Bimbim

Hore,Bimbim naik kelas

     ” jam enam,Bun,”kata Bimbim.

    “Jam enam lebih sepuluh,”kata Bimbim lagi,menarik Bunda.

     “Bunda,jam enam lebih dua puluh,”lagi-

Lagi Bimbim mengingatkan bunda.

    “Aduh, Bimbim berisik amat,” protes kak

Mimi.

   “Bimbim sayang, pembagian rapor baru

Jam delapan,” kata bunda.

   “Nah ,tuh ayah sudah selesai mandi,”

tunjuk bunda.

   “Ayo,yaaah!”seru Bimbim.

   “Duh, semangat sekali,nih yang mau

Mendapat rapor pertama,”goda Ayah.

   “Hahaha, takut tidak naik kelas,yah?”

Kak Mimi terbahak.

   “Bimbim tentu naik kelas,dong,”  seru

Bimbim.

   Kak Mimi menjulurkan lidah,”tapi dapat

Ranking tidak?”

   Bimbim bingung,”Ranking itu apa?”

   Bunda menepuk bahu Bimbim,”Ranking

Itu urutan.Yang nilainya paling bagus di kelas,

Mendapat ranking satu.”

   “Tapi, sekarang tdk ada ranking-

rankingan lagi,kok. Semua anak juara!”kata

Ayah menenangkan Bimbim.

   “Sttt…ibu guru tetap mengurutkan nilai.

Jadi,kita bisa tanya ranking berapa,hihihi,”

Kata kak Mimi.

   ” Ah, untuk apa,” Bimbim mengedikkan

bahu.

   Ayah menengahi mereka yg saling

bersikeras soal ranking.Jika dibiarkan bisa

terjadi perang di pagi hari.

   “Ayo,kita berangkat!” Kata ayah.

  Sepanjang perjalanan,kak Mimi terus

Bernyanyi di mobil.

   Biasanya Bimbim ikut bernyanyi,tapi

Kali ini ia terdiam.

   “Bagaimana,ya kalau aku tetap kelas satu

Sedangkan teman-teman yg lain naik kelas

dua,”pikir Bimbim khawatir.

    Ia merasa sudah akrab dengan mereka.

   “Diin… Diiringi,” lamunan

Bimbim terhenti suara klakson

Mobil.

   Rupanya mereka sudah

Sampai di sekolah.

   Hari ini banyak anak diantar orang tua

Mereka.sehingga kendaraan yg menuju

gerbang sekolah sangat banyak.

   Kak Mimi melesat turun.Ia berlari menuju

Teman-temannya.sementara Bimbim turun

Perlahan,memegang tangan bunda erat-

erat.

   “Bimbim kenapa?” tanya Bunda heran.

Bimbim menggeleng.

   “Nggeh … Bimbim takut tdk naik kelas,”

Kata Bimbim pelan.

   “Pooh itu tipsnya.Bimbim yakin

aja.insya Allah anak yg rajin akan naik

Kelas,” kata bunda.”

   “Bimbim baru tahu, ternyata ada yg

akan tdk naik kelas juga ,”kata Bimbim

polos.

  “Murid Bu Ratih semua rajin-rajin.semua

akan naik kelas,” Bu Ratih tiba-tiba sudah

berada di belakang Bimbim.Rupanya,

beliau mendengar pembicaraan Bimbim dan

Bunda.

   “Bu Ratiiih,” Bimbim berseru sambil

Memeluknya.

   “Hehehe … masa ketua murid di kelas

Bu Ratih tdk naik?!”ujar Bu Ratih tertawa.

   Anak-anak kelas satu merasa gembira.Hari

Ini mereka akan mendapat rapor pertama.

Kata Bu Ratih semua anak naik kelas, semua

anak juara.

   “Horeee,kita naik kelas ,” teriak Bimbim

gembira.

   “Aku Bimbim,anak kelas dua,”

Bimbim menyodorkan tangan, pura-pura

berkenalan.

   “Sama,aku juga kelas dua,” balas Riki

terbahak-bahak.

   “Hebat,ya kita,” timpal Dudu.

   Bimbim ingat,ia sangat takut

saat pertama kali akan masuk SD.tapi berkat

akal-akalan kak Mimi tentang sepatu ajaib,

Bimbim pun jadi pemberani.Tidak tahunya,

sepatu ajaib itu hanya sepatu biasa.

   Selama setahun ini Bimbim belajar banyak

hal.Belajar untuk tdk takut dan slalu

percaya diri.Bimbim juga belajar menjadi

anak yg suka menolong dan berempati.

    “Hei,melamun!” Dudu menepuk pundak

Bimbim.

   Bimbim tersenyum,”Aku tak percaya, kita

sudah setahun berteman.”

   “Ya.serasa baru sebentar,”kata Dudu.

   “Berarti itu tandanya asyik …,” Kata

Bimbim merangkul Dudu.

   “Sampai jumpa dua Minggu lagi,”Bimbim

Melambaikan tangan.

   “Ya,” kata Dudu terharu.

“Terima kasih , Bimbim,”kata Dudu

dalam hati.

   Dudu bahagia melewati satu tahun.Dan itu

Semua berkat bantuan Bimbim, sahabatnya

Yg supersetia.

                                   🍁   🍁

                                          Liburan, yuk!

   “Arrrghhh!” Bimbim menjerit keras pagi

Itu.

   Bunda pun kaget dan tergopoh-gopoh

Menghampiri.

   “Kenapa,Bim?”

   “Bosan … Bosan … Bosan!”jerit Bimbim

menghentakkan kakinya.

   “Bimbim mau sekolah! Bimbim bosan

Libur terus ,”jelas Bimbim.

   “Baru juga tiga hari libur,kok sudah

bosan?”tanya Bunda.

   “Tidak ada teman,”jawab Bimbim.

   “Bukaan.Bimbim ingin teman bermain

yang umurnya sama,” kata Bimbim.

   “Ada Iwan,kan?” tanya Bunda.

   Bukannya menjawab , Bimbim malah

menangis keras,”hihihi … Iwan pergi!”

   “Cup… cup…cup Bimbiiim,” Bunda

memeluk Bimbim.

   Setelah tenang , Bimbim bercerita sambil

sesenggukan.

   “Oh, Bimbim ingin piknik?”tanya

Bunda.

   “Iyyaaa … Kan liburaaan,”seru Bimbim.

   “Tunggu hari sabtu,ya.Hari kerja begini

kan Ayah tidak libur,”bujuk Bunda.

   Kemudian, Bimbim mengaduk-aduk

kotak mainan.Ia mengeluarkan kepingan

Puzzle.

   “Ah,main puzzle-nya jadi gampaaang,”

keluh Bimbim.

   “Main apa lagi,nih?” Pikir Bimbim.

