Berburuk Sangka

      Sudah lebih dari 5 bulan virus Covid-19 menyebar luas di Indonesia. Virus ini banyak mengakibatkan dampak buruk seperti ekonomi masyarakat yang terhambat dan juga mematikan banyak orang yang terjangkit Covid-19.

       Di suatu hari terdapat seorang perantau yang bernama Disa, ia merantau di Jakarta dan tidak bisa pulang karena Covid-19 ini. Disa sedih karena dia sangat rindu dengan keluarganya,tetapi tidak bisa pulang menemuinya. Akhirnya, setelah pemikiran panjang ia memutuskan untuk pulang.

       Persyaratan – persyaratan yang sangat banyak,ia lalui agar bisa pulang dan bertemu keluarganya. Mulai dari surat keterangan sehat sampai karantina di kampung tempat keluarganya tinggal selama 14 hari ia lalui. Hambatan serta hambatan ia lalui dengan sabar agar ia bisa menemui keluarganya.

       Tepat setelah 14 hari karantina,tiba waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Akhirnya,ia bisa menemui keluarganya. Keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Keluarga yang sangat ia rindukan. Ia pun pergi ke rumah, mandi dan bersih-bersih diri untuk menghilangkan virus-virus dari luar.

       Hari demi hari Disa lewati bersama keluarganya dengan senang. Hingga suatu hari,”Disa tolong belikan ibu gula di warung Bu Parmi,”pinta Ibunya. “Iya Bu” balas Disa. Saat Disa melewati rumah salah satu warga ia melihat ada sekumpulan Ibu-Ibu yang sedang berkumpul disalah satu rumah warga. Disa mendengar salah satu dari Ibu-Ibu itu berkata “Ibu-Ibu tau Disa nggak?Saya dengar dia positif Covid-19. Hati-hati deh nanti kalau ada dia kita bisa tertular.” “Disa?Oh yang anaknya Bu Darmi itu? Katane,Disa iku merantau di Jakarta terus nekat pulang kampung padahal kan Covid-19 belum mereda,”sahut Bu Nani dengan logat jawanya.

       Disa masih mendengarkan celotehan mereka tentang dirinya lama-kelamaaan pembicaraan Ibu-Ibu itu semakin pedas dia sudah tidak tahan untuk mendengarkannya lagi,Disa lari sekencang-kencangnya menuju rumah dengan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata yang siap meluncur ke pipi mulusnya.”Loh Disa kok lari-lari, terus mana gulanya?Kenapa kamu nangis nak? ” Tanya Ibu kepada anak kesayangannya tersebut.”Bu aku dibicarakan tetangga-tetangga, waktu aku mau beli gula aku melewati rumah Bu Dian disana Ibu-Ibu itu berkumpul dan membicarakan Disa katanya Disa positif Covid-19″Jawab Disa sambil nangis sesenggukan karena perkataan Ibu-Ibu itu yang sangat pedas tentang dirinya. Ayah Disa datang dari dapur lalu menyahuti “sudahlah nak nggk usah nangis lagi kamu juga tau kan Ibu-Ibu itu sering nggosip wong tanpa tau sing sebenernya.”

       Keesokan harinya, Disa kembali ceria.Dia mulai beraktivitas di pagi hari seperti menyapu rumah,mencuci piring, mencuci baju, dll. Setelah semua itu selesai dia kerjakan dia membantu ibunya memasak di dapur sedangkan ayahnya membaca koran di ruang tamu tiba-tiba ada suara gaduh di luar rumah Disa. Ayah, ibu, Disa keluar rumah ternyata di halaman ruma Disa banyak warga yang berkumpul baik perempuan maupun laki-laki. Salah satu Ibu-Ibu berkata “usir dia dari kampung ini, dia pembawa virus di kampung ini.” “Usir dia, usir dia” sahut warga dengan kompak. Di tengah-tengah kegaduhan warga tiba-tiba Pak RT datang,”ada apa ini kok rame-rame? ” salah sartu warga berucap,”itu pak Disa positif covid-19 usir saja dia dari kampung ini dia pembawa virus.”  “pak  saya tidak terpapar virus covid-19 tunggu sebentar saya ambilkan surat kesehatan saya,” jawab Disa. Setelah beberapa saat akhirnya Disa keluar dari rumah dengan membawa secarik surat yang berisi tentang tes kesehatan.”ini pak suratnya, tolong Bapak baca dengan seksama,”ujarDisa. Pak RTmengambil surat tersebut dan membaca dengan seksama,disurat tersebut menyatakan bahwa Disa sehat tidak mempunyai penyakit ataupun virus yang dapat menulari warga.”Sebelum saya pulang ke rumah, saya juga dikarantina untuk membuktikan saya tidak terpapar covid-19 dan saya dalam keadaan sehat saat pulang ke rumah, karena saya dari luar kota,”tambah Disa.”Bapak-Bapak, Ibu-Ibu disini juga sudah tertulis bahwa Disa negatif Covid-19 dan tidak mempunyai penyakit apapun, jadi Bapak dan Ibu sekalian telah salah paham terhadap Disa,”terang Pak RT. “Makanya Ibu-Ibu,Bapak-Bapak tolong cari tau dulu kenyataannya baru berbicara. Terbuktikan anak saya sehat tidak mempunyai penyakit apapun,”sahut ibu Disa. Salah satu ibu-ibu warga berkata”maafin kami nak Disa, kami telah menuduh kamu positif covid-19.” “Iya nak tolong maafkan kami,kami tidak mencari tau kenyataan nya dulu,”sahut semua warga “saya maafkan bapak-bapak ibu-ibu saya berharap tidak ada fitnah seperti ini lagi di kampung kita,”jawab Disa. “Sekarang semua bubar!” perintah pak RT, semua warga bubar untuk pulang ke rumah masing-masing. “Maafkan warga-warga ya nak Disa,”ujar Pak RT. “Iya Pak RT. Tidak apa-apa, saya juga paham bahwa warga takut dengan pendatang seperti saya, karena virus Covid-19 ini memang sangat menakutkan,” jawab Disa. “Kita semua juga hrus waspada, karena seperti yang kita tahu, virus ini mampu memporak porandakan bangsa Indonesia sampai bisa seperti sekarang ini,” tambah Disa.”Iya nak, benar.Tapi perbuatan seperti itu juga tidak baik.Sekali lagi, atas nama warga saya meminta maaf ya nak Disa,”kata Pak RT.”Iya Pak,”ujar Disa. Kemudian, Pak RT pamit untuk segera pulang. Setelah kejadian itu tidak ada lagi yg membicarakan tentang Disa dia hidup tenang di halaman kampung rumahnya.

Kelas IX-2