tentu saja boleh. Ya nggak boleh minum. Itu membatalkan puasa. Apa lagi marah. Makannya jangan cemberut. Bercanda kok,” ledekku.

         “Itu ibuku. Aku harus pulang. Kamu gimana, Fan?” tanya Sara.

         “Ya sudah, kamu pulang dulu nggak apa-apa,” kataku

         “Daaah! Sampai ketemu besok, ya,” Sara berlalu sambil melambaikan tangan.

         Sudah 30 menit aku menunggu Ibu. Namun, Ibu belum muncul juga. Perasaan jengkel menghantui pikiranku.

          “Kok lama sih!” keluhku. Mulutku cemberut, melihat halaman sudah sepi karena semua sudah pada pulang. Kesabaranku semakin diuji. Hari semakin siang, sinar matahari makin menjadi-jadi. Ingin rasanya aku menumpahkan semua kejengkelanku dan kemarahanku. Namun, aku masih ingat kalau sedang berpuasa tidak boleh marah.

            Lewat dari 40 menit, akhirnya terdengar suara  seseorang memanggilku, “Mbak Fani, ayo pulang!”

           Itu suara ibu. Begitu senangnya aku melihat Ibu datang. Bersama adik-adikku. Kami berempat naik becak. Ibu mulai bercerita, “Mbak, maaf Ibu terlambat menjemput.” Aku masih cemberut.

           “Mobilnya mogok di jalan. Sekarang Bapak sedang menunggu tukang bengkel untuk membetulkannya. Mbak Fani tidak boleh cemberut lho,” lanjut Ibu di dukung kedua adik-adiku.

               Sesampainya di tempat mobil mogok, Ibu menghampiri Bapak yang masih berpeluh, sibuk mencoba membetulkan mobil.

               “Bu, cari bengkel terdekat saja ya. Tadi bapak sudah menghubungi mereka,” kata Bapak.

               “Di dorong dulu saja, mungkin bisa,” usulku.

               “Tapi harus siap-siap haus lho ya! Nanti batal nggak puasanya?” jawab Bapak.

               “Siapa takut! Ayo…” seru Ibu sambil tersenyum kepadaku. Akhirnya jadilah acara dorong-mendorong mobil itu. Bapak memegang kemudi dan persneling, sementara aku mendong mobil dengan Ibu dari belakang. Satu…dua…brumm!! mesinnya kembali menyala. Mobil tidak mogok lagi.

                Horeee!! Aku dan adik-adikku langsung senang. Kami pun bisa kembali pulang ke rumah.

                “Ya Allah, semoga cemberutku tadi tidak membatalkan puasaku. Aku ingin mendapat pahala dalam berpuasa,” begitu doa tulusku dalam hati.