   Tiba-tiba, terdengar suara riang kak Mimi

   Bimbim menghampiri kak Mimi yang

masih bernyanyi-nyanyi riang.

   “Kak Mimi kok senang libur,sih?” tanya

Bimbim.

   “Iyalah, tidak ada PR,bisa tidur sepanjang

hari,dan tidak harus mandi pagi,hihihi,”kata

Kak Mimi terkekeh.

   “Tapi,gak seru main bola sendiri,”keluh

Bimbim.

   “Mhh … ikut main sama kak Mimi saja,

yuk,”ajak kak Mimi.

   “Huaaa … huaaa … kak Mimi jahat!” seru

Bimbim.

   Kak Mimi berlari dikejar Bimbim.

   “Cari mainan sendiri dooong,”teriak kak

Mimi dari dalam WC.

   Bunda menghampiri mereka.

   “Aduh, kenapa,sih bertengkar terus,”kata

Bunda.

   “Kak Mimi ledekin Bimbim,” adu

Bimbim.

   “Kak Mimi,di toilet tidak boleh ngobrol,”

kata bunda sambil menarik Bimbim

menjauh.

   “Yuk, Bunda temani main,”kata Bunda.

   Bunda menggeleng, menunjuk sayuran

Yang teronggok di meja dapur.

   “Kita main masak-masakan?”tanya

Bimbim kaget.

   Bunda lalu menyusun sayuran di meja.

Sayuran disusun seperti bentuk gunung.

   “Bunda mau ngajak main tebak benda,”

kata Bunda kalem.

   Bimbim melonjak-lonjak,”lagi, Bunda …

lagi!”

   “Hijau,berdaun banyak,”kata Bunda.

   “Seratus buat Bimbim!”kata Bunda.

   “Nah, sekarang selingan.Kita hitung jumlah

daun bayam.

   “Ih, bagaimana cara

menghitungnya?” Bimbim

bingung.

   “Mudah saja.Daun

bayam dipetik satu per

satu.lalu,masukkan

ke baskom sambil

dihitung,”kata Bunda.

   “Satu…dua…tiga…,” Bimbim menghitung

dengan semangat.

   Bunda tersenyum lega.

   “Eh… eh…lima puluh tiga, Bunda,”

Bimbim menyodorkan baskom berisi daun

bayam.

   Hari itu Bimbim menikmati liburan di

rumah.Esoknya Bunda mengajak Bimbim ke

dapur lagi. Tapi, lama-lama Bimbim kembali

bosan.Untunglah,hari Sabtu tiba.Ayah pun

mengajak jalan-jalan ke kolam renang.

   “Air hangat,”kata Bunda.

   “Hahaha…memang Bunda mau ikut

nyemplung?”

   “Hehehe… tidak,sih.Tapi kalau airnya

dingin,hanya berenang sebentar,”kata

Bunda.

   “Bunda tersipu-sipu,”Dekat kolam renang

air hangat,ada salon ,Lo.”

   “Eiiiiits… Ketahuan!”sahut Ayah.

   Bimbim dan kak Mimi lalu berenang

bersama Ayah. Mereka bermain pelorotan

dan ember tumpah.

   Kak Mimi serasa ingin liburan

selamanya.

   “Bimbim sih, sekolahannya gampang.kalau

sudah kelas tiga susah,tahu!” Kata kak Mimi.

   “Ah,kak Mimi saja yang malas.Masa

cuma beda dua kelas ,susah,”ledek Bimbim.

   Bimbim cuma diam ,tak mengerti.Hari

Ini ia ingin benar-benar menikmati berenang

dan bermain. Sekolah tak akan disebut-sebut,

begitu pula kata kak Mimi.

          ******

   Namun, beberapa hari kemudian…

   “Hiks…hiks…hiks,” terdengar suara

Bimbim terisak-isak.

   “Lo, Bimbim kenapa? sakit?” tanya

Bunda.

   “Bimbim kangen teman-teman.Bimbim

ingin cepat sekolah lagi,”jawab Bimbim.

   Bunda pun kasihan melihatnya.Di

lingkungan ramah Bimbim sepi.Musim

liburan begini ,anak seumuran nya kebanyakan

berlibur ke luar kota.

   Bunda lalu meraih telepon . Bunda akan

memberi kejutan pada Bimbim.Tunggu saja.

   Bimbim keluar kamar dengan gontai.Ah,

paling ini tipuan kak Mimi lagi.

   “Duduuu!” Seru Bimbim kaget.

   Bimbim dan Dudu langsung berpelukan.

   Malam itu Dudu menginap di rumah

Bimbim.Bimbim senang luar biasa.Liburannya tidak membosankan lagi.

                        Teman misterius

   Suasana hari pertama sekolah sangat

ramai.Anak – anak berseliweran mencari kelas

masing-masing.

   Para guru tersenyum melihat anak-anak

heboh mencari kelas.

   Bimbim dan teman-teman digiring ke

lapangan.Mata Bimbim berbinar saat

melihat sosok yang sangat dikenalnya.

   Bimbim paling duluan berlari menuju Bu

Ratih.

   Tapi langkah Bimbim terhenti.

   “Siapa mereka?” tanya Bimbim kepada

Dudu.

   “Kayaknya anak kelas satu,”bisik Dudu.

   Bimbim mundur.Ia berjalan gontai

meninggalkan Bu Ratih yang sibuk dengan

mereka.

   “Sini, barisan kelas kita di sini!”Kata Reza

lagi.

   “Hah?Itu guru kelas kita?” tanya Bimbim

dengan suara keras.

   “Sttt.. iya,katanya

namanya Bu Hannah,”

bisik Reza.

   “Hii,tdk mau,ah.Bimbim ingin

Bu Ratih saja!”Bimbim mengedikkan bahu.

   Sudah capek-capek belajar setahun,masa kelas satu lagi.Tapi,

rasanya Bimbim belum rela berganti guru.

   Bimbim memperhatikan Bu Hannah yg

tdk selincah Bu Ratih.

   Bu Hannah memandang Bimbim takjub,

mereka bernyanyi sambil berpandangan.Bu

Hannah lalu mengambil sesuatu dari saku

baju.Bimbim terlonjak girang.Harmonika!

   Bu Hannah sangat pandai memainkannya.

Bimbim terus bernyanyi.Sementara,teman-teman

bertepuk tangan.

   “Hebat,kamu hafal lagu ini.padahal lagu

ini adalah lagu saat ibu masih kecil,Lo,”kata

Bu Hannah.

   Bu Hannah ternyata kocak ,tdk galak

Seperti yang terlihat. Dan yang terpenting,

pandai menyanyi.

   “Yuk,duduk di belakang lagi,” ajak

Dudu.

   Bimbim mengangguk.

