Antara Pena dan Pedang

       Pada tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesisch Club Gebaouw, Jalan Kramat Raya 106, sejumlah pemuda Indonesia mengikrarkan dirinya sebagai putra-putri yang Bertumpah Darah Satu, Berbangsa Satu, dan Berbahasa Satu. Pernyataan yang disampaikan dalam sidang Pleno ketiga, Kongres Pemuda kėdua yang dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito ini, kemudian menghasilkan keputusan penting yang disebut Sumpah Pemuda. Kemudian Sumpah Pemuda diakui sangat besar peranannya dalam memberi arti terhadap perjuangan bangsa Indonesia di masa berikutnya.Memasuki era itu, sudah jelas bangsa ini membutuhkan persiapan tersendiri, khususnya dalam membangun landasan yang kuat dan kokoh. Secara umum, kita sudah sama-sama yakin bahwa tujuan utama dari pembangunan bangsa ini adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya. Mengenai seorang pemimpin,kapan seorang pemimpin itu lahir? Secara sosiologis, kelahiran seorang pemimpin bisa kita pilah lewat dua proses. Pertama, lahir lewat proses pencapaian pribadi. Yang kedua, adalah mereka yang lahir dengan posisi simbolik. Untuk memilih seorang pemimpin memang tidak semudah yang dibayangkan. Karena, sebagaimana hukum alam, semakin maju sebuah masyarakat, akan semakin kompleks tuntutannya terhadap kualitas pemimpinnya. Pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang mengabdi untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya. Pengabdi yang seperti ini adalah mereka yang menjalankan sesuatu dengan tulus,tanpa berpikir apa kelanjutan setelah sukses melakukan tugasnya nanti. Seorang pengabdi masyarakat,bangsa,dan negara biasanya akan kuat sense of measurenya, sehingga dia sangat paham terhadap aturan, tahu batas, dan tahu akan hal-hal yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Di masa demokrasi liberal, banyak pemimpin masyarakat yang masih terpengaruh dengan pola barat. Di masa orde baru pun mereka tidak luput dari tudingan, dan bahkan banyak yang mengolok-olok anggota dewan dengan kata ABS (asal bilang setuju) dan masih banyak lagi. Hal itu akan memicu terjadinya kekerasan dan kejahatan. Siapa yang suka kekerasan dan kejahatan? Tidak seorang pun sudi menyatakan suka, karena kekerasan bertentangan dengan hak asasi manusia. Hal ini wajar-wajar saja,sebab manusia sekarang sudah berada pada derajat yang beradab. Yang memposisikan akhlak sebagai bagian yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari. Maka tidak heran jika kekerasan terjadi di masyarakat, maka pandangan semua kalangan akan menghujatnya sebagai suatu yang tidak sesuai dengan aspek naluriah. Meningkatnya serangkaian kejahatan  di sekeliling kita, rasanya memang patut diberi perhatian khusus dari masyarakat. Baik itu melalui sikap waspada, dengan tidak memancing munculnya kejahatan, sampai dengan sikap pembinaan dalam. Tidak semua orang sanggup melakukan pencegahan secara objektif. Hal ini memang bukan masalah besar, sebab ini adalah hal yang sangat manusiawi. Ketidakmampuan tersebut terbangun secara kolektif, dalam jangka waktu tertentu, bukan mustahil jika menimbulkan ketegangan tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Kalimat tua pernah menyatakan bahwa “Pena itu lebih tajam dari pedang”. Tanpa kita sadari, kalimat tersebut memberi isyarat bahwa sebuah tulisan memiliki kekuatan dan pengaruh yang dahsyat terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan. Pertama, karena derajat pemahaman penafsiran terhadap isi  sebuah tulisan mulai beragam, apalagi di masa media yang sangat majemuk. Kedua, karena sebuah tulisan bisa berperan dalam mempengaruhi jalan pikiran orang lain. Ketiga, karena sebuah tulisan di media massa cenderung dipahami oleh masyarakat sebagai sebuah informasi yang kurang lebihnya dipandang objektif. Tiga hal diatas, sesungguhnya merupakan sebagian dari sederet peran yang bisa memperlihatkan betapa tajamnya peran sebuah “pena” dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Apalagi dalam dunia seperti sekarang ini, dimana dunia sudah dikuasai oleh kecanggihan teknologi, kecenderungan untuk memanipulasi dan memanfaatkan kondisi tertentu untuk kepentingan diri dan kelompoknya semakin besar. Misalnya saja dalam hal kekuasaan, pangkat, dan jabatan. Sudah terlalu sering kita mendengar pemimpin masyarakat tertentu memainkan fantasi orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri lewat pangkat, jabatan, dan kekuasaannya . Kenyataan seperti itu sungguh patut menjadi perhatian kita bersama. Sebab, berkembangnya budaya manipulatif akan mendorong orang untuk menempatkan isu atau desas-desus sebagai sebuah kekuatan tersendiri yang sering mengalahkan informasi yang sebenarnya. Maka dari itu, sebuah tulisan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan dimana kecanggihan teknologi yang semakin berkembang dan fantasi orang lain sedang dipermainkan hanya untuk kepentingan seorang pemimpin masyarakat.