   Tak lama setelah mereka duduk, Ibu kepala

sekolah masuk.Ia berjalan bersama seorang

anak laki-laki jangkung.

   Bimbim dan teman-teman melotot

memperhatikan murid baru yang

berpenampilan aneh itu.

   “Anak bule,” bisik teman-teman Bimbim.

   “Kayaknya anak orang kaya.lihat, terlihat.

sombong begitu,” kata Joni yang duduk di

depan bangku Bimbim.

   “BII , kamu duduk dengan Bimbim ya,”

kata Bu Hannah.

   Bimbim tersentak, Dudu tak kalah kaget.

Lalu, dia duduk di mana, dong?

   Dudu melangkah dengan kesal. Murid

baru tak tahu diri. Masa datang-datang sudah

merebut bangkunya.

   Sementara itu, si anak baru melangkah

dengan santai. Ia langsung duduk di samping

Bimbim.

   Selama pelajaran berlangsung, tak sedikit

pun Bimbim mendengar suara si anak baru.

Bimbim pun malas ngoceh sendiri.

   Bu Hannah membuat guyonan di sela-

sela pelajaran, membuat anak-anak tertawa.

Beberapa kali Bu Hannah juga memperagakan

cara meniup harmonika.

   “Anak yg sangat aneh,” pikir Bimbim.

pelajaran hari itu jadi sangat membosankan.

Sesekali Bimbim melongok kan kepala ke

depan, ke arah Dudu. Dudu

juga tampak loyo tak bersemangat.

                 Be Cak Namanya

   Jam istirahat tiba, Dudu langsung melesat

menghampiri Bimbim.

   “Huh, sombong!” Kata Dudu sambil

menarik tangan Bimbim.

   “Keluar, yuk! Ngapain dekat-dekat anak

sombong itu.”

   Di kantin,Dudu masih mengomel-

ngomel.

   “Si Be Cak itu, anak kaya dan sombong

itu merebut Bimbim,” keluh Dudu.

   “Be Cak?” Bimbim tersenyum geli.

   “Iya… Be Cak kan namanya,” jawab

Dudu.

   “Sepertinya,Bu guru menyebut namanya

Biiii klaaaa … rek ,gitu, ” kata Bimbim.

   Mereka lalu kembali ke kelas. Si anak baru

tetap di bangkunya.

   “Be Cak!” Ulang Riki.

   Dudu terbelalak, “Tuh kan sombong,

dipanggil gk menoleh.”

   Muka anak baru itu memerah,tapi dia

tetap diam saja. Bimbim pun jadi kasihan.

   “Kamu manggil aku?” Akhirnya keluar

juga suara si anak baru.

   Suaranya datar.

   “Iya ,” kata Riki.

   “Namaku Biii … Biii … bukan Be,” katanya

sambil berdiri.

   Tapi Be Cak kembali duduk dan terdiam.

   “Bu, ” panggil Bimbim.

   “Muh … “Jawab B. Clark.

   “Jadi kamu orang mana? ” tanya Bimbim

lagi.

   B. Clark tak menjawab, ia hanya

mengedikkan bahu.

   “Begitulah anak nakal.Rambutnya dicat,

bajunya dibuat compang-camping, ” komentar

Dudu, terngiang lagi di telinga Bimbim.

    Di rumah, Bimbim menceritakan . Clark

kepada Bunda.

   “Muh … Sepertinya, dia nakal dan

sombong, ” kata Bimbim.

   Bunda terperanjat, ” Bimbim kenapa bilang

begitu? Kalian kan baru kenal sehari  .”

   Bimbim lalu bercerita saat Dudu kesal.

Dudu pun marah-marah karena dipindah

duduk dari Bimbim.

   Bunda tersenyum, “ha, Bunda tahu. Dudu

cemburu, tuh.”

   Kak Mimi ikut nimbrung, “Bukannya

cemburu itu jika direbut pacar? “

   “Hihihi … Di kelas empat, teman-teman

Kak Mimi sudah ada yg punya pacar, Lo,”

kata kak Mimi.

   Bunda kaget mendengarnya, “Ah , masa,

sih? “

   Kak Mimi mengedikkan bahu, ” Tidak tahu,

deh.

   Bunda mengangguk, “Anak besar juga.tdk boleh pacaran.”

   “Iya , Bunda rasa Dudu cemburu. Mungkin

iri karena Bimbim mendapat teman baru.

   Bimbim mengangguk-ngangguk. Pantas

saja, Dudu terlihat paling tdk suka pada

B. Clark.

   Esoknya, B. Clark masuk kelas kesiangan.

Setelah pelajaran pertama hampir selesai, ia

baru datang.

   Bu Hannah kaget dengan kedatangan

B. Clark. Matanya sampai melotot.

   Setelah duduk ia mengusap keringatnya

Yang bercucuran.

   Bimbim melirik teman sebangkunya itu.

Pandangannya terlihat heran.

   Sebelum jam pelajaran berakhir, ia sering kali

pulang lebih dulu. Bahkan dengan beraninya,

ia membolos.

   “Tuh, betul kan, dia anak

nakal,” kata Dudu.

   Kali ini Bimbim tdk membantah. Ia tak

bisa lagi membela B. Clark.

   Beberapa kali Bu Hannah

mengingatkan, tapi B. Clark tak bergeming.

   Sebulan sudah B. Clark. menjadi murid

baru. Tapi tak seorang pun akrab dengannya.

B. Clark selalu menghindar, datang terlambat,

pulang buru-buru.

   Pada suatu hari, B. Clark datang lebih

awal. Tidak seperti biasanya. Bimbim kaget.

   Belum habis rasa herannya , Bimbim

di kagetkan suara Riki.

   “Be Cak ulang tahun! ” Seru Riki.

   B. Clark menggeleng , tapi gelengannya

tak terlihat Riki.

   “Hore, hore, hore,” teriak Riki.

   Anak-anak langsun menuju meja B. Clark.

Mereka berkerumun dan menyalaminya.

Anak-anak juga menyerbu makanan di dalam

kardus.

   B. Clark terpana melihat teman-temannya

menghabiskan semua kue.

   “Selamat ulang tahun, Bu,” kata Bimbim.

   “Aku … aku… tidak,” kata B. Clark terbata-

Bata. “Ah, sudahlah!” Katanya sambil meraih

tasnya yang rombeng.

   Sebagai ketua

murid, ia harus bertanggung jawab. Benar

saja Bu Hannah bertanya kepada Bimbim.

   Tapi, Bu Hannah sudah

terbiasa jika BII kesiangan atau bolos

sekolah.

           💐💐💐

                  Be Cak menghilang

   Sudah berhari-hari B. Clark tidak masuk

sekolah.

   Bimbim jadi khawatir. Apakah B. Clark

betul-betul marah karena makanan yang

sudah habis itu?

   Dudu mencibir, ” Dasar  pelit . Segitu aja

marah. Anak manja.”

   “Muh… Kita tanya Bu Hannah saja,” usul

Reza.

   “Eh, ada apa, Anak-anak? Kenapa belum

pulang? ” Tanya Bu Hannah.

   “Oh, murid baru itu?” Kata Bimbim.

   “Iya, ibu juga bingung, berhari-hari bolos

sekolah.

   “Bu,kapan tanggal lahir Biii?” tiba-tiba,

Bimbim bertanya hal lain.

   Bu Hannah terperanjat,alisnya bertaut

Pertanda heran, ” Lo ,kalian mau tanya itu? “

   Bimbim mengangguk.

   “Muh… B. Clark lahir tanggal lima

Januari, ” kata Bu Hannah kemudian.

   “Ooh, jadi bukan Agustus, ya ulang

tahunnya ,” kata Riki .

   “Iya. pasti Bii marah,tuh,” kata Bimbim.

   “Gara-gara Riki ,sih,” kata Dudu.

   “Ah, kamu juga bilang, Be Cak mau nraktir

kita,” bantah Riki.

   “Hei…hei.. ada apa ini ?” Sela Bu

Hannah.

   Bimbim pun menceritakan kejadian tempo

hari kepada Bu Hannah.

   “Ooh, begitu, ya.

   “Kita ke rumahnya saja, Bu,” usul

Bimbim.

   “Oh, itu ide bagus.

   “Aku boleh ikut?” Tanya Dudu.

   Bu Hannah mengangguk ,” Boleh,tapi

Minta izin dulu kepada ibumu.”

                ***

   Sepulang sekolah, Bimbim menceritakan

rencana besok kepada Bunda.

   “Bunda antar, deh,” ujar Bunda tiba-tiba.

   “Asiiik, makasih, Bunda, ” Bimbim memeluk

Bunda.

   Tapi, esoknya, B. Clark ternyata tidak

masuk lagi.

   Akhirnya, siang itu Bimbim diantar kak

Mimi dan Bunda bersama Bu Hannah, Dudu,

dan beberapa teman yg lain, berangkat

menuju rumah B. Clark.

   Bunda menyetir mobil. Bu Hannah duduk

di samping Bunda. Anak-anak berimpit-

impitan di kursi belakang.

   “Di belakang kompleks Angsana,” kata

Bu Hannah.

   “Oh, kalau begitu dekat,” kata Bunda.

   Mobil Bunda melaju lambat memasuki

kompleks Angsana.  Beberapa kali mereka

berhenti untuk menanyakan arah jalan.

   “Aduh, di mana ya,” kata Bu Hannah.

   Bunda mengusulkan untuk beristirahat

dulu.

   “Nah, ada warung. Jajan dulu ,yuk,” ajak

Bunda.

   “Segaaar,” kata Bimbim.

   Bunda dan Bu Hannah lalu bertanya

kepada pemilik warung.

   “Ooh, gang itu?” tanya Bunda

memastikan.

   Pemilik warung mengangguk.

   Rombongan Bimbim berjalan beriringan

melalui gang sempit.

   “Ih, rumah Be Cak di sini? “Karya Tethy Ezokanzo

          Hore,Bimbim naik kelas

     ” jam enam,Bun,”kata Bimbim.

    “Jam enam lebih sepuluh,”kata Bimbim lagi,menarik Bunda.

     “Bunda,jam enam lebih dua puluh,”lagi-

Lagi Bimbim mengingatkan bunda.

    “Aduh, Bimbim berisik amat,” protes kak

Mimi.

   “Bimbim sayang, pembagian rapor baru

Jam delapan,” kata bunda.

   “Nah ,tuh ayah sudah selesai mandi,”

tunjuk bunda.

   “Ayo,yaaah!”seru Bimbim.

   “Duh, semangat sekali,nih yang mau

Mendapat rapor pertama,”goda Ayah.

   “Hahaha, takut tidak naik kelas,yah?”

Kak Mimi terbahak.

   “Bimbim tentu naik kelas,dong,”  seru

Bimbim.

   Kak Mimi menjulurkan lidah,”tapi dapat

Ranking tidak?”

   Bimbim bingung,”Ranking itu apa?”

   Bunda menepuk bahu Bimbim,”Ranking

Itu urutan.Yang nilainya paling bagus di kelas,

Mendapat ranking satu.”

   “Tapi, sekarang tdk ada ranking-

rankingan lagi,kok. Semua anak juara!”kata

Ayah menenangkan Bimbim.

   “Sttt…ibu guru tetap mengurutkan nilai.

Jadi,kita bisa tanya ranking berapa,hihihi,”

Kata kak Mimi.

   ” Ah, untuk apa,” Bimbim mengedikkan

bahu.

   Ayah menengahi mereka yg saling

bersikeras soal ranking.Jika dibiarkan bisa

terjadi perang di pagi hari.

   “Ayo,kita berangkat!” Kata ayah.

  Sepanjang perjalanan,kak Mimi terus

Bernyanyi di mobil.

   Biasanya Bimbim ikut bernyanyi,tapi

Kali ini ia terdiam.

   “Bagaimana,ya kalau aku tetap kelas satu

Sedangkan teman-teman yg lain naik kelas

dua,”pikir Bimbim khawatir.

    Ia merasa sudah akrab dengan mereka.

   “Diin… Diiringi,” lamunan

Bimbim terhenti suara klakson

Mobil.

   Rupanya mereka sudah

Sampai di sekolah.

   Hari ini banyak anak diantar orang tua

Mereka.sehingga kendaraan yg menuju

gerbang sekolah sangat banyak.

   Kak Mimi melesat turun.Ia berlari menuju

Teman-temannya.sementara Bimbim turun

Perlahan,memegang tangan bunda erat-

erat.

   “Bimbim kenapa?” tanya Bunda heran.

Bimbim menggeleng.

   “Nggeh … Bimbim takut tdk naik kelas,”

Kata Bimbim pelan.

   “Pooh itu tipsnya.Bimbim yakin

aja.insya Allah anak yg rajin akan naik

Kelas,” kata bunda.”

   “Bimbim baru tahu, ternyata ada yg

akan tdk naik kelas juga ,”kata Bimbim

polos.

  “Murid Bu Ratih semua rajin-rajin.semua

akan naik kelas,” Bu Ratih tiba-tiba sudah

berada di belakang Bimbim.Rupanya,

beliau mendengar pembicaraan Bimbim dan

Bunda.

   “Bu Ratiiih,” Bimbim berseru sambil

Memeluknya.

   “Hehehe … masa ketua murid di kelas

Bu Ratih tdk naik?!”ujar Bu Ratih tertawa.

   Anak-anak kelas satu merasa gembira.Hari

Ini mereka akan mendapat rapor pertama.

Kata Bu Ratih semua anak naik kelas, semua

anak juara.

   “Horeee,kita naik kelas ,” teriak Bimbim

gembira.

   “Aku Bimbim,anak kelas dua,”

Bimbim menyodorkan tangan, pura-pura

berkenalan.

   “Sama,aku juga kelas dua,” balas Riki

terbahak-bahak.

   “Hebat,ya kita,” timpal Dudu.

   Bimbim ingat,ia sangat takut

saat pertama kali akan masuk SD.tapi berkat

akal-akalan kak Mimi tentang sepatu ajaib,

Bimbim pun jadi pemberani.Tidak tahunya,

sepatu ajaib itu hanya sepatu biasa.

   Selama setahun ini Bimbim belajar banyak

hal.Belajar untuk tdk takut dan slalu

percaya diri.Bimbim juga belajar menjadi

anak yg suka menolong dan berempati.

    “Hei,melamun!” Dudu menepuk pundak

Bimbim.

   Bimbim tersenyum,”Aku tak percaya, kita

sudah setahun berteman.”

   “Ya.serasa baru sebentar,”kata Dudu.

   “Berarti itu tandanya asyik …,” Kata

Bimbim merangkul Dudu.

   “Sampai jumpa dua Minggu lagi,”Bimbim

Melambaikan tangan.

   “Ya,” kata Dudu terharu.

“Terima kasih , Bimbim,”kata Dudu

dalam hati.

   Dudu bahagia melewati satu tahun.Dan itu

Semua berkat bantuan Bimbim, sahabatnya

Yg supersetia.

                                   🍁   🍁

                                          Liburan, yuk!

   “Arrrghhh!” Bimbim menjerit keras pagi

Itu.

   Bunda pun kaget dan tergopoh-gopoh

Menghampiri.

   “Kenapa,Bim?”

   “Bosan … Bosan … Bosan!”jerit Bimbim

menghentakkan kakinya.

   “Bimbim mau sekolah! Bimbim bosan

Libur terus ,”jelas Bimbim.

   “Baru juga tiga hari libur,kok sudah

bosan?”tanya Bunda.

   “Tidak ada teman,”jawab Bimbim.

   “Bukaan.Bimbim ingin teman bermain

yang umurnya sama,” kata Bimbim.

   “Ada Iwan,kan?” tanya Bunda.

   Bukannya menjawab , Bimbim malah

menangis keras,”hihihi … Iwan pergi!”

   “Cup… cup…cup Bimbiiim,” Bunda

memeluk Bimbim.

   Setelah tenang , Bimbim bercerita sambil

sesenggukan.

   “Oh, Bimbim ingin piknik?”tanya

Bunda.

   “Iyyaaa … Kan liburaaan,”seru Bimbim.

   “Tunggu hari sabtu,ya.Hari kerja begini

kan Ayah tidak libur,”bujuk Bunda.

   Kemudian, Bimbim mengaduk-aduk

kotak mainan.Ia mengeluarkan kepingan

Puzzle.

   “Ah,main puzzle-nya jadi gampaaang,”

keluh Bimbim.

   “Main apa lagi,nih?” Pikir Bimbim.

   Tiba-tiba, terdengar suara riang kak Mimi

   Bimbim menghampiri kak Mimi yang

masih bernyanyi-nyanyi riang.

   “Kak Mimi kok senang libur,sih?” tanya

Bimbim.

   “Iyalah, tidak ada PR,bisa tidur sepanjang

hari,dan tidak harus mandi pagi,hihihi,”kata

Kak Mimi terkekeh.

   “Tapi,gak seru main bola sendiri,”keluh

Bimbim.

   “Mhh … ikut main sama kak Mimi saja,

yuk,”ajak kak Mimi.

   “Huaaa … huaaa … kak Mimi jahat!” seru

Bimbim.

   Kak Mimi berlari dikejar Bimbim.

   “Cari mainan sendiri dooong,”teriak kak

Mimi dari dalam WC.

   Bunda menghampiri mereka.

   “Aduh, kenapa,sih bertengkar terus,”kata

Bunda.

   “Kak Mimi ledekin Bimbim,” adu

Bimbim.

   “Kak Mimi,di toilet tidak boleh ngobrol,”

kata bunda sambil menarik Bimbim

menjauh.

   “Yuk, Bunda temani main,”kata Bunda.

   Bunda menggeleng, menunjuk sayuran

Yang teronggok di meja dapur.

   “Kita main masak-masakan?”tanya

Bimbim kaget.

   Bunda lalu menyusun sayuran di meja.

Sayuran disusun seperti bentuk gunung.

   “Bunda mau ngajak main tebak benda,”

kata Bunda kalem.

   Bimbim melonjak-lonjak,”lagi, Bunda …

lagi!”

   “Hijau,berdaun banyak,”kata Bunda.

   “Seratus buat Bimbim!”kata Bunda.

   “Nah, sekarang selingan.Kita hitung jumlah

daun bayam.

   “Ih, bagaimana cara

menghitungnya?” Bimbim

bingung.

   “Mudah saja.Daun

bayam dipetik satu per

satu.lalu,masukkan

ke baskom sambil

dihitung,”kata Bunda.

   “Satu…dua…tiga…,” Bimbim menghitung

dengan semangat.

   Bunda tersenyum lega.

   “Eh… eh…lima puluh tiga, Bunda,”

Bimbim menyodorkan baskom berisi daun

bayam.

   Hari itu Bimbim menikmati liburan di

rumah.Esoknya Bunda mengajak Bimbim ke

dapur lagi. Tapi, lama-lama Bimbim kembali

bosan.Untunglah,hari Sabtu tiba.Ayah pun

mengajak jalan-jalan ke kolam renang.

   “Air hangat,”kata Bunda.

   “Hahaha…memang Bunda mau ikut

nyemplung?”

   “Hehehe… tidak,sih.Tapi kalau airnya

dingin,hanya berenang sebentar,”kata

Bunda.

   “Bunda tersipu-sipu,”Dekat kolam renang

air hangat,ada salon ,Lo.”

   “Eiiiiits… Ketahuan!”sahut Ayah.

   Bimbim dan kak Mimi lalu berenang

bersama Ayah. Mereka bermain pelorotan

dan ember tumpah.

   Kak Mimi serasa ingin liburan

selamanya.

   “Bimbim sih, sekolahannya gampang.kalau

sudah kelas tiga susah,tahu!” Kata kak Mimi.

   “Ah,kak Mimi saja yang malas.Masa

cuma beda dua kelas ,susah,”ledek Bimbim.

   Bimbim cuma diam ,tak mengerti.Hari

Ini ia ingin benar-benar menikmati berenang

dan bermain. Sekolah tak akan disebut-sebut,

begitu pula kata kak Mimi.

          ******

   Namun, beberapa hari kemudian…

   “Hiks…hiks…hiks,” terdengar suara

Bimbim terisak-isak.

   “Lo, Bimbim kenapa? sakit?” tanya

Bunda.

   “Bimbim kangen teman-teman.Bimbim

ingin cepat sekolah lagi,”jawab Bimbim.

   Bunda pun kasihan melihatnya.Di

lingkungan ramah Bimbim sepi.Musim

liburan begini ,anak seumuran nya kebanyakan

berlibur ke luar kota.

   Bunda lalu meraih telepon . Bunda akan

memberi kejutan pada Bimbim.Tunggu saja.

   Bimbim keluar kamar dengan gontai.Ah,

paling ini tipuan kak Mimi lagi.

   “Duduuu!” Seru Bimbim kaget.

   Bimbim dan Dudu langsung berpelukan.

   Malam itu Dudu menginap di rumah

Bimbim.Bimbim senang luar biasa.Liburannya tidak membosankan lagi.

                        Teman misterius

   Suasana hari pertama sekolah sangat

ramai.Anak – anak berseliweran mencari kelas

masing-masing.

   Para guru tersenyum melihat anak-anak

heboh mencari kelas.

   Bimbim dan teman-teman digiring ke

lapangan.Mata Bimbim berbinar saat

melihat sosok yang sangat dikenalnya.

   Bimbim paling duluan berlari menuju Bu

Ratih.

   Tapi langkah Bimbim terhenti.

   “Siapa mereka?” tanya Bimbim kepada

Dudu.

   “Kayaknya anak kelas satu,”bisik Dudu.

   Bimbim mundur.Ia berjalan gontai

meninggalkan Bu Ratih yang sibuk dengan

mereka.

   “Sini, barisan kelas kita di sini!”Kata Reza

lagi.

   “Hah?Itu guru kelas kita?” tanya Bimbim

dengan suara keras.

   “Sttt.. iya,katanya

namanya Bu Hannah,”

bisik Reza.

   “Hii,tdk mau,ah.Bimbim ingin

Bu Ratih saja!”Bimbim mengedikkan bahu.

   Sudah capek-capek belajar setahun,masa kelas satu lagi.Tapi,

rasanya Bimbim belum rela berganti guru.

   Bimbim memperhatikan Bu Hannah yg

tdk selincah Bu Ratih.

   Bu Hannah memandang Bimbim takjub,

mereka bernyanyi sambil berpandangan.Bu

Hannah lalu mengambil sesuatu dari saku

baju.Bimbim terlonjak girang.Harmonika!

   Bu Hannah sangat pandai memainkannya.

Bimbim terus bernyanyi.Sementara,teman-teman

bertepuk tangan.

   “Hebat,kamu hafal lagu ini.padahal lagu

ini adalah lagu saat ibu masih kecil,Lo,”kata

Bu Hannah.

   Bu Hannah ternyata kocak ,tdk galak

Seperti yang terlihat. Dan yang terpenting,

pandai menyanyi.

   “Yuk,duduk di belakang lagi,” ajak

Dudu.

   Bimbim mengangguk.

   Tak lama setelah mereka duduk, Ibu kepala

sekolah masuk.Ia berjalan bersama seorang

anak laki-laki jangkung.

   Bimbim dan teman-teman melotot

memperhatikan murid baru yang

berpenampilan aneh itu.

   “Anak bule,” bisik teman-teman Bimbim.

   “Kayaknya anak orang kaya.lihat, terlihat.

sombong begitu,” kata Joni yang duduk di

depan bangku Bimbim.

   “BII , kamu duduk dengan Bimbim ya,”

kata Bu Hannah.

   Bimbim tersentak, Dudu tak kalah kaget.

Lalu, dia duduk di mana, dong?

   Dudu melangkah dengan kesal. Murid

baru tak tahu diri. Masa datang-datang sudah

merebut bangkunya.

   Sementara itu, si anak baru melangkah

dengan santai. Ia langsung duduk di samping

Bimbim.

   Selama pelajaran berlangsung, tak sedikit

pun Bimbim mendengar suara si anak baru.

Bimbim pun malas ngoceh sendiri.

   Bu Hannah membuat guyonan di sela-

sela pelajaran, membuat anak-anak tertawa.

Beberapa kali Bu Hannah juga memperagakan

cara meniup harmonika.

   “Anak yg sangat aneh,” pikir Bimbim.

pelajaran hari itu jadi sangat membosankan.

Sesekali Bimbim melongok kan kepala ke

depan, ke arah Dudu. Dudu

juga tampak loyo tak bersemangat.

                 Be Cak Namanya

   Jam istirahat tiba, Dudu langsung melesat

menghampiri Bimbim.

   “Huh, sombong!” Kata Dudu sambil

menarik tangan Bimbim.

   “Keluar, yuk! Ngapain dekat-dekat anak

sombong itu.”

   Di kantin,Dudu masih mengomel-

ngomel.

   “Si Be Cak itu, anak kaya dan sombong

itu merebut Bimbim,” keluh Dudu.

   “Be Cak?” Bimbim tersenyum geli.

   “Iya… Be Cak kan namanya,” jawab

Dudu.

   “Sepertinya,Bu guru menyebut namanya

Biiii klaaaa … rek ,gitu, ” kata Bimbim.

   Mereka lalu kembali ke kelas. Si anak baru

tetap di bangkunya.

   “Be Cak!” Ulang Riki.

   Dudu terbelalak, “Tuh kan sombong,

dipanggil gk menoleh.”

   Muka anak baru itu memerah,tapi dia

tetap diam saja. Bimbim pun jadi kasihan.

   “Kamu manggil aku?” Akhirnya keluar

juga suara si anak baru.

   Suaranya datar.

   “Iya ,” kata Riki.

   “Namaku Biii … Biii … bukan Be,” katanya

sambil berdiri.

   Tapi Be Cak kembali duduk dan terdiam.

   “Bu, ” panggil Bimbim.

   “Muh … “Jawab B. Clark.

   “Jadi kamu orang mana? ” tanya Bimbim

lagi.

   B. Clark tak menjawab, ia hanya

mengedikkan bahu.

   “Begitulah anak nakal.Rambutnya dicat,

bajunya dibuat compang-camping, ” komentar

Dudu, terngiang lagi di telinga Bimbim.

    Di rumah, Bimbim menceritakan . Clark

kepada Bunda.

   “Muh … Sepertinya, dia nakal dan

sombong, ” kata Bimbim.

   Bunda terperanjat, ” Bimbim kenapa bilang

begitu? Kalian kan baru kenal sehari  .”

   Bimbim lalu bercerita saat Dudu kesal.

Dudu pun marah-marah karena dipindah

duduk dari Bimbim.

   Bunda tersenyum, “ha, Bunda tahu. Dudu

cemburu, tuh.”

   Kak Mimi ikut nimbrung, “Bukannya

cemburu itu jika direbut pacar? “

   “Hihihi … Di kelas empat, teman-teman

Kak Mimi sudah ada yg punya pacar, Lo,”

kata kak Mimi.

   Bunda kaget mendengarnya, “Ah , masa,

sih? “

   Kak Mimi mengedikkan bahu, ” Tidak tahu,

deh.

   Bunda mengangguk, “Anak besar juga.tdk boleh pacaran.”

   “Iya , Bunda rasa Dudu cemburu. Mungkin

iri karena Bimbim mendapat teman baru.

   Bimbim mengangguk-ngangguk. Pantas

saja, Dudu terlihat paling tdk suka pada

B. Clark.

   Esoknya, B. Clark masuk kelas kesiangan.

Setelah pelajaran pertama hampir selesai, ia

baru datang.

   Bu Hannah kaget dengan kedatangan

B. Clark. Matanya sampai melotot.

   Setelah duduk ia mengusap keringatnya

Yang bercucuran.

   Bimbim melirik teman sebangkunya itu.

Pandangannya terlihat heran.

   Sebelum jam pelajaran berakhir, ia sering kali

pulang lebih dulu. Bahkan dengan beraninya,

ia membolos.

   “Tuh, betul kan, dia anak

nakal,” kata Dudu.

   Kali ini Bimbim tdk membantah. Ia tak

bisa lagi membela B. Clark.

   Beberapa kali Bu Hannah

mengingatkan, tapi B. Clark tak bergeming.

   Sebulan sudah B. Clark. menjadi murid

baru. Tapi tak seorang pun akrab dengannya.

B. Clark selalu menghindar, datang terlambat,

pulang buru-buru.

   Pada suatu hari, B. Clark datang lebih

awal. Tidak seperti biasanya. Bimbim kaget.

   Belum habis rasa herannya , Bimbim

di kagetkan suara Riki.

   “Be Cak ulang tahun! ” Seru Riki.

   B. Clark menggeleng , tapi gelengannya

tak terlihat Riki.

   “Hore, hore, hore,” teriak Riki.

   Anak-anak langsun menuju meja B. Clark.

Mereka berkerumun dan menyalaminya.

Anak-anak juga menyerbu makanan di dalam

kardus.

   B. Clark terpana melihat teman-temannya

menghabiskan semua kue.

   “Selamat ulang tahun, Bu,” kata Bimbim.

   “Aku … aku… tidak,” kata B. Clark terbata-

Bata. “Ah, sudahlah!” Katanya sambil meraih

tasnya yang rombeng.

   Sebagai ketua

murid, ia harus bertanggung jawab. Benar

saja Bu Hannah bertanya kepada Bimbim.

   Tapi, Bu Hannah sudah

terbiasa jika BII kesiangan atau bolos

sekolah.

           💐💐💐

                  Be Cak menghilang

   Sudah berhari-hari B. Clark tidak masuk

sekolah.

   Bimbim jadi khawatir. Apakah B. Clark

betul-betul marah karena makanan yang

sudah habis itu?

   Dudu mencibir, ” Dasar  pelit . Segitu aja

marah. Anak manja.”

   “Muh… Kita tanya Bu Hannah saja,” usul

Reza.

   “Eh, ada apa, Anak-anak? Kenapa belum

pulang? ” Tanya Bu Hannah.

   “Oh, murid baru itu?” Kata Bimbim.

   “Iya, ibu juga bingung, berhari-hari bolos

sekolah.

   “Bu,kapan tanggal lahir Biii?” tiba-tiba,

Bimbim bertanya hal lain.

   Bu Hannah terperanjat,alisnya bertaut

Pertanda heran, ” Lo ,kalian mau tanya itu? “

   Bimbim mengangguk.

   “Muh… B. Clark lahir tanggal lima

Januari, ” kata Bu Hannah kemudian.

   “Ooh, jadi bukan Agustus, ya ulang

tahunnya ,” kata Riki .

   “Iya. pasti Bii marah,tuh,” kata Bimbim.

   “Gara-gara Riki ,sih,” kata Dudu.

   “Ah, kamu juga bilang, Be Cak mau nraktir

kita,” bantah Riki.

   “Hei…hei.. ada apa ini ?” Sela Bu

Hannah.

   Bimbim pun menceritakan kejadian tempo

hari kepada Bu Hannah.

   “Ooh, begitu, ya.

   “Kita ke rumahnya saja, Bu,” usul

Bimbim.

   “Oh, itu ide bagus.

   “Aku boleh ikut?” Tanya Dudu.

   Bu Hannah mengangguk ,” Boleh,tapi

Minta izin dulu kepada ibumu.”

                ***

   Sepulang sekolah, Bimbim menceritakan

rencana besok kepada Bunda.

   “Bunda antar, deh,” ujar Bunda tiba-tiba.

   “Asiiik, makasih, Bunda, ” Bimbim memeluk

Bunda.

   Tapi, esoknya, B. Clark ternyata tidak

masuk lagi.

   Akhirnya, siang itu Bimbim diantar kak

Mimi dan Bunda bersama Bu Hannah, Dudu,

dan beberapa teman yg lain, berangkat

menuju rumah B. Clark.

   Bunda menyetir mobil. Bu Hannah duduk

di samping Bunda. Anak-anak berimpit-

impitan di kursi belakang.

   “Di belakang kompleks Angsana,” kata

Bu Hannah.

   “Oh, kalau begitu dekat,” kata Bunda.

   Mobil Bunda melaju lambat memasuki

kompleks Angsana.  Beberapa kali mereka

berhenti untuk menanyakan arah jalan.

   “Aduh, di mana ya,” kata Bu Hannah.

   Bunda mengusulkan untuk beristirahat

dulu.

   “Nah, ada warung. Jajan dulu ,yuk,” ajak

Bunda.

   “Segaaar,” kata Bimbim.

   Bunda dan Bu Hannah lalu bertanya

kepada pemilik warung.

   “Ooh, gang itu?” tanya Bunda

memastikan.

   Pemilik warung mengangguk.

   Rombongan Bimbim berjalan beriringan

melalui gang sempit.

   “Ih, rumah Be Cak di sini? “Dudu

mengernyitkan alis.

   “Kan anak orang kaya,” ledek Bimbim.

   Dudu tersipu malu.

   Bimbim dan teman-teman merasa heran.

Suasana lingkungan rumah B. Clark benar-

benar di luar bayangan mereka.

   Rumah-rumah kecil berimpitan,

jendela-jendelanya gelap oleh debu.

   “Masa , sih rumah B. Clark di sini,” bisik

Riki.

   Bimbim mengedikkan bahu,” Jika betul di

sini, kita harus minta maaf,” kata Bimbim.

   “Nah, kita sudah sampai di lingkungan RT-

nya ,” kata Bu Hannah.

   Bu Hannah lalu menanyakan B. Clark ke

penduduk setempat.

   “Oh, anak bule itu?” Tanya seorang ibu

berbaju merah.

   Bu Hannah mengangguk.

   “Itu rumahnya ,yg ada gerobak,”

katanya.

   Bu Hannah mendekati rumah itu. Ia pun

mengetuk pintu berkali-kali, tapi tak ada

jawaban.

   Ibu berbaju merah lalu berseru, “Buka aja

pintunya,ada nenek si bule ,kok.”

   “Bii … Bii … Itu kamu?” Tanya ibu tua

lirih.

   Bu Hannah dan Bunda berpandangan.

   “Saya ibu guru B. Clark, Bu, kata Bu

Hannah pelan.

   Ibu tua membuka mata pelan,ia mencoba

bangkit.

   “Uhuk … Uhuk … Oh, Ibu Guru, “

katanya.

   “Mhh … Maaf, Ibu siapanya Bii?” Tanya

Bu Hannah.

   Si ibu tua tersenyum, “semua orang

heran.”

   “Ayah BII seorang bule . Tapi sejak lahir,

Ia tak pernah bertemu ayahnya.

   Bu Hannah dan Bunda manggut-

manggut.

   “Lalu, Ibu Bii mana?” Tanya Bu Hannah.

   Ibu tua tercenung, matanya tampak berkaca-

kaca, ” Di rumah sakit.

   Bimbim dan teman-teman ikut sedih

mendengar kisah pilu B. Clark.

   Dudu dan Riki menunduk sedih. Mereka

sudah mengejek Bii. Tidak hanya itu, namanya

juga diganti menjadi Be Cak.

   Selama ini Bii kesiangan kerena merawat

neneknya yang sakit. Lalu, mengantarkan

dagangan terlebih dahulu.

   Tempo hari, Bii sedang jenuh. Ia ingin

sesekali datang tepat waktu. Bii berencana

menawarkan kue-kue ke kantin sekolah atau

menjualnya ke teman-temannya. Tapi, di luar rencana, teman-teman justru memakan

kue-kue dagangannya.

   “Oh, pantas sering terlambat masuk,”

kata Bimbim.

   Nenek B. Clark mengusap air mata,

  “Bukan hanya karena itu, Nak.

   “Dia bersemangat untuk terus sekolah

meskipun sering terlambat, ” jawab si

Nenek.

   Bu Hannah menyangka kenakalan B. Clark seperti anak

yg lain. Mungkin hanya kaget dengan kelas

barunya. Tapi, ternyata bukan.

                Oooh, Ternyata…

   “Ka … Kalian!” B. Clark tiba-tiba masuk

rumah.

   B. Clark terperanjat. Ibu Guru dan teman-

teman datang ke rumahnya.

   “Biii!” Panggil Bimbim.

   Tapi B. Clark tak menoleh , ia terus berlari

dan berlari.

   “Mungkin ia masih marah, ” kata Dudu

sedih.

   “Biarkan saja, ” kata nenek B. Clark

menenangkan.

   “Tak apa-apa. Bii paling-paling pergi

ke sungai. “

   “Oh, apakah sungai tempat kesukaan Bii?”

Tanya Bimbim .

   Bu Hannah dan Bunda memberi obat

kepada Nenek B. Clark. Bimbim dan teman-teman

mengamati sekeliling rumah B. Clark.

   “Mhh … Be Cak lama,yah, ” celetuk Didi,

“Heh, masih memanggil dengan nama

itu!” tegur Bimbim.

   Bimbim juga sudah bosan menunggu,

“Kita susul aja, yuk!”

   “Ayo!” Sambut kak Mimi bersemangat.

   Kak Mimi memang hobi jalan-jalan apalagi

ke tempat baru.

   Bu Hannah berdiri, “ibu antar saja, nanti

kalian nyasar.”

   “Dekat, kok. Bu,” kata nenek

B. Clark.

   Bimbim, Riki,dan kak Mimi bersama

Bu Hannah mencari B. Clark ke sungai.

   Serempak , Bimbim dan teman-teman

menjerit. Dada mereka berdegup kencang.

   “Jangaaan … Jangan ! ” Teriak Bimbim.

   Kak Mimi ikut berteriak, “Bii, jangan!”

   “Biii maafkan kami!” Kata Riki tak kalah

kencang.

   “Kami sayang kamu , Bii, ” Bimbim mulai

terisak.

   “Bahaya … bahaya .. ,” teriak kak Mimi.

   “Apanya yg bahaya ?” tanya B. Clark.

   “Kamu mau nyebur ke sungai, kan?” tanya

Riki.

   “Ehe? ” B. Clark makin bingung.

   “Tidak bahaya. Setiap hari saya nyebur

sungai ,kok.”

   “Hehehe … bukanlah. Aku tidak sedang

berputus asa. Aku cuma mau mandi.

   “Aku … aku … sangat senang kalian

berkunjung, ” kata B. Clark.

   “Kami pun senang. Maafkan kami, tidak

tahu keadaanmu yg sebenarnya, ” kata Bu

Hannah.

   “Kenapa kamu tidak bercerita? ” Bimbim

menepuk pundak B. Clark.

   “Ah, kalau aku bercerita, mana ada yg

percaya ,” kata B. Clark

   B. Clark tersipu-sipu, “ah kalian, gak

tanya dulu.”

   “Iya,iya … maafkan aku. Nanti semua

anak yg sudah makan kuemu , kuminta

mengganti,deh , ” kata Riki.

   Bu Hannah lalu meminta B. Clark

meneruskan usaha berjualan kue-kue.

   Sedang asyik mendiskusikan kue, tiba-tiba

sebuah suara mengejutkan mereka.

   “Byuuuur! “

   “Apa itu? ” Bu Hannah terlonjak kaget.

   “Kak Mimiii! ” Jerit Bimbim.

   Tampak kak Mimi sudah mencebur ke

sungai.

   “Sini … sini … airnya segar benar! ” Seru

kak Mimi dari sungai.

   “Hah? ” Bimbim bengong melihat kelakuan

Kak Mimi.

   “Byur! ” Bimbim pun ditarik ke sungai.

   “Hip … hup!” Bimbim kaget.

   Namun , tak lama kemudian terdengar

suara tawanya.

   Bunda yg baru saja menyusul, melotot

kaget.

   “Aduh, Anak-anak,ikut mencebur ke

sungai juga. Kalian kan tdk bawa baju

ganti! “

   Apa boleh buat,mereka nanti pulang

dengan baju basah kuyup.

              💐💐💐

Kelas VII